HEDONISME

Published Mei 5, 2012 by purplenitadyah

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

Disinyalir Hedonisme telah erat melekat dalam hidup kita. Kelekatan itu berupa seringnya kita terjebak dalam pola hidup Hedonis. Pola hidup seperti ini mudah kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari. Dimana orientasi hidup selalu diarahkan pada kenikmatan, kesenangan atau menghindari perasaan-perasaan tidak enak.

Manusiawi memang tatkala manusia hidup untuk mencari kesenangan, karena sifat dasar manusia adalah ingin selalu bermain (homo ludens = makhluk bermain) dan bermain adalah hal hakiki yang senantiasa dilakukan untuk memperoleh kesenangan. Akan tetapi bukan berarti kita bisa dengan bebas dan brutal mendapatkan kesenangan, hingga menghalalkan berbagai cara demi memperoleh kesenangan.Sikap menghalalkan segala cara untuk memperoleh kesenangan telah banyak menghinggapi pola hidup para remaja saat ini.Sebagai contohnya,remaja yang suka ML ( making love-bercinta ) atas dasar senang-senang saja. Ternyata luar biasa infiltrasi budaya liberal sehingga berhasil mencengkram norma-norma kesusilaan manusia. Tidak salah lagi ini suatu propaganda yang sukses mengakar dalam jiwa-jiwa pemuja hedonisme. Namun ironisnya, mereka para pemuja kesenangan dunia semata, tak menyadari bahwa hal yang dilakukannya adalah perilaku hedon.

Contoh yang kita hadapi saat ini misalnya, segala media informasi dari berbagai penjuru berusaha terus menginvasi diri kita melalui life style. Gaya hidup yang terus disajikan bagaikan fast food melalui media televisi. Gambaran yang ada seperti mimpi tentang kehidupan orang miskin yang tiba-tiba kaya layaknya dalam telenovela. Sinetron cinta yang terus mengguyur dan memprovokasi kita untuk merealisasikan cinta lewat bercinta membuat kita gila dan terbuai kehidupan duniawi. Cerita sinetron yang kian jauh dari realita ternyata telah menyihir para pemirsa. Dengan setengah sadar para penikmat sinema telah tergiring untuk meniru dan menjadikannya paradigma baru dalam menikmati hidup di masa muda.

Dan ketika Hedonisme sudah menjadi pegangan hidup para muda mudi banyak nilai-nilai luhur kemanusiaan para remaja luntur, bahkan hilang. Kepekaan sosial mereka terancam tergusur manakala mereka selalu mempertimbangkan untung rugi dalam bersosialisasi. Masyarakat terlihat seperti mumi hidup yang tak berguna bagi mereka. Dan mereka seolah menjadi penjaga kerajaan kenikmatan yang tak seorangpun boleh mengendus apalagi mencicipinya. Orang lain hanya boleh melongo melihat kemapanan mereka.Sungguh mereka menjadi sangat tidak peduli. Akibatnya ketika ada orang yang membutuhkan uluran tangan, mereka menyembunyikan diri dan enggan berkorban.

1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, kami merumuskann masalah yang dibahas sebagai berikut:

  1. Bagaimana Hedonisme di kalangan remaja?
  2. Apa akar masalah dan penyebab dari hedonisme?
  3. Apa akibat dari hedonisme yang menyebabkan kemiskinan?
  4. Bagaimana cara penyelesaian masalah hedonisme yang menyebabkan kemiskinan?

1.3  Tujuan Penulisan

  1. Mengetahui bagaimanakah hedonisme di kalangan remaja
  2. Mengetahui akar dan sebab masalah dari hedonisme
  3. Mengetahui akibat dari hedonisme yang menyebabkan kemiskinan
  4. Mengetahui bagaimana cara menyelesaikan masalah hedonisme yang menyebabkan kemiskinan

1.4. Metodologi

Dalam penulisan makalah ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan menggunakan kajian pustaka yaitu mengambil informasi dari berbagai sumber baik itu dari elektronik maupun buku-buku.

1.5 Sistematika Penulisan

 

Penulisan makalah ini menggunakan sistematika penulisan sebagai berikut:

Bab I   Pendahuluan terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, metodologi, dan sistematika penulisan.

Bab II   Kajian pustaka

Bab III   Pembahasan terdiri dari Hedonisme, akar dan sebab masalah dari    hedonisme, akibat dari hedonisme yang menyebabkan kemiskinan, bagaimana cara menyelesaikan masalah hedonisme

Bab IV Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

2.1    Hedonisme

Hedonisme adalah paham sebuah aliran filsafat dari Yunani. Tujuan paham aliran ini, untuk menghindari kesengsaraan dan menikmati kebahagiaan sebanyak mungkin dalam kehidupan di dunia. Kala itu, hedonisme masih mempunyai arti positif. Dalam perkembangannya, penganut paham ini mencari kebahagiaan berefek panjang tanpa disertai penderitaan. Mereka menjalani berbagai praktik asketis, seperti puasa, hidup miskin, bahkan menjadi pertapa agar mendapat kebahagiaan sejati. Namun, pada waktu kekaisaran Romawi menguasai seluruh Eropa dan Afrika, paham ini mengalami pergeseran ke arah negatif dalam semboyan baru hedonisme. Semboyan baru itu, carpe diem (raihlah kenikmatan sebanyak mungkin selagi kamu hidup), menjiwai tiap hembusan napas aliran tersebut. Kebahagiaan dipahami sebagai kenikmatan belaka tanpa mempunyai arti mendalam.

Hedonisme menurut Pospoprodijo (1999:60) kesenangan atau (kenikmatan) adalah tujuan akhir hidup dan yang baik yang tertinggi. Namun, kaum hedonis memiliki kata kesenangan menjadi kebahagiaan. Kemudian Jeremy Bentham dalam Pospoprodijo (1999:61) mengatakan bahwasanya kesenangan dan kesedihan itu adalah satu-satunya motif yang memerintah manusia, dan beliau mengatakan juga bahwa kesenangan dan kesedihan seseorang adalah tergantung kepada kebahagiaan dan kemakmuran pada umumnya dari seluruh masyarakat. Adapun hedonisme menurut Burhanuddin (1997:81) adalah sesuatu itu dianggap baik, sesuai dengan kesenangan yang didatangkannya. Disini jelas bahwa sesuatu yang hanya mendatangkan kesusahan, penderitaan dan tidak menyenangkan, dengan sendirinya dinilai tidak baik. Orang-orang yang mengatakan ini, dengan sendirinya, menganggap atau menjadikan kesenangan itu sebagai tujuan hidupnya.

Menurut Aristoteles dalam Russell (2004:243) kenikmatan berbeda dengan kebahagiaan, sebab tak mungkin ada kebahagiaan tanpa kenikmatan. Yang mengatakan tiga pandangan tentang kenikmatan: (1) bahwa semua kenikmatan tidak baik; (2) bahwa beberapa kenikmatan baik, namun sebagian besar buruk; (3) bahwa kenikmatan baik, namun bukan yang terbaik. Aristoteles menolak pendapat yang pertama dengan alasan bahwa penderitaan sudah pasti buruk, sehingga kenikmatan tentunya baik. Dengan tepat ia katakan bahwa tak masuk akal jika dikatakan bahwa manusia bisa bahagia dalam penderitaan: nasib baik yang sifatnya lahiriyah, sampai taraf tertentu, perlu bagi terwujudnya kebahagiaan. Ia pun menyangkal pandangan bahwa semua kenikmatan bersifat jasmaniah; segala sesuatu mengandung unsur rohani, dan kesenangan mengandung sekian kemungkinan untuk mencapai kenikmatan yang senantiasa kenikmatan yang tinggal dan sederhana. Selanjutnya ia katakan kenikmatan buruk akan tetapi itu bukanlah kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang yang baik, mungkin saja kenikmatan berbeda-beda jenisnya dan kenikmatan baik atau buruk tergantung pada apakah kenikmatan itu berkaitan dengan aktivitas yang baik atau buruk.

Honis O. Kallsoff dalam Soerjono Soemardjo (1996 : 359) manusia dalam kenyataannya mencari kenikmatan (hedonisme psikologis) dengan prinsip yang mengatakan bahwa mausia seharusnya mencari kenikmatan (hedonisme etis). Disini jelas bahwa hedonisme ialah perbuatan yang diantara segenap perbuatan yang dapat dilakukan oleh seseorang akan membawa orang tersebut merasakan kebahagiaan yang sebesar-besarnya.

BAB III

PEMBAHASAN

2.1              Hedonisme di kalangan remaja

“Virus”hedon tidak hanya menyerang orang dewasa yang sudah bekerja. Dari anak hingga orang tua tak luput dari ancaman virus ini.Anak punya kecenderungan hedonistis.Akibat kodrat biologis dan belum jalanya daya penalaran, anak harus bergantung pada ibu atau orang lain.Minum dibuatkan, makan disuapin, jalan jauh merengek minta gendong.Ia menggantungkan hidupnya pada orang lain karena memang ia belum sanggup mengerjakan sendiri.Ia hanya ingin nyaman dan nikmat Hedonis?Ya,tapi lebih tepat disebut hedonis secara biologis.Bersama dengan berjalannya waktu dan proses sosialisasi,ia akan mulai punya kesadaran dan kemampuan menentukan pilihan.Nah,kalau ia sudah sampai pada taraf kesadaran seperti itu namun tetap bersikap”kebayi-bayian”seperti tadi,barulah ia disebut hedonis.

Generasi yang paling tidak aman terhadap sebutan hedonis adalah remaja.Paham ini mulai merasuki kehidupan remaja. Remaja sangat antusias terhadap adanya hal yang baru. Gaya hidup hedonis sangat menarik bagi mereka. Daya pikatnya sangat luar biasa, sehingga dalam waktu singkat munculah fenomena baru akibat paham ini.Fenomena yang muncul, ada kecenderungan untuk lebih memilih hidup enak, mewah, dan serbakecukupan tanpa harus bekerja keras. Titel “remaja yang gaul dan funky ” baru melekat bila mampu memenuhi standar tren saat ini.Yaitu minimal harus mempunyaihandphone, lalu baju serta dandanan yang selalu mengikuti mode. Beruntung bagi mereka yang termasuk dalam golongan berduit, sehingga dapat memenuhi semua tuntutan kriteria tersebut.Akan tetapi bagi yang tidak mampu dan ingin cepat seperti itu, pasti jalan pintaslah yang akan diambil. Tidaklah mengherankan, jika saat ini muncul fenomena baru yang muncul di sekitar kehidupan kampus..Misalnya adanya “ayam kampus” ( suatu pelacuran terselubung yang dilakukan oknum mahasiswi ), karena profesi ini dianggap paling enak dan gampang menghasilkan uang untuk memenuhi syarat remaja gaul dan funky.

Hidup adalah kesempatan untuk bersenang-senang bagi mereka. Masa bodoh dengan kuliah, yang penting have fun tiap hari. Hal ini bisa dianggap sebagai efek fenomena free sex yang melanda kehidupan kaum muda sekarang.Sudah tentu, jika anggapan tentang seks bebas diterapkan ke tengah-tengah pergaulan remaja, pastilah tidak etis. Sebab, bangsa kita menganut adat-istiadat timur yang menganggap seks sebagai hal yang sakral.Kemudian contoh kasus lain lagi, yaitu praktik jual beli nilai di kampus yang sekarang sedang merebak. Jika dilihat lebih jauh, ternyata itu juga dampak dari gaya hidup hedonis yang melahirkan adanya mentalitas instan.

Segalanya bisa diperoleh dengan uang dan kekuasaan. Bila demikian, otomatis semua urusan beres. Akhirnya, semboyan non scholae sed vitae discimus (belajar untuk bekal dalam menjalani kehidupan) pudar dan menghilang. Karena yang diutamakan bukan proses melainkan hasil. Jika bisa memperoleh hasil dengan cara simpel walaupun salah, mengapa tidak dilakukan? Untuk apa kita harus melalui proses panjang dengan pengorbanan, kalau hasilnya sama.

Tak terasa, tapi efeknya tak terduga, paham hedonisme terus berlangsung dan merasuk ke dalam benak masyarakat kita tanpa ada tindakan pencegahan. Salah satu contoh kasusnya adalah acara-acara hedonisme yang berkedok mencari bibit-bibit penyanyi berbakat.Acara ini sangant diminati terutama para remaja.Bila dilihat secara jeli ternyata acara tersebut menawarkan gaya hidup yang tidak jauh dari konsep Hedonisme. Acara ini tentunya membutuhkan biaya yang banyak untuk memfasilitasi para kontestannya, tapi bila melihat keadaan bangsa kita yang sedang morat-marit ekonominya, dapat disimpulkan ada dua kondisi yang kontradiksi, disatu sisi lain keadaan perekonomian bangsa sedang krisis tapi acara menghambur-hamburkan uang semakin marak. Aneh memang, banyak warga Indonesia yang miskin, tidak punya rumah, gedung sekolah yang hampir roboh, tunjangan pegawai yang kecil, dan jumlah pegangguran yang membludak, tapi hal ini tidak membuat para peserta acara yang sebagian besar adalah remaja tersebut prihatin atau menangis tersedu-sedu, mereka malah sedih dan mengeluarkan air mata bila rekan seperjuangannya tereleminasi.Nampak jelas sikap egoisme dan sikap mengejar kesenangan pribadi mereka. Ini adalah bukti hedonisme yang banyak menjadi impian anak-anak muda di negeri Seribu satu masalah ini.

  1. A.    Hedonisme di kalangan remaja dalam ilmu sosial

Hedonisme terjadi karena adanya perubahan perilaku pada masyarakat yang hanya menghendaki kesenangan.Perilaku tersebut lama kelamaan mengakar dalam kehidupan masyarakat termasuk para remaja yang pada akhirnya menjadi seperti sebuah budaya bagi mereka tingkat pengetahuan dan pendidikan juga sangat berpengaruh pada pembentukan sikap mental para remaja.Tapi sayangnya kadang semua hal itu terkalahkan dengan rendahnya cara berfikir mereka dalam menyikapi berbagai persoalan.Banyak diantara para remaja yang melarikan diri dari masalah dengan berhura-hura.Kebiasaan seperti inilah yang kemudian menjadi kebudayaan di kalangan remaja.

Dalam identifikasi mentalitas budaya yang dikemukakan Sorokin, sikap hedonisme yang telah menjadi budaya hedon di kalangan remaja dimasukkan dalam kebudayaan indrawi, yaitu kebudayaan indrawi pasif dan kebudayaan indrawi sinis.

  1. Kebudayaan indrawi pasif yang meliputi hasrat menikmati kesenangan indrawi setinggi-tingginya (“eksplorasi parasit” ,dengan motto makan minum dan kawinlah sebab besuk kita akan mati).Pola pikir seperti itulah yang mengajak para remaja hanya bersenang-senang selagi ada kesempatan,seakan-akan hidup hanya”mampir”karena itulah mereka hanya mengejar kesenangan,padahal masih banyak hal yang bernilai dalam hidup ini selain makan minum dan bersenang-senang saja.
  2. Kebudayaan indrawi sinis,yang mengejar tujuan jasmaniah dengan mencari pembenaran rasionalisasi ideasional ( yang sebenarnya tidak diterimanya ).Banyak hal yang dilakukan para remaja untuk mencapai apa yang diinginkannya,misal : seorang remaja putri ingin mempunyai telepon genggam model terbaru tapi karena dia tidak mempunyai uang maka dia rela menjual dirinya agar memperoleh uang.Remaja tersebut membenarkan tindakannya karena dengan cara itu dia memperoleh apa yang diinginkannya.

Hedonisme dikalangan remaja apabila ditinjau dari ilmu sosial akan lebih mudah dipahami diantaranya :

  1. Sejarah

Hedonisme adalah paham sebuah aliran filsafat dari Yunani. Asumsi awal dari faham ini adalah manusia selalu mengejar kesenangan hidupnya, baik jasmani atau rohani. Pencetus faham ini Aristipos dan Epikuros.Tujuan paham aliran ini, untuk menghindari kesengsaraan dan menikmati kebahagiaan sebanyak mungkin dalam kehidupan di dunia. Mereka melihat bahwa manusia melakukan setiap aktivitas pasti untuk mencari kesenangan dalam hidupnya. Dua filosof ini menganut aliran yang berbeda. Bila Aris lebih menekankan kepada kesenangan badani atau jasad seperti makan, minum, dll, Epikuros lebih menekankan kepada kesenangan rohani seperti bebas dari rasa takut, bahagia, tenang batin dll. Namun, kedua-duanya berpendapat sama yaitu kesenangan yang diraih adalah kesenangan yang bersifat privat atau pribadi (egoisme) tapi diperlukan juga aspek lain yaitu pengendalian diri.

Kala itu, hedonisme masih mempunyai arti positif. Dalam perkembangannya, penganut paham ini mencari kebahagiaan berefek panjang tanpa disertai penderitaan. Mereka menjalani berbagai praktik asketis, seperti puasa, hidup miskin, bahkan menjadi pertapa agar mendapat kebahagiaan sejati.

  1. Ekonomi

Zaman semakin berkembang begitu juga dengan kebutuhan semakin lama semakin bertambah.Begitu juga dengan kebutuhan para remaja,makin lama makin bervariasi kebutuhan mereka.Untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan mereka harus ada yang namanya uang.Bagi yang orang tuanya tergolong berduit tentu bukan hal yang sulit jika mereka ingin bersenang-senang dan memenuhi apa yang mereka inginkan, misalnya beli baju,HP,perhiasan dan lain-lain.Tapi bagi mereka yang tergolong orang tuanya tidak mampu tentu akan mengalami kesulitan untuk memenuhi apa yang mereka inginkan seperti bersenang-senang dan berhura-hura.Karena itulah bagi mereka yang sulit dalam hal keuangan akan mengambil jalan pintas,misalnya menjual diri dan mencuri.

  1. Geografi

Hedonisme pada remaja bisa terjadi di mana saja,baik di kota maupun di desa.Karena Hedonisme dapat menjangkiti remaja berdasarkan pada sikap yang dimunculkan remaja tersebut.Misal ada remaja yang malas belajar tapi dia ingin memperoleh nilai yang baik dengan mencontek.Itu merupakan salah satu contoh kecil dari sikap Hedonisme.Kalau dilihat secara umum,memang hedonisme pada remaja banyak ditemukan di perkotaan karena di kotalah tersedia berbagai fasilitas yang bisa memenuhi apa yang para remaja inginkan.

  1. Budaya.

Budaya Liberal telah mulai berkembang dikalangan remaja,sikap hedonismepun mengakar dalam jiwa para remaja.Budaya hedonisme muncul dari proses pengaruh sosial yang diturunkan dari generasi ke generasi sebagai warisan sosial yang ditiru sebagai hasil dari proses pengaruh sosial.Warisan sosial tersebut terus berkembang mengikuti perkembangan sosial.

  1. Sosial

Pola interaksi dalam masyarakat beraneka ragam.Di kalangan remaja kaum hedonis sering dijumpai.Interaksi antar remaja terkotak-kotak pada status sosial yang biasa dilihat dari penampilan fisik. Semakin”wah”penampilan mereka,maka semakin menunjukkan tingkat status sosial yang lebih tinggi.Karena itulah agar dipandang memiliki status sosial yang tinggi mereka berlomba-lomba menjadi yang paling”wah”.

c.  Akar Masalah dan Penyebab dari Hedonisme

  1. 1.      Akar masalah dari kemiskinan karena hedonisme
  1. Faktor ekstern

Derasnya arus industrialisasi dan globalisasi yang menyerang masyarakat merupakan faktor yang tak dapat dielakkan. Nilai-nilai yang dulu dianggap tabu, kini dianggap biasa. Media komunikasi, khususnya media iklan memang sangat bersinggungan dengan masalah etika dan moral.

Melalui simbol-simbol imajinatif media komunikasi massa jelas sangat memperhitungkan dan memanfaatkan nafsu, perasaan, dan keinginan. Dr. Budi Susanto. Sj mengatakan bahwa, pada saat ini para hedonis mempromosikan berbagai macam tawaran kebutuhan manusia sampai kehidupan dunia gemerlapan malam yang berbau pornoaksi lewat media televisi, iklan dan media cetak lainnya. Perilaku Hedonis tidak terlepas daripada pergaulan sesama dalam kota-kota besar yang lebih menyukai kesenangan dan kenikmatan. Dalam bergaul selalu ada tekanan dari dalam diri si anak untuk melakukan hal yang sama dengan teman satu kelompok. Jika seseorang tinggal dalam lingkungan yang hidupnya suka berfoya-foya, mengejar kenikmatan, maka dengan sendirinya orang tersebut akan mengikuti gaya hidup yang telah ditanamkan dalam lingkungan pergaulan tersebut.

Theo Huijbers mengatakan dalam bukunya, kadang karena terdesak masalah kebutuhan ekonomi yang menuntutnya, maka masyarakat metropolitan dapat terbawa arus hedonisme yang semakin konsumeristik.

  1. Faktor intern

Sementara itu dilihat dari sisi intern, lemahnya keyakinan agama seseorang juga berpengaruh terhadap perilaku sebagian masyarakat yang mengagungkan kesenangan dan hura-hura semata. Binzar Situmorang menyatakan bahwa, “Kerohanian seseorang menjadi tolak ukur dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi mereka yang suka mengejar kesenangan.

d. Contoh satu kasus yang terkait dengan Hedonisme.

Ada sebuah keluarga yang mempunyai seorang anak gadis remaja, yang dari kecil sudah di tanamkan sifat Hedonisme ,semua keinginan anaknya itu selalu diturutinya, sebab kedua orang tuanya itu hanya memberikan materi saja, tanpa memberikan kasih sayang dan perhatian kepada anaknya. karena kesibukan orang tuanya yang selalu mementingkan urusan Bisnis saja, tanpa memperdulikan perkembangan anaknya,sehingga anak gadisnya itu menjadi pribadi yang hedonis.

Disaat bisnis kedua orang tuanya itu berada diatas puncak kejayaan, setelah berjalan beberapa tahun, ujian pun datang, bisnis yang telah dirintis oleh orang tuanya selama bertahun-tahun kini mengalami kebangkrutan, sehingga keluarga ini berada dalam kehidupan yang pas-pasan, tetapi di sisi lain anaknya ini tidak menerima takdir yang menimpa orang tuanya, yang Dia tahu bahwa semua keinginannya itu harus dipenuhi, karena sudah terjerumus kedalam kehidupan yang hedonis. Untuk memenuhi kebutuhannya yang Hedonis, akhirnya Dia terjerumus kedalam kehidupan malam dan pergaulan bebas. Hanya untuk memenuhi kesenangannya sendiri.

2.2          Penyebab dari masalah kemiskinan karena hedonisme

 

  1. 1.      Kesombongan dan Egoisme

kesombongan dan egoisme adalah penyebab kecenderungan seseorang kepada kehidupan mewah. Orang sombong akan selalu membanggakan kekayaan dan kedudukan yang dimilikinya untuk menunjukkan keunggulannya atas orang lain. Persaingan tidak sehat untuk menunjukkan kemewahan terkadang menimbulkan perasaan dengki dan iri. Mereka mengira bahwa cara menunjukkan kelebihan atas orang lain adalah dengan cara bersaing seperti ini. Orang yang hedonis memandang rendah kepada orang lain. Pandangan ini sudah barang tentu akan menyebabkan timbul jurang yang  dalam antara mereka dengan orang lain. Dalam mengumpul harta dan barang-barang mewah mereka akan dikuasai oleh sifat ketamakan, dan orang seperti ini tidak akan bersedia memberikan harta mereka kepada orang lain.

  1. 2.      Kepribadian Tidak Sempurna

Kepribadian tidak sempurna yang dimiliki oleh seseorang. Dari pandangan psikologi, orang yang cenderung kepada kemewahan berusaha menutupi kelemahan dirinya yang kurang dari segi ilmu dan spiritual. Pada sebagian kasus, kita menyaksikan orang-orang kaya yang tidak tahu bagaimana membelanjakan hartanya. Karena itu, mereka membeli dan mengumpulkan barang-barang mewah dan pakaian-pakaian yang mahal. Faktor penting lainnya adalah, pandangan materialis dan cinta dunia. Hal inilah yang pernah disinggung oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadisnya. Beliau bersabda, Menyintai dunia adalah penyebab dari segala penyimpangan dan kesalahan. Orang yang tidak beriman kepada alam akhirat dan tidak memperdulikan nilai-nilai moral seperti kesederhanaan, kedermawanan dan persahabatan, tidak akan memikirkan nasib orang lain. Mereka tenggelam dalam kemewahan hidup.

3. Faktor Budaya dan Lingkungan Masyarakat

Faktor lain yang menjadi penyebab kecenderungan
kepada kemewahan, antara lain adalah budaya masyarakat dan
lingkungan sekitar. Dalam sebuah masyarakat yang memiliki
budaya hidup mewah, kecenderungan kepada kemewahan akan menguasai seluruh anggota masyarakat. Dalam hal ini, kemewahan para pejabat dan tokoh masyarakat akan memberikan pengaruh yang sangat besar pada gaya kehidupan ini.

4. Media Massa

Di era kontemporer ini iklan yang terdapat di berbagai sarana media ikut membantu menciptakan budaya hedonisme. Media-media ini dalam banyak kasus mengiklankan produk-produk yang sebenarnya tidak diperlukan. Iklan-iklan ini pula meninggalkan berbagai dampak psikologis terhadap para para penganut paham hedonisme.

2.3 Akibat Hedonisme

 

Banyak akibat buruk yang ditimbulkan oleh hedonisme. Pertama, lenyapnya kekayaan, meningkatnya jurang antar miskin dan kaya berkembangnya kemiskinan, kebangkrutan dan hutang di tengah masyarakat kecil. Ibnu Khaldun sejarawan dan sosiolog muslim dalam hal ini berkata: Sejauh mana sebuah masyarakat tenggelam dalam hedonisme, sejauh itulah mereka akan mendekati batas kehancuran. Proses kehancuran akan terjadi karena hedonisme secara perlahan akan menyebabkan kemiskinan masyarakat dan negara. Sejauh mana hedonisme mewabah, sejauh itu pulalah kemiskinan akan menyebar di tengah masyarakat.
Di pihak lain, membuang-buang harta untuk membeli barang-barang mahal yang hanya dimaksudkan untuk berbangga-bangga, perlahan-lahan akan menyeret sebuah negara kepada pihak asing. Hal inilah yang terjadi saat ini dunia. Banyak negara dunia yang bergantung kepada Barat yang setiap waktu memasarkan produk-produk baru untuk dikonsumsi. Meskipun pekerjaan, usaha dan jerih payah untuk mencari harta, dapat mengantarkan seseorang dan masyarakatnya kepada kemajuan dan hal ini didukung oleh agama Islam, namun jangan sampai hal itu menjerumuskan kita ke lembah hedonisme dan kemewahan.

Dampak-dampak dari seorang yang telah terjerumus dengan Hedonisme:

  1. 1.    Individualisme

Orang yang sudah terkena penyakit hedonisme cenderung tidak memerlukan bantuan orang lain. Mereka merasa sudah mampu hidup sendiri, tetapi kenyataannya tidak begitu. Manusia merupakan mahluk sosial.

  1. 2.       Matrealistis

Merupakan bagian dari hedonisme, yang dimana mereka merasa tidak puas dengan apa yang sudah di milikinya. Dan selalu iri jika melihat orang lain.

  1. 3.      Pemalas

Malas merupakan akibat yang di timbulkan dari hedonisme, karena mereka selalu menyia-nyiakan waktu. Manusia yang tidk menghargai waktu.

  1. 4.      Pergaulan bebas

Pengikut paham hedonisme dapat terjebak dalam pergaulan bebas yang dimana mereka selalu selalu berada dalam dunia malam. Seperti clubbing, pesta narkoba, dan seks bebas.

  1. 5.      Konsumtif

Hedonisme cendurung konsumtif ,karena menghabiskan uang untuk membeli barang-barang  hanya untuk kesenangan semata tanpa didasari kebutuhan.

  1. 6.      Mentalitas instan

Kurangnya kesadaran dalam mempergunakan waktu, komunitas, dan pergaulan.

  1. 7.      Boros

Menghambur-hamburkan uang untuk membeli bernbagai barang yang tidak penting, hanya untuk sekedar pamer merk/ barang mahal.

  1. 8.      Kriminalitas

Dalam paham hedonisme seseorang dapat berbuat kriminal/ melanggar hukum, karena orang yang menganut paham ini cenderung akan berbuat apa saja sekalipun melanggar hukum, hanya untuk memenuhi kesenangannya sendiri, tanpa pernah memikirkan akibatnya.

  1. 9.      Egois

Hedonisme cenderung mengrah kepada sifat mementingkan diri semdiri. Tanpa memperdulikan orang lain. Yang terpenting kesengannya tercapai.

  1. 10.  Tidak bertanggung jawab

Menjadi individu yang tidak bertanggung jawab terutama kepada dirinya sendiri, seperti menyia-nyiakan waktu, dan mementingkan kesenangannya saja.

  1. 11.  Berfoya-foya

Dalam menggunakan uang, untuk membeli sesuatu barang yang tidak penting.

  1. 12.  Korupsi

Memperkaya diri sendiri, tetapi menggunakan cara yang melanggar hukum, yaitu memeras orang lain untuk memenuhi kebutuhnnya sendiri.

  1. 13.  Tidak disiplin

Tidak menghargai waktu, dimana jika ada janji dengan orang lain cenderung mengabaikannya, dan lebih mementingkan waktu untuk dirinya sendiri.

  1. 14.  Merasa sok kaya

Meyembunyikan jati dirinya, sebenarnya dia miskin tetapi karena gengsi mengaku orang kaya.

  1. 15.  Merasa sok gaul

Supaya dianggap ada oleh suatu kelompok tertentu, hanya untuk mencari perhatian orang lain.

  1. 16.  Ingin terlihat fashionable

Mengikuti gaya orang lain, karena ingin diperhatikan orang lain.

  1. 17.  Narsis yang berlebihan

Karena ingin mencari perhatian orang sehingga menjadi narsis.

  1. 18.  Lebih mementingkan gaya daripada otak

Tidak cerdas dalam bergaul, hanya memamerkan gaya di bandingkan otak.

  1. 19.  Plagiat

Plagiat disini cenderung meniru gaya-gaya berpakaian, gaya berdandan atau fashion orang lain. Sehingga tidak kreatif.

  1. 20.  Diskriminasi

Sikap membedakan stratifikasi sosial, dan merasa bahwa dirinya  lebih tinggi atau berbeda kelas serta golongan dari orang lain.

  1. 21.  Kreatifitas rendah

Tidak mempunyai kreatifitas berfikir kedepan.

  1. 22.  Tidak berfikir jauh kedepan

Hanya mementingkan hal-hal yang bersifat masa lalu.

 

2.4 Penyelesaian Masalah Hedonisme

Dari akar permasalahan mengenai kemiskinan karena Hedonisme terdapat dua solusi besar yaitu solusi preventif dan represif. Diantaranya sebagai berikut :

  1. 1.      Preventif
    1. Bersikap terbuka terhadap orang lain. Peka dengan keadaaan sekitarnya terutama mengenai persamalahan yang berhubungan dengan orang lain.
    2. Berhemat, membuat anggran pengeluaran untuk membeli kebutuhan yang memang di perlukan, tidak menghambur-hamburkan uang untuk membeli barang yang sekiranya tidak diperlukan.
    3. Memotivasi  diri tinggi, belajar menghargai waktu dan tidak menyia-nyiakan waktu.
    4. Taat beribadah, mempertebal  keimanan dengan cara rajin beribadah, pandai bergaul dan memilih teman.
    5. Selektif dalam memilih bergaul.
    6. Menabung dan menagarial keungan sesuai dengan kebutuhan.
    7. Mentaati hukum-hukum negara dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
    8. Lebih menghargai orang lain, mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri.
    9. Berani dalam mengambil risiko. Tidak membeda-bedakan masalah-masalah yang di hadapi.
    10. Mentaati hukum agama dan negara disertai dengan mempertebal keimanan.
    11. Lebih mendahulukan kebutuhan yang lebih penting. Dan tidak didasarkan atas kesenangan semata.
    12. Lebih tertib dn mentaati aturan-aturan yang berlaku.
    13. Bersikap lebih rendah hati, dan dermawan dengan menyisihkan sebagian harta.
    14. Mampu memahami tentang arti dari modern, jangan terlalu memaksakan diri mengikuti trend yang sedang marak.
    15. Menyeleksi kebutuhan, jangan terlalu berambisi untuk menjadi orang yang lebih fashionable, supaya ingin di perhatikan oleh orang lain.
    16. Menyadari ada orang yang lebih baik dari kita. Jangan merasa diri lebih sempurna.
    17. Menjadi manusia yang lebih produktif.
    18. Menghargai karya orang lain dengan tidak meniru atau menjiplak tanpa seijin orangnya.
    19. Mampu mengahargai perbedaan.
    20. Terus berinovasi, menciptakan hal-hal yang baru.
    21. Memikirkan resiko yang akan terjadi sebelumnya, dengan melakukan penuh pertimbangan.
    22. 2.  Represif

Dengan menggunakan teori sosiologi yaitu tindakan terorganisir (kesadaran) dan tindakan tidak terorganisir ( replek ). Menyadari bahwa ketika teman kita terjangkit “virus” hedonisme arahkan lah ia kedalam sebuah situasi yang membuat ia nyaman baik secara jasmani maupun rohani, baik direncanakan maupun tidak. Sehingga hadir rasa nyaman dalam dirinya dan menjadi suatu hal yang biasa dan pada akhirnya dia terbebas dari hedonisme.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Setiap manusia pasti ingin merasakan kenikmatan dan kesenangan, apalagi para remaja. Tapi sayangnya untuk memperoleh kenikmatan dan kesenangan tersebut banyak remaja yang menghalalkan segala cara. Apapun mereka lakukan, agar apa yang mereka inginkan dapat mereka peroleh tanpa peduli dengan resikonya. Hedonisme di kalangan remaja telah berkembang pesat mengikuti perkembangan jaman pola pikir yang hanya mementingkan kesenangan saja membuat para remaja terbuai dalam sebuah kehidupan yang kadang tidak realistis.Yang penting senang,senang dan senang.Tak mau bersakit-sekit dulu,inginya senang-senang selalu,itulah moto yang banyak dipakai para remaja untuk menikmati hidup ini.

Dengan terlalu mendewakan kesenangan, duniawi, akan membuat seseorang kehilangan arah hidupnya sehingga dapat menimbulkan kemiskinan karena terlalu menghamburkan materii demi kesenangan semata.

Keberhasilan mencapai tujuan inilah yang kemudian membuatnya nikmat atau puas. Sementara itu berkenaan dengan hedonisme etis ada dua gagasan yang patut diperhatikan. Pertama, kebahagiaan tidak sama dengan jumlah perasaan nikmat. Nikmat selalu berkaitan langsung dengan sebuah pengalaman ketika sebuah kecondongan terpenuhi, begitu pengalaman itu selesai, nikmatpun habis. Sementara itu, kebahagiaan menyangkut sebuah kesadaran rasa puas dan gembira yang berdasarkan pada keadaan kita sendiri,dan tidak terikat pada pengalaman-pengalaman tertentu.

Dengan kata lain, kebahagiaan dapat dicapai tanpa suatu pengalaman nikmat tertentu. Sebaliknya, pengalaman menikmati belum tentu membuat bahagia. Kedua, jika kita hanya mengejar nikmat saja, kita tidak akan memperoleh nilai dan pengalaman yang paling mendalam dan dapat membahagiakan. Sebab, pengalaman ini hanya akan menunjukan nilainya jika diperjuangkan dengan pengorbanan.

 

3.2 Saran

Untuk membentengi diri dari hedonisme yang hanya menawarkan kenikmatan sesaat, harus dimulai dari diri sendiri dan juga dukungan orang lain. Untuk para orang tua hendaknya meningkatkan kontrol terhadap anak-anak. Tanamkan nilai moral yang nantinya berguna bagi mereka. Misal tanamkan sikap hidup hemat,arahkan mereka pada pergaulan yang baik,dan didik mereka untuk mandiri. Sedangkan bagi para remaja, berpikirlah dulu sebelum bertindak jangan hanya mengejar kesenangan saja. Masa depan masih panjang,masih banyak hal yang berguna yang dapat mereka lakukan tanpa harus hura-hura dan foya-foya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

Pertanyaan-pertanyaan

  1. Fani: kebiasaan hidup hedonisme kemudian terjerumus kedalam maslah-masalah social (kehidupan malam), apakah bisa di hilangkan sedangkan hidup hedonisme itu sudah di mulai sejak kecil saat orang tuanya  masih berada dalam masa kesuksesan, sedangkan sekarang orang tuanya itu telah mengalami kebangkrutan.
    1. a.      Bagaimana proses yang sangat akurat untuk menghilangkan sifat hedonisme?
    2. b.      Bagaimana tindakan pencegahan orang tua, melihat anaknya yang terjerumus kedalam dunia hedonisme?
    3. c.       Bagaimana cara dan  upaya teman terdekatnya  untuk mengingatkannya?
    4. Cinthiya : Mengapa korupsi di masukan kedalam  masalah atau dampak dari headonisme? Apakah KKN termasuk kemiskinan moral?
    5. Fitri : Bagaimana solusinya melihat kejafian seorang anak remaja labil yang tergoda untuk memiliki sebuah gadget (ipad), dengan cara menjual organ ginjalnya? Bagaimana penangananya jika melihat kasus seperti itu?

Komentar tambahan :

  1. Azhar : menambahkan jawaban untuk fitri, bahwa peran orang tua sangat penting dalam masalah ini, orang tua sebagai alat pengontrol dalam perkembangan anak-anaknya. Dan selalu mengajarakan hal-hal positif  dan menjauhkan nya dari hal-hal negative.  Harus diajarkan juga hidup hemat, dengan cara menabung, dan pecegahan preventif.
  2. Yanra : menambahkan jawaban untuk sodari Fani, bahwa memang betul salah satu penyebab dan solusi untuk dapat terjangkit dan terbebas dari hedonisme adalah lingkungan pergaulannya. Jika ia bergaul dengan orang-orang baik maka ia akan menjadi baik begitu pun sebaliknya.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://sahaka.multiply.com/journal/item/13/HEDONISME_DI_KALANGAN_REMAJA

http://nabilhabsyie.multiply.com/journal/item/42

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: