suku dayak Kalimantan

Published Mei 5, 2012 by purplenitadyah

 

KATA PENGANTAR

 

Bismillahirahmanirahim

Alhamdulillahi Rabbil ’ Alamien, kata yang sangat patut kami lafadzkan karena hanya dengan izin-Nya lah serta kemudahan-Nya sehingga pengerjaan Makalah yang berjudul “KEBUDAYAAN DAYAK” ini, dapat kami selesaikan pada waktu yang telah ditetapkan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Studi Masyarakat Indonesia.

Tak kunjung padam pula lantunan doa, jazakallahu khairan katsiro atas semua bantuan dari semua pihak yang telah sedikit banyaknya membantu kami dalam pengerjaan Makalah ini, terutama Bapak Encep Supriatna, S. Pd, M. Pd, sebagai dosen dari mata kuliah Studi Masyarakat Indonesia yang telah membimbing kami dalam perkuliah Studi Masyarakat Indonesia.

Kami sangat mengharapakan Makalah yng telah kami susun ini bisa menjadi sebuah ilmu yang berguna, khususnya bagi kami. Walaupun begitu pun kami sadar bahwa makalah yang kami kerjakan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami harapkan pula kritikan serta masukan yang bisa membuat kami menjadi lebih baik kedepannya.

Bandung, 16 November 2011

Penyusun

BABI

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Suku Dayak, sebagaimana suku bangsa lainnya, memiliki kebudayaan atau adat-istiadat tersendiri yang pula tidak sama secara tepat dengan suku bangsa lainnya di Indonesia. Adat-istiadat yang hidup di dalam masyarakat Dayak merupakan unsur terpenting, akar identitas bagi manusia Dayak. Kebudayaan dapat diartikan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar (Garna, 1996).

Jika pengertian tersebut dijadikan untuk mengartikan kebudayaan Dayak maka paralel dengan itu, kebudayaan Dayak adalah seluruh sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia Dayak dalam rangka kehidupan masyarakat Dayak yang dijadikan milik manusia Dayak dengan belajar. Ini berarti bahwa kebudayaan dan adat-istiadat yang sudah berurat berakar dalam kehidupan masyarakat Dayak, kepemilikannya tidak melalui warisan biologis yang ada di dalam tubuh manusia Dayak, melainkan diperoleh melalui proses belajar yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Berdasarkan atas pengertian kebudayaan tersebut, bila merujuk pada wujud kebudayaan sebagaimana yang dikemukakan Koentjaraningrat, maka dalam kebudayaan Dayak juga dapat ditemukan ketiga wujud tersebut yang meliputi: Pertama, wujud kebudayan sebagai suatu himpunan gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturan. Wujud itu merupakan wujud hakiki dari kebudayaan atau yang sering disebut dengan adat, yang berfungsi sebagai tata kelakuan yang mengatur, mengendalikan dan memberi arah kepada perilaku manusia Dayak,

tampak jelas di dalam pelbagai upacara adat yang dilaksanakan berdasarkan siklus kehidupan, yakni kelahiran, perkawinan dan kematian, juga tampak dalam pelbagai upcara adat yang berkaitan siklus perladangan; Kedua, wujud kebudayaan sebagai sejumlah perilaku yang berpola, atau lazim disebut sistem sosial. Sistem sosial itu terdiri dari aktivitas manusia yang berinteraksi yang senantiasa merujuk pada pola-pola tertentu yang di dasarkan pada adat tata kelakuan yang mereka miliki, hal ini tampak dalam sistem kehidupan sosial orang Dayak yang sejak masa kecil sampai tua selalu dihadapkan pada aturan-aturan mengenai hal-hal mana yang harus dilakukan dan mana yang dilarang yang sifatnya tidak tertulis yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi sebagai pedoman dalam bertingkah laku bagi masyarakat Dayak; Ketiga, wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia, yang lazim disebut kebudayaan fisik, berupa keseluruhan hasil karya manusia Dayak, misalnya seperti rumah panjang dan lain-lain. Berdasarkan atas pemahaman itu, maka kebudayaan Dayak sangat mempunyai makna dan peran yang amat penting, yaitu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses kehidupan orang Dayak. Atau dengan kata lain kebudayaan Dayak dalam perkembangan sejarahnya telah tumbuh dan berkembang seiring dengan masyarakat Dayak sebagai pendukungnya.

Dewasa ini, seiring dengan perkembangan dan perubahan zaman, kebudayaan Dayak juga mengalami pergeseran dan perubahan. Hal ini berarti bahwa kebudayaan Dayak itu sifatnya tidak statis dan selalu dinamik; meskipun demikian, sampai saat ini masih ada yang tetap bertahan dan tak tergoyahkan oleh adanya pergantian generasi, bahkan semakin menunjukkan identitasnya sebagai suatu warisan leluhur.
Dalam konteks ini, dan dalam tulisan ini bermaksud untuk mengupas kebudayaan yang terdapat dalam masyarakat Dayak, baik yang berupa kebudayaan material maupun non material.

  1. RUMUSAN MASALAH
  1. Bagaimana sistem religi dan kepercayaan  pada suku Dayak?
    1. Seperti apa  sistem mata pencaharian hidup suku Dayak?
    2.  Bahasa apa yang di gunakan suku Dayak?
    3. Bagaimana sistem kesenian yang ada di suku Dayak?
    4. Bagaimana sistem teknologi dan peralatan suku Dayak?
    5. Bagaimana sistem organisasi kemasyarakatan yang ada di suku Dayak?
    6. Seperti apa  sistem pengetahuan yang ada pada suku Dayak?
  1. TUJUAN

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menghasilkan suatu informasi yang dapat di sajikn untuk penyajian  presentasi makalah.dengan adanya penyajian yang baik tentang adat istiadat, maka dapat di pergunakan :

  1. Sebagai  bahan untuk mengetahui ragam adat istiadat yang ada di suku dayak.
  2.  Sebagai bahan untuk memperkuat apresiasi budaya bangsa.
  3. Sebagai bahan untuk studi lanjutan, sehingga memperkaya budaya bangsa.

BAB II

PEMBAHASAN

Letak geografis

Propinsi daerah tingkat I Kalimantan Timur mempunyai luas wilayah kurang lebih 211.440 Km2 yang terletak di daerah khatulistiwa antara 11344’ bujur timur dan 11900’ bujur barat dan 4241-225 lintang utara. Sebelah selatan berbatasan dengan negara Sabah / Malaysia. Sebelah timur membentang daerah rendah sepanjang kurang lebih 500 mil menyusuri pantai Laut Sulawesi dan Selat Makasar, yang merupakan perbatasan di sebelah timur, sedangkan sebelah barat membentang dinding pegunungan Iban dan pegunungan Muller. Sebelah timur berbatasan dengan Laut Sulawesi dan Selat Makassar yang merupakan alur perhubungan transaksi untuk perdagangan Lintas Nasional dan Internasional.

  1. A.       SISTEM RELIGI DAN KEPERCAYAAN

Sejak awal kehidupannya, orang Dayak telah memiliki keyakinan yang asli milik mereka, yaitu Kaharingan atau Agama Helo/helu/. Keyakinan tersebut, menjadi dasar adat istiadat dan budaya mereka. Agama Helo/helu/ atau Kaharingan hingga saat ini masih dianut oleh sebagian besar orang Dayak, walau pada kenyataannya, tidak sedikit orang Dayak yang telah menganut agama Islam, Kristen, Katholik. Demikian pula tidak semua penduduk pedalaman Kalimantan adalah orang Dayak, karena telah berbaur dengan penduduk dari berbagai suku akibat perkawinan dan berbagai sebab lain. Walaupun demikian, tradisi lama dalam hidup keseharian mereka masih melekat erat tidak hanya dalam bahasa, gerak-gerik, symbol, ritus, serta gaya hidup, namun juga dalam sistem nilai pengartian dan pandangan mereka dalam memaknai kehidupan.

 

 

 

kepercayaan kepada dewa-dewa. Sebelum agama islam masuk ke kalimantan selatan, agama siwa Budha sudah lama berkembang di daerah negara Dipa dan negara Daha. yang jelas bukti keberadaanya adalah agama Siwa dengan candi Laranya yang terdapat di daerah Margasari, dimana terdapat Bekas Lingga, joni, nandi, dan sebuah Arca yang sudah tidak utuh lagi.

Kepercayaan kepada mahluk-mahluk halus.masyarakat kalimantan selatan pada umumnya mempercayai adanya alam mahluk-mahluk halus ini,yang meliputi : alam gaib tinggal dibumi lamah, berbentuk manusia gaib, mati dan melahirkan, hidup bermasyarakat seperti masyarakat biasa, darim lapisan raja-raja, bangsawan, ksatria, ulama, dukun dan sebagainya. Dalam hal nini golongan-golongan raja-raja Banjar mitologis sampai dengan beberapa raja Banjar Historis di kategorikan dengan manusia alam gaib.

Yang sangat terkenal dan sering dipanggil dalam dalam tiap upacara religi atau upacara adat biasa adalah pangeransuriantadan putri junjung buih, Pangeran Kacil,panembahan Batuah, Menteri Empat seperti Panimbah segarapembelah batung, manguntung manau, mangaruntung waluh, pengeran Bagalung dan sebagainya.

Kepercayaan kepada muakkad dan muwakkal,  mereka juga di kategorikan sebagai mahluk-mahluk halus yang terdapat dalam kepercayaan agama islam. Setiap manusia yang telh mencpai tingkat kesempurnaan dan kewalian, mempunyai teman yang disebut muakkal-muakkal. Di kalimantan selatan terkenal umpamanya Muakkal Datu kalampaian atau dalam sebutan umum dikenal sebagai Datu Baduk, seorang jin islam yang tinggi agamanya dan datang bersama Syekh Arsyad al Banjari dari Mekkah.

Kepercayaan kepada para Datu, kepercayaan ini amat umum dikalangan masyarakat kalimantan selatan ini. Datu-datu ini terkenal dalam cerita

rakyat berupa mitologi mmengenai macam-macam aspek, umpamanya Datu pujung, Datu pegunungan bukit Meratus, datu kertamina, datu yang menguasai para buaya, datu sapala dan sebagainya.

Kepercayaan kepada mahluk-mahluk halus. Mahluk-mahluk halus dianggap  mendiami gundukan-gundukan tanah (belahmika), punggur kayu,jenis-jenis kayu tertentu, parit sungat dan sebagainya.

Jenis-jenis hantu ini adalah: hantu kisutatau datung kabayan, sundal bolong,hantu suluh (malam hari), agaman atau takkau adalah kucing hitam yang bisa berubah menjadi sebesar kerbau dan sebagainya.

Kepercayaan kepada kekuatan-kekuatan gaib : umumnya berlaku dipedesaan dan kota. Kekuatan-kekuatan gaib ini bersifat magic memiliki kekuatan-kekuatan positif atau negatif dan da;am istilah darah disebut dengan kekuatan putih atau kekuatan hitam. Yang putih tidak sellu baik, demikian pula yang hitam tidak selalu jahat. Sumber kepercyaanya berasal dari kebudayaan asli daerah.,dan adapula yang berasal dri agamaislam sendiri. Dalam hal yang bersumber dari  kebudayaan asli daerah yaitu dari kahariangan atau bukit, dimana terdapat kekuatan-kekutan gaib yang diginakan untuk membunuh dan merusak hidup orang.

Parung maya adalah kekuatan gaib yang sangat ditakuti karena jika orang yang terkena kekuatan ini maka langsung meninggal. Mereka yang melakukan parung Maya ini dengan kekuatan gaib, menggunakan parang dengan daun linjuang yang bentuknya seperti pisau berkaki tunggal diwaktu senja.

Kepercayan kepada kekuatan-kekuatan sakti. Semua jenis bend dinggap memiliki kekuatan sakti yang dapat memberikan kebaikan atau keburukan.

Kepercayaan kepada jimat-jimat, berupa benda yang dibuat dengan aturan – aturan tertentu, baik kertasnya, tintanya, dan waktu

mengerjakannya, teknik dan ayat-ayat yang di tulis dalam bentuk lambang angka atau kalimat-kalimat tertentu. Jimat-jimat ini biasanya berbentuk segi empat, bundar dan pipih.

Kepercayaan terhadap kekuatan batu-batu sakti.  Dalam kepercayaan terhadap batu- batu ini nanya percaya kepada dua jenis batu saja, yang khas dalamkedudukannya dalam hal pemilikan tenaga kesaktian ini yaitu : batu akik dan batu jambrut. Batunakik brfungsi sebagai kekuatan-kekuatan pintu rejeki terantung dilihat dari pancaran sinarnya. Demikian pula denganbatu jambrut, tergantung  dari jenis rupa dan bentuk pancar yang ada.

  1. B.     SISTEM MATA PENCAHARIAN DAN PERALATAN HIDUP

Dalam melangsungkan dan mempertahankan kehidupannya orang Dayak tidak dapat dipisahkan dengan hutan; atau dengan kata lain hutan yang berada di sekeliling mereka merupakan bagian dari kehidupannya dan dalam memenuhi kebutuhan hidup sangat tergantung dari hasil hutan. Sapardi (1994), menjelaskan bahwa hutan merupakan kawasan yang menyatu dengan mereka sebagai ekosistem. Selain itu hutan telah menjadi kawasan habitat mereka secara turun temurun dan bahkan hutan adalah bagian dari hidup mereka secara holistik dan mentradisi hingga kini, secara defakto mereka telah menguasai kawasan itu dan dari hutan tersebut mereka memperoleh sumber-sumber kehidupan pokok.

Kegiatan sosial ekonomi orang Dayak meliputi mengumpulkan hasil hutan, berburu, menangkap ikan, perkebunan rakyat seperti kopi, lada, karet, kelapa, buah-buah dan lain-lain, serta kegiatan berladang (Sapardi,1992). Kegiatan perekonomian orang Dayak yang pokok adalah berladang sebagai usaha untuk menyediakan kebutuhan beras dan perkebunan rakyat sebagai sumber uang tunai yang dapat dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup yang lain; walaupun demikian kegiatan perekonomian mereka masih bersifat subsistensi (Mering Ngo, 1989; Dove, 1985).

Menurut Arman (1994), orang Dayak kalau mau berladang mereka pergi ke hutan, dan terlebih dahulu menebang pohon-pohon besar dan kecil di hutan, kalau mereka mengusahakan tanaman perkebunan mereka cenderung memilih tanaman yang menyerupai hutan, seperti karet (Havea brasiliensis Sp),rotan(Calamus caesius Spp), dan tengkawang (shorea Sp). Kecenderungan seperti itu bukan suatu kebetulan tetapi merupakan refleksi dari hubungan akrab yang telah berlangsung selama berabad-abad dengan hutan dan segala isinya.

Hubungan antara orang Dayak dengan hutan merupakan hubungan timbal balik. Disatu pihak alam memberikan kemungkinan-kemungkinan bagi perkembangan budaya orang Dayak, dilain pihak orang Dayak senantiasa mengubah wajah hutan sesuai dengan pola budaya yang dianutnya (Arman, 1994). Persentuhan yang mendalam antara orang Dayak dengan hutan, pada giliran melahirkan apa yang disebut dengan sistem perladangan. Ukur (dalam Widjono,1995), menjelaskan bahwa sistem perladangan merupakan salah satu ciri pokok kebudayaan Dayak. Ave dan King (dalam Arman,1994), mengemukakan bahwa tradisi berladang (siffting cultivation atau swidden) orang Dayak sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang mereka yang merupakan sebagai mata pencaharian utama. Sellato (1989 dalam Soedjito 1999), memperkirakan sistem perladangan yang dilakukan orang Dayak sudah dimulai dua abad yang lalu. Mering Ngo (1990), menyebutkan cara hidup berladang diberbagai daerah di Kalimantan telah dikenal 6000 tahun Sebelum Masehi. Almutahar (1995) mengemukakan bahwa aktivitas orang Dayak dalam berladang di Kalimantan cukup bervariasi, namun dalam variasi ini terdapat pula dasar yang sama. Persamaan itu terlihat dari teknologi yang digunakan, cara mencari tanah atau membuka hutan yang akan digunakan, sumber tenaga kerja dan sebagainya.

Dalam setiap aktivitas berladang pada orang Dayak selalu didahului dengan mencari tanah. Dalam mencari tanah yang akan dijadikan sebagai lokasi ladang mereka tidak bertindak secara serampangan. Ukur (1994), menjelaskan bahwa orang Dayak pada dasarnya tidak pernah berani merusak hutan secara intensional. Hutan, bumi, sungai, dan seluruh lingkungannya adalah bagian dari hidup. Menurut Mubyarto (1991), orang Dayak sebelum mengambil sesuatu dari alam, terutama apabila ingin membuka atau menggarap hutan yang masih perawan harus memenuhi beberapa persyaratan tertentu yaitu: pertama, memberitahukan maksud tersebut kepada kepala suku atau kepala adat; kedua, Seorang atau beberapa orang ditugaskan mencari hutan yang cocok. Mereka ini akan tinggal atau berdiam di hutan-hutan untuk memperoleh petunjuk atau tanda, dengan memberikan persembahan. Usaha mendapatkan tanda ini dibarengi dengan memeriksa hutan dan tanah apakah cocok untuk berladang atau berkebun; ketiga, apabila sudah diperoleh secara pasti hutan mana yang sesuai, segera upacara pembukaan hutan itu dilakukan, sebagai tanda pengakuan bahwa hutan atau bumi itulah yang memberi kehidupan bagi mereka dan sebagai harapan agar hutan yang dibuka itu berkenan memberkati dan melindungi mereka.

Hasil penelitian Mudiyono (1990), mengemukakan bahwa kreteria yang digunakan oleh ketua adat atau kepala suku memberi izin untuk mengolah lahan di lihat dari kepastian hubungan hukum antara anggota persekutuan dengan suatu tanah tertentu dan menyatakan diri berlaku “ke dalam” dan “ke luar”. Berlakunya “ke luar” menyatakan bahwa hanya anggota persekutuan itu yang memegang hak sepenuhnya untuk mengerjakan, mengolah dan memungut hasil dari tanah yang digarapnya. Sungguhpun demikian adakalanya terdapat orang dari luar persekutuan yang karena kondisi tertentu diberi izin untuk menumpang berladang untuk jangka waktu satu atau dua musim tanam.

Berlakunya “ke dalam” menyatakan mengatur hak-hak perseorangan atas tanah sesuai dengan norma-norma adat yang telah disepakati bersama. Anggota persekutuan dapat memiliki hak untuk menguasai dan mengolah tanah, kebun atau rawa-rawa. Apabila petani penggarap meninggalkan wilayah (benua) dan tidak kembali lagi maka penguasaan atas tanah menjadi hilang. Hak penguasaan tanah kembali kepada persekutuan dan melalui musyawarah ketua adat dapat memberikannya kepada anggota lain untuk menguasainya. Tetapi jika seseorang sampai pada kematiannya tetap bermukim di daerah persekutuan maka tanah yang telah digarap dapat diwariskan kepada anak cucunya. Hasil penelitian Kartawinata (1993) pada orang Punan, dan Sapardi (1992) pada orang Dayak Ribun dan Pandu, pada umumnya memilih lokasi untuk berladang di lokasi yang berdekatan dengan sungai. Tempat-tempat seperti itu subur dan mudah dicapai.

Dalam studi kasus tentang sistem perladangan suku Kantu’ di Kalimantan Barat Dove, (1988) merinci tahap-tahap perladangan berpindah sebagai berikut: (1) pemilihan pendahuluan atas tempat dan penghirauan pertanda burung; (2) membersihkan semak belukar dan pohon-pohon kecil dengan parang; (3) menebang pohon-pohon yang lebih besar dengan beliung Dayak; (4) setelah kering, membakar tumbuh-tumbuhan yang dibersihkan; (5) menanam padi dan tanaman lainnya ditempat berabu yang telah dibakar itu (kemudian di ladang berpaya mengadakan pencangkokan padi); (6) menyiangi ladang (kecuali ladang hutan primer);(7) menjaga ladang dari gangguan binatang buas; (8) mengadakan panen tanaman padi; dan (9) mengangkut hasil panen ke rumah.

Selanjutnya menurut Soegihardjono dan Sarmanto (1982) ada empat kegiatan tambahan yang tidak kalah penting dalam kegiatan berladang adalah: (1) pembuatan peralatan ladang (yaitu menempa besi, membuat/memahat kayu dan menganyam rumput atau rotan); (2) membangunan pondok di ladang; (3) memproses padi; (4) menanam tanaman yang bukan padi. Dalam setiap tahap kegiatan mengerjakan ladang tersebut biasanya selalu didahului dengan upacara-upacara tertentu. Hal ini dilakukan dengan maksud agar ladang yang mereka kerjakan akan mendapat berkah dan terhindar dari malapetaka.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dakung (1986) tentang suku Dayak di Kalimantan Barat, bahwa peralatan yang digunakan dalam melakukan aktivitas sosial ekonomi seperti mengumpulkan hasil hutan, berburu, menangkap ikan, perkebunan rakyat seperti kopi (Coffea arabica), karet (Havea brasiliensis), kelapa (Cocos nucifera), buah-buahan, antara lain ialah pisau, kapak. baliong, tugal, pangatam, bide, inge, atokng, nyiro, pisok karet, tombak dan lain-lain. Dalam pada itu, jenis-jenis peralatan rumah tangga seperti alat-alat masak memasak antara lain periuk atau sampau dari bahan kuningan atau besi untuk menanak nasi, kuwali terbuat dari tanah liat atau logam, panci dari bahan logam, ketel atau ceret dari bahan logam, dan tungku batu. Jenis alat tidur antara lain tikar yang terbuat dari daun dadang dan daun urun, kelasa yaitu tikar yang terbuat dari rotan, bantal yang terbuat dari kabu-kabu (kapuk) yang disarung dengan kain, klambu, katil dan pangking yaitu tempat tidur yang terbuat dari kayu.

  1. C.            BAHASA

Bahasa suku Dayak menggunakan bahasa Indonesia , bahasa Maanyan , dan bahasa Ngaju sebagai bahasa yang digunakan dalam kesehariannya. Orang Dayak di Kalimantan khususnya Dayak yang berada di Kalimantan Barat, Timur, Selatan dan Utara hampir semuanya mengerti bahasa Ot-Danum atau Dohoi, sedangkan orang Dayak Kalimantan Tengah dan Selatan sebagai bahasa perantaraan umumnya adalah bahasa Dayak Ngaju yang juga disebut bahasa Kapuas. Tiap-tiap suku Dayak di Kalimantan memiliki bahasa daerah sendiri-sendiri dengan dialek satu dengan lainnya berbeda, misalnya bahasa Ot-Danum kebanyakan memakai huruf “o” dan “a” tetapi bahasa Dayak Ngajuk banyak memakai “e” dan “a”. Sebagai ilustrasi disajikan beberapa bahasa Dayak dari beberapa suku Dayak yang ada di Kalimantan.

Bentuk Hitungan Angka Dalam Beberapa Bahasa Dayak
Indone Ngaju Bahau Bajau Ot- Pasir Maanyan Lepo
sia Danum :

1        Ije        Je         Sa        Ico       Erai      Isa       Ca
2        Due     Dua     Dua     Doo     Doeo   Rueh    Dua
3        Telo     Telo     Tee      Toro     Toloe   Telu     Telo
4        Epat     Epat     Empat  Opat    Opat    Epat     Pat
5        Lime    Lime    Lime    Rimo   Limo    Dime   Lema
6        JahawenEnam Enem   Unom  Onom  Enem   Enam
7        Uju      Tuju     Pitu      Pito      Turu     Pitu      Tujuh
8        Hanya  Saya    Walu    Waru   Walu    Walu’  Ay’ah
9        Jalatien            Pitan    Sanga  Sioi      Sie       Suei     Pien
10      Sepuluh           Pulu     Sepuluh Poro Sapulu   Pulu’    Pulu

 

  1. D.            KESENIAN

Orang Dayak walaupun dalam kehidupan yang agak sederhana, ternyata sangat gemar akan kesenian. Menurut Riwut (1958) kesenian yang di miliki oleh orang Dayak di Kalimantan berupa seni: (1) tari; (2) suara; (3) ukir; dan (4) seni lukis. Untuk mengetahui secara lebih mendalam jenis kesenian yang dimiliki oleh orang Dayak sebagaimana yang dikemukakan oleh Riwut tersebut akan diuraikan secara rinci sebagai berikut:

  1. 1.      Seni Tari

Seni tari yang hidup dan berkembang dilingkungan masyarakat Dayak berupa:
1.  Nasai,  jenis tarian yang diperuntukan untuk menyambut tetamu agung (orang berpangkat), menyambut pahlawan yang menang berperang, yang dilakukan oleh orang-orang tua, kaum wanita terutama para gadis dengan gerak kaki tangannya yang diiringi pula dengan seni suara dan bunyi-bunyian.

2.  Gantar, jenis tarian yang diperuntukan selain untuk menyambut tamu-tamu agung, juga tari-tarian pada upacara memotong padi. Tari-tarian ini terdapat pada Suku Dayak Punan, Kenyah, dan Bahau. Tari Nginyah, tari ini terkenal dengan nama tari perang yang terdiri atas dua macam yaitu pertama, untuk membela diri bila mana dalam peperangan tari yang dilakukan oleh laki-laki dan wanita; kedua, dalam pertunjukan waktu ada pesta. Tarian ini menggunakan senjata mandau, sumpit dan perisai, yang terdapat pada suku Dayak Kenyah Ot, Kenyah Punan dan Kenyah Bahau.

3.  Deder, tarian ini ada dua jenis yaitu Deder Siang dan Deder Dusun Tengah yang dipersembahkan untuk menyambut tamu dan ketika ada upacara adat dan lain-lain, yang berasal dari daerah Barito Hulu dan Barito Tengah.

4. Bukas, yaitu jenis tarian yang dipersembahkan untuk menyambut kedatangan Panglima dari berperang, yang dilakukan oleh 1 – 2 sampai 7 orang terdiri dari pemuda dan gadis-gadis dengan mempergunakan bambu dan tombak disertai dengan nyanyian-nyanyian. Terdapat pada suku Dayak Maanyan dan Dusun.

5.  Nganjan, jenis tarian ini dilakukan baik oleh laki-laki maupun wanita yang menari mengelilingi binatang, seperti sapi, kerbau, bagi yang akan dibunuh untuk upacara pesta adat mengantar arwah nenek moyangnya ke surga yang dinamai “tiwah”. Terdapat pada suku Dayak Klemantan, Katingan dan Kahayan.

6.  Dedeo (karang dedeo), yaitu jenis tarian yang lazim dipersembahkan pada saat pesta perkawinan yang berasal dari suku Dayak yang berada di Barito Tengah dan Barito Hilir.

7.  Balian, yaitu tarian yang semata-mata diperuntukan untuk merawat orang sakit yang dilakukan oleh Balian yang biasanya adalah seorang laki-laki selama 1 – 3 malam. Tarian ini hampir terdapat pada seluruh suku Dayak.
8.  Kinyah, tari kenyah ini bukanlah tarian biasa tetapi merupakan tarian yang khusus dipelajari oleh para perwira Dayak zaman dahulu yang digunakan untuk menangkis serangan musuh dan untuk meringankan badan melompat dan memperkuat tangan untuk memotong kepala pihak musuh. Tarian ini berasal dari suku Dayak Kenyah atau Dayak Bahau dari Hulu Mahakam dan dari Apo Kayan dalam daerah Kalimantan Timur.
9. Kerangka atau Tari Gumbeuk
, yaitu tarian ini pada khakekatnya di khususkan dalam upacara “Ijambe atau Manyalimbat” yang dilakukan oleh laki-laki dan anak-anak dengan mengelilingi tempat tulang kering dari yang meninggal dunia.

10. Kembang Pandan, yaitu jenis tarian yang dilakukan oleh muda-mudi Dayak dengan berpegangan tangan, terutama terdapat pada suku Dayak di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.

11. Nyadum Nyambah, yaitu merupakan tarian permintaan maaf dan ampun kepada tamu. Tarian ini berasal dari Kabupaten Kapuas.

12.  Hatusuh Bua, yaitu tarian gembira pada waktu menyambut musim buah-buahan yang banyak dan melimpah. Tarian ini berasal dari suku Dayak di Kabupaten Kapuas.

13. Menggetem, yaitu tarian gembira yang dilakukan pada saat memotong padi. Tarian ini berasal dari suku Dayak di Kabupaten Kapuas.

14. Kinjak Karing, yaitu tarian yang dilakukan oleh kaum wanita untuk membela pahlawan yang sedang berperang. Tarian ini terdapat pada suku Dayak di Kaputen Kapuas dan Kahayan Hulu.

15. Suling Balawung, yaitu jenis tarian yang dipertunjukan waktu ayam mengeram dan menetaskan telornya. Tarian ini terdapat pada suku Dayak di Kapaten Kapuas.

16. Tugal, yaitu jenis tarian yang dipertunjukan pada saat menanam padi dengan cara di tugal, yang berasal dari suku Dayak di Kalimantan Tengah.

2.  Seni Suara

Kesenian dalam bentuk seni suara yang hidup dan berkembang dilingkungan masyarakat Dayak adalah berupa nyanyian-nyanyian yang berkaitan dengan kehidupan religi yang mereka anut dan percaya, seperti nyanyian-nyanyian waktu memotong padi, waktu berkayuh, berladang, menumbuk padi, berperang, berjalan di hutan, berburu, selagi pesta, bersukaria, dan nyanyian yang memuja Tuhan serta nyanyian tentang kematian keluarga, diantaranya:

1.  Kandan, yaitu nyanyian-nyanyian yang berisi sanjungan dan pujian sambil mendoakan semoga rakyat senang dan makmur, serta pimpinan agar dalam memerintah selalu bijaksana dan adil. Nyanyian ini terdapat pada suku Dayak Siang atau Murung di Barito Hulu.

2. Dedeo dan Ngaloak, jenis nyanyian yang dilakukan pada pesta saat perkawinan atau pada pesta kecil, yang terdapat pada suku Dayak Dusun Tengah Kabupaten Barito.

3. Setangis, yaitu nyanyian yang dilakukan pada saat pesta kematian. Pada khakekatnya nyanyian ini hanya berazaskan pada riwayat si mati dan jasa-jasanya sewaktu hidup serta kedudukan dari keluarga dan famili yang meninggal yang masih ditinggalkan.

4. Manawar, yaitu nyanyian untuk mengantar jiwa atau semangat beras kepada TuhanNYA, yang dilakukan oleh orang tua, ahli adat dan ahli agama Dayak.

5. Kayau, yaitu nyanyian yang menceritakan sesuatu yang dilakukan oleh gadis-gadis Dayak secara bersahut-sahutan 2 – 4 orang.

6. Mansana Kayau Pulang, yaitu nyanyian yang dinyanyikan pada waktu malam sebelum tidur oleh orang tua untuk mengobarkan semangat anak-anaknya agar memiliki rasa dendam terhadap orang yang telah dibunuh oleh Tambun Bupati.

7. Ngendau, yaitu nyanyian untuk bersenda gurau diantara pemuda dan gadis dengan bersahut-sahutan.

8. Kelalai-lalai, yaitu sebuah nyanyian yang disertai dengan tari-tarian untuk menyambut para pembesar atau tamu. Nyanyian ini terdapat pada suku Dayak Mama (darat) di Kota Waringin.

9. Natun Pangpangaal, yaitu nyanyian ratap tangis kesedihan karena ada kematian keluarga.

10. Dodoi, yaitu suatu nyanyian yang dilakukan pada saat berkayuh diperahu atau rakit.

11.Dondong, yaitu nyanyian yang dilakukan baik pada saat menanam (menugal) maupun memotong padi.

12. Ngandan, yaitu nyanyian untuk memuji-muji atau menimang-nimang pemuda-pemuda yang dilakukan oleh orang tua.

13. Mansana Bandar, yaitu nyanyian yang menceritakan seorang pahlawan putri pada zaman dahulu.

14. Balian, yaitu nyanyian yang dilantunkan pada saat upacara tiwah upacara mengantar arwah orang-orang yang sudah meninggal (mati).
Sebagai ilustrasi dikemukakan beberapa contoh bait dari nyanyian tersebut, misalnya nyanyian yang berkaitan dengan upacara kematian pada suku Dayak Maanyan:

Tawang kanyu erang tumpalatan Angkang kedang ba iwu jumpun haket
Ada malupui lalan mainsang inseEnoi isasikang piak Takuit tawang ma-ulung kekenreinUmbak basikunrung bakir
Yang artinya dalam bahasa Indonesia:
Agar jangan sesat di perapatan Tertahan di hutan lebat
Jangan mengikuti jalan yang berliku-liku Lorong bersimpang seperti kaki anak ayam Tersesat ke laut lepas gelombang memukul dahsyat.

Contah lain adalah nyanyian berkaitan dengan masalah perang dalam bahasa Dayak Ngaju: Amon Rikat Rambang akan manang Antang terawang kilau terawang tinggang Manintu panunjuk ije hila gantau Amon tege imeteng dawen sawang dandang tingang Antang manri dia hakipak
Sambil menguik Amon ampie Ringkai akan kalah Manari sambil manangis Manintu patinju ije imeteng pondok apoi.

Yang artinya dalam bahasa Indonesia:

Kalau Rangkai Rambang hendak berperang Elang terbang seperti terbang tinggang Menuju petunjuk yang sebelah kanan Kalau ada diikat sawang dandang tinggang Elang menari tidak bergerak sayapnya Sambil bersuit-suit Kalau rupanya Rinmgkai akan kalah Menari terbang sambil menangis Menuju petunjuk yang diikat pondok api.

3. Seni Ukir

Kesenian dalam bentuk seni ukir yaitu berupa ukir-ukiran pada hulu mandau yang terbuat dari kayu maupun tanduk rusa, sarung mandau, patung, perisai dan sumpit. Semua ukir-ukiran tersebut memiliki nama dan makna yang tersendiri.

  1. 4.                              Seni lukis (tato)

Kesenian dalam bentuk seni lukis masyarakat Dayak yaitu berupa seni lukis seluruh badan badan manusia (tato) dengan menggunakan alat yang disebut “Tutang atau Cacah” yang dilakukan sangat teliti dan hati-hati. Gambar-gambar pada peti mati yang dinamai “runi”, kakurung di sandung-sandung (rumah tempat menyimpan tulang belulang orang yang telah meninggal), di patung dan lain-lain. Lebih lanjut di jelaskan oleh Riwut (1958) dan Sukanda (1994) bahwa orang Dayak di Kalimantan dalam kegiatan tari-tarian dan dalam melantunkan berbagai jenis nyanyian selalu di dukung oleh berbagai jenis alat-alat bunyian yang terbuat dari besi, kayu ataupun bambu seperti (ketambung atau gendang, tote atau serupai, kalali atau suling panjang), guruding atau ketong, garantong (gong besar), kangkanong (gong kecil), gandang mara (gendang pendek), ketambung (gendang kecil), sarunai, kacapi (kecapi), gariding, suling bahalang, suling balawang dan kangkanong humbang.

  1. 5.         Makna Tato Bagi Suku Dayak

Tato memang sudah menjadi trend di dunia luar sana, jadi simbol kebebasan memodif diri dan tubuh, tapi di negara kita Indonesia tato sudah ada sejak dahulu.

Jangan terkejut jika masuk ke perkampungan masyarakat Dayak dan berjumpa dengan orang-orang tua yang dihiasi berbagai macam tato indah di beberapa bagian tubuhnya. Tato bagi masyarakat Dayak bukan sekadar hiasan, tetapi memiliki makna yang sangat mendalam.

Sebab tato bagi masyarakat Dayak tidak boleh dibuat sesuka hati sebab ia adalah sebahagian dari tradisi, status sosial seseorang dalam masyarakat, serta sebagai bentuk penghargaan suku terhadap kemampuan seseorang. Oleh karena itu, ada peraturan tertentu dalam pembuatan tato baik pilihan gambarnya, struktur sosial seseorang yang memakai tato maupun penempatan tatonya. Meskipun demikian, secara realitasnya tato memiliki makna sama dalam masyarakat Dayak, yakni sebagai “obor” dalam perjalanan seseorang menuju alam keabadian, setelah kematian.

Bagi suku Dayak yang tinggal di sekitar Kalimantan dan Sarawak Malaysia, tato di sekitar jari tangan menunjukkan orang tersebut suku yang suka menolong seperti ahli pengobatan. Semakin banyak tatoo di tangannya, menunjukkan orang itu semakin banyak menolong dan semakin arif dalam ilmu pengobatan. Bagi masyarakat Dayak Kenya dan Dayak Kayan di Kalimantan Timur, banyaknya tato menggambarkan orang tersebut sudah kuat mengembara. Setiap kampung memiliki motif tato yang berbeda, banyaknya tato menandakan pemiliknya sudah mengunjungi banyak kampung.

Berbeda pula dengan golongan bangsawan yang mamakai tato, motif yang lazim untuk kalangan bangsawan adalah burung enggang yakni burung endemik Kalimantan yang dikeramatkan. Ada pula tato yang dibuat di bagian paha. Bagi perempuan Dayak memiliki tatoo di bagian paha status sosialnya sangat tinggi dan biasanya dilengkapi gelang di bahagian bawah betis. Motif tato di bagian paha biasanya juga menyerupai simbol tato berbentuk muka harimau. Perbedaannya dengan tato di tangan, ada garis melintang pada betis yang dinamakan nang klinge.

Tatoo sangat jarang ditemui di bagian lutut. Meskipun demikian, ada juga tatoo di bagian lutut pada lelaki dan perempuan yang biasanya dibuat pada bagian akhir pembuatan tato di badan. Tato yang dibuat diatas lutut dan melingkar hingga ke betis menyerupai ular, sebenarnya anjing jadi-jadian atau disebut tuang buvong asu.

  1. E.                   SISTEM ORGANISASI KEMASYARAKATAN SUKU DAYAK
  2. a.         Sistem kekerabatan suku Dayak

Kata Dayak berasal dari kata “Daya” artinya hulu, untuk menyebutkan masyarakat yang tinggal di pedalaman atau perhuluan. Sebagian besar orang Dayak berdiam di wilayah kalimantan Tengah, Timur, Barat, serta sebagian kecil di Kalimantan Selatan. Sukubangsa Dayak terdiri atas beberapa sub-sukubangsa, antara lain Iban, Maanyan, Ngaju, Kenyah, Lawangan, Murut, dan sebagainya. Bilateral/ambilineal, yaitu menarik garis keturunan dari pihak ayah dan ibu. Sehingga sIstem pewarisan tidak membedakan anak laki-laki dan anak perempuan.

  1. b.        Bentuk Kehidupan Keluarga

1. Keluarga batih (nuclear family), wali/asbah (mewakili keluarga dalam al dan politik di lingkungan dan di luar keluarga) adalah anak laki-laki tertua.

2. Keluarga luas (extended family), wali/asbah adalah saudara laki-laki ibu dan saudara laki-laki ayah. Peran wali/asbah, misalnya dalam hal pernikahan, orang yang paling sibuk mengurus masalah pernikahan sejak awal sampai akhir acara. Oleh karena itu, semua permasalahan dan keputusan keluarga harus dikonsultasikan dengan wali/asbah. Penunjukan wali/asbah berdasarkan kesepakatan keluarga.

c.  Perkawinan Yang Boleh Dilakukan Dalam Keluarga Paling Dekat

1. Antara saudara sepupu dua kali. Perkawinan antara gadis dan bujang bersaudara sepupu derajat kedua (hajenan), yaitu sepupu dan kakek yang bersaudara.

2. Sistem endogamI (perkawinan yang ideal), yaitu perkawinan dengan sesama suku dan masih ada hubungan keluarga.

d.  Perkawinan Yang Dilarang :

1. Incest/ Salahoroi, anak dengan orangtua

2. Patri parallel – cousin, perkawinan antara dua sepupu yang ayah-ayahnya bersaudara sekandung.

3.Perkawinan antara generasi-generasi yang berbeda (contoh: tante + ponakan).

e.  Pola Kehidupan Setelah Menikah :

1. Pola matrilokal, suami mengikuti pihak keluarga istri,

2. Pola neolokal, terpisah dari keluarga kedua belah pihak. Ketika Huma Betang (longhouse) masih dipertahankan, keluarga baru harus menambah bilik pada sisi kanan atau sisi kiri huma betang sebagai tempat tinggal mereka.

f. Pola Kehidupan Setelah Menikah

1. Pola matrilokal, suami mengikuti pihak keluarga istri.

2. Pola neolokal, terpisah dari keluarga kedua belah pihak. Ketika humabetang (longhouse) masih di pertahankan, keluarga baru harus menambahkan bilik pada sisi kanan atau sisi kiri humabetang sebagai tempat tinggal mereka.

Prinsip keturunan ambilineal ini akan terwujud dalam system penggolongan harta  milik keluarga, yang dalam bahasa Dayak Tunjung disebut Barang lama atau babatn retaaq.

Jenis-Jenis Harta dalam Keluarga:

  • Barang Waris : Barang Waris adalah harta yang diperoleh dari harta yang diterima  dari orang tua sebagai harta warisan. Harta ini menjadi milik pribadi seorang suami atau istri.
  • Barang Mento / Retaq Mento : jenis ini adalah harta yang  diperoleh oleh suami atau isteri sebelum dia menikah.
  • Barang Rampuuq / Retaaq Rempuuq: harta jenis ini adalah harta yang diperoleh atas hasi usaha bersama suami isteri, misalnya hasil ladang atau kebun.

Penggolongan harta milik tersebut menjadi pedoman bagi seorang Hakim adat di desa dalam menyelesaikan perselisihan yang berhubungan dengan harta bila terjadi perceraian.

  1. 1.         Purus

Kelompok kekerabatan Suku Dayak Tunjung terikat oleh hubungan kekerabatan yang disebut dengan Purus. Purus ditentukan berdasarkan hubungan darah (Consanguity) dan hubungan yang timbul melalui perkawinan (affinity). Kesadaran akan purus ini pada masa yang silam sangat besar, hal ini terbukti dengan timbulnya pengelompokan yang disebut: Purus Hajiiq (Darah Bangsawan), Purus Merentikaaq (Orang Biasa/orang merdeka), Purus Ripatn (Darah Hamba sahaya). Dari hubungan kekerabatan ini orang dapat mengetahui jarak hubungan individu dengan kelompok atau dalam satu desa dan sifat dari hubungan ini. Jadi hubungan kekerabatan (purus) mempengaruhi pola interaksi individu dalam menyapa, menyebut terhadap orang yang lebih tua, lebih muda atau sederajat.

  1. 2.         Batak

Kelompok hubungan kekerabatan yang diperhitungkan melalui purus disebut BATAK. Individu-individu yang masih memiliki hubungan kekerabatan dalam suatu kelompok disebut SEBATAK(Satu Kelompok). Dalam kelompok seorang individu dapat membedakan dengan jelas orang-orang  yang tergolong dalam kelompoknya (Batak Tai) dan orang yang bukan termasuk dalam kelompoknya (Batak ULutn) dan dalam kegiatan tolong menolong pada umumnya orang-orang sebatak lah yang lebih banyak datang membantu.

  1. F.        SISTEM TEKNOLOGI DAN PERLENGKAPAN HIDUP

Banyak dari alat-alat perlengkapan hidup yang di niliki oleh suku dayak yang mempunyai fungsi dn kegunaan lebih dari satu, malah multi fungsi, misalnya parang dalam segala bentuk dan jenisnya, berfungsi bukan saja sebagai alat rumah tangga, tetapi juga sebagai alat pertanian, alat perburuan, alat perlengkapan persenjataan  dan lain-lain.

  1. a.      Alat-alat produksi

Alat-alat rumah tangga

  1. Bakul, kegunaannya: bakul yang terbuat dari ahas atau bamban pada umumnya di gunakan untuk  mengisai (mencuci) beras yang akan di masak, sedang yang terbuat ari bambu dan  purun, ukurannya yang lebih besar, biasa digunakan dalam wadah dalam rumah tangga, dansebagainya.
  2. Cupak atau garabuk. Kegunaanya berfungsi sebagai ember untuk menimba air dari sumur. Alat ini masih digunakan di desa-desa, terutama pada musim kemarau.
  3. Cubit ( cobek). Dibuat dari kayu atau tanah liat dan di lengkapi dengan  ulak-ulak (kulak) yang terbuat dari akar bambu. Kegunaannya: untuk menghakuskan bumbu-bumbu, sambal dan sebagainya.
  4. Gantang. Kegunaanya: sebagai alat pengukur/ penakar hasil pertanian (padi, beras dan kacang-kacangan), dan juga sebagai alat-alat penakar/ pengukur jual beli hasil-hasil pertanian.
  5. Parapatan. Terbuat dari tempuryng kelapa. Kegunaanya : sebagi alat penakar seperti pada gantang.
  6. Kandi atau buyung. Kegunaanya: untuk penyimpanan air minum, terutama kandi. Air yang tersimpan dalm kandi atau buyung rasnya sejuk.
  7. Nyiru.kegunaanya: digunakan terutama untuk membersihkan gabah kotor. Pekerjaan ini disebut menampi. Selain itu digunakan pula untuk keperluan-keperluan, misalnya untuk tempat menjemur ikan yang akan dikeringkan.
  8. Nyiru jarang atau ayakan. Di gunakan untuk memisahkan anatah dari beras.
  9. Panai. Kegunaanya : sebagai tempat air, tempat mencuci dll.
  10. Kuantan. Kegunaanya:untuk menanak nasi.
  11. b.      Alat-alat pertanian
    1. Balayung. Kegunaanya: untuk menebang kayu atau memotong kayu yang keras.
    2. Butah atau ungking. Kegunaanya: sebagi alat atau tempat untuk membawa alat-alat pertanian, seperti kapak, parang, blayung dan lain-lain. Juga digunakan untuk membawa hasil-hasil pertanian tanaman galangan seperti, ubi kayu, talas, dan lain-lain.
    3. Garu atau gagaru. Kegunaanya: untuk mengumpulkan rumbut-rumput yang sudah ditebasdisawah.rumpu-rumput dikumpulkan menjadi gundukan. Gundukan rumput ini di tarik dengan gagaruke pinggir sawah.
    4. Gumbaan. Kegunaan: digunakan untuk membersihkan gabah yang masih kotor untuk memperoleh gabah bersih, memisahkan atau menghilangkan sekam dari gabah yang telah di pecah dari kulitnya.
    5. Kandutan. Kegunaan: merupakan tempat untuk menampung atau mengumpulkan padi sewaktu menuai.
    6. Lanjung. Kegunaan: untuk mengangkut hail pertanian terutama mengangkut padi bertangkai dri sawah kerumah .
    7. 7.        Tangkitan. Kegunaan: sama dengan lanjung, digunakan juga untuk mengangkut hasil pertanian kepasr-pasar.
    8. Ranggaman (ani-ani). Kegunaan: untuk memotong atau menuai padi.
    9. Tajak. Kegunaan: untuk memptong rumput disawah sampai ke akar-akarnya.baik pada sawah yang berair maupun yang tidak berair(pematang sawh).
    10. Tatujah. Kegunaanya: membuat lubang di tanah persawahan yang bash atau berairuntuk menanam padi. Di tanah ladang atau sawah pematang dipergunakan asak  seperti alu yang ujung bawahnya diruncingkan.
    11. Parang. Kegunaanya: , berfungsi bukan saja sebagai alat rumah tangga, tetapi juga sebagai alat pertanian, alat perburuan, alat perlengkapan persenjataan  dan lain-lain.
    12. c.       Alat-alat perburuan
    13. Sarapang.
      1. Riwayang.
      2. Sapung
      3. Pulut
      4. Tombak
      5. Parang
      6. d.      Alat-alat perikanan
        1. Lukah. Kegunaanya : untuk kenangkap ikan. Dengan cra lukah di masukan beberapa siput sawah.
        2. Tempirai dan hampang. Kegunaanya: untuk menangkap ikan- ikan kecil setelah tempirai dan hampang terpasng, maka ikan dihalau untuk masuk ke dalam tempirai.
        3. Jambih. Kegunaanya: untuk menangkap ikan disawah yang airnya dangkal pada malam hari.
        4. Hampang balat. Kegunaanya: penangkapan ikan  di rumpon yaitu daerah perairan di sungai dan danau yang di timbuhi rerumputan.
        5. Hampang tarumbuan. Kegunaanya: untuk menangkap ikan.
        6. Lalangit sapat siam. Kegunaanya: untuk menangkap ikan didaerah perairan yang dalam sekitar 1-2 meter.
        7. Jala kalabau. Kegunaanya: menangkap ikan kalabau, alat ini digunakan pad kedalaman air antara 2-3 meter.
        8. Rawai atau banjur. Berfungsi: menangkap mikan pada malam hari.dengan umpan yang terbuat dari potongan-potongan ikan belutatau siput sawah yang besar.
        9. Susuduk, digunakan: menangkap ikan disungai.
        10. 10.  Kabam sanggi.  Berguna untuk menangkap ikan sanggiringan.
        11. 11.  Hampang sawar. Berguna untuk menangkap mikan dengn cara di halau.
        12. 12.  rawai tauman  Berguna untukmenangkap ikan gabus.
        13. 13.  Jala lompo. Berguna untuk menangkap ikan dengan cara menebar jala kedalam air.
        14. Belat/ sero, digunakan untuk menangkap ikan di pantai-pantai.
        15. Makanan khas suku Dayak

Menu khas Dayak yang terkenal yaitu umbut rotan dan daun singkong bersantan. Anda mungkin belum pernah mencoba makanan yang terbuat dari rotan. Anda tidak perlu  memiliki gigi yang kuat untuk mengunyah sesuatu yang biasanya digunakan untuk untuk membuat furniture. Rotan yang masih sangat muda dan lunak serta lapisan luarnya dibuang. Lalu bagian dalam rotan yang masih muda itu dimasak bersama sayuran lain. Rasanya agak kenyal dan pahit, dan sebaiknya dimakan dengan ikan.

F. Rumah adat suku Dayak

a. Rumah Panjang.

Rumah panjang yang merupakan rangkaian tempat tinggal yang bersambung telah dikenal semua suku Dayak, terkecuali suku Dayak Punan yang hidup mengembara, pada mulanya berdiam dalam kebersamaan hidup secara komunal di rumah panjang, yang lazim disebut Laou, Lamin, Betang, dan Lewu Hante. Persepsi suku Dayak tentang rumah panjang tercakup dalam minimal empat aspek penting dari rumah panjang itu sendiri yaitu aspek penghunian, aspek hukum dan peradilan, aspek ekonomi, dan aspek perlindungan dan keamanan. Tidak berlebihan bila rumah panjang bagi suku Dayak merupakan “centre for Dayak creation, art and inspiration”. Lebih dari itu, rumah panjang merupakan wujud konkrit dari solidaritas sosial budaya suku Dayak di masa lampau, bahkan menurut Layang dan Kanyan (1994) bahwa rumah panjang merupakan pusat kebudayaan Dayak, karena hampir seluruh kegiatan mereka berlangsung di sana.

b. Senjata Khas

Senjata khas yang di miliki suku Dayak di Kalimantan yang tidak di miliki oleh suku lainnya adalah mandau dan sumpit. Senjata khas yang disebut mandau terbuat dari lempengan besi yang ditempa berbetuk pipih panjang seperti parang berujung runcing menyerupai paruh burung yang bagian atasnya berlekuk datar. Pada sisi mata di asah tajam sedang sisi atasnya sedikit tebal dan tumpul. Kebanyakan hulu mandau terbuat dari tanduk rusa diukir berbentuk kepala burung dengan berbagai motif seperti kepala naga, paruh burung, pilin dan kait. Sarung mandau terbuat dari lempengan kayu tipis, bagian atasnya dilapisi tulang berbentuk gelang, bagian bawah dililit dengan anyaman rotan.

Demikian juga senjata khas yang disebut sumpit yaitu jenis senjata tiup yang dalamnya diisi dengan damak yang terbuat dari bambu yang diraut kecil dan tajam yang ujungnya diberi kayu gabus sebagai keseimbangan dari peluru sumpit. Kekuatan jarak tiup sumpit biasanya mencapai 30-50 meter. Sumpit terbuat dari kayu keras berbentuk bulat panjang menyerupai tongkat yang sekaligus merupakan gagang tombak dengan lubang laras sebesar jari kelilingking yang tembus dari ujung ke ujung. Pada ujung sumpit di lengkapi dengan mata tombak terbuat dari besi berbentuk pipih berujung lancip yang menempel diikat dengan lilitan rotan.

Di samping kedua jenis senjata itu masih terdapat satu peralatan yang disebut telabang atau perisai. Perisai ini terbuat dari kayu gabus dengan bentuk segi enam memanjang, keseluruhan bidang depannya beragam hias topeng (hudoq), lidah api dan pilin berganda.

b.Anyam-anyaman
Kerajinan tradisional dari orang Dayak berupa anyam-anyaman yang terbuat dari bahan baku rotan, terdapat di semua suku Dayak dengan pelbagai versi. Hal yang tampak khas terdapat dalam dua bentuk yaitu anyam tikar dengan aneka macam motif hias dan sejenis keranjang bertali yang lazim disebut anjat, kiang, berangka dan sebagainya.

c. Tembikar

Tembikar konon katanya berasal dari Cina, seperti bejana, tempayan, belanga, piring dan mangkok sejak ribuan tahun lalu merupakan bagian dari tradisi kehidupan suku Dayak di Kalimantan. Bahkan sebagian besar dari barang tersebut, terutama tempayan dan guci tidak hanya memiliki nilai ekonomis, melainkan juga memiliki nilai sosio religius yang difungsikan sebagai mahar (mas kawin) dan sarana pelbagai upacara adat, juga untuk menyimpan tulang-tulang leluhur serta sebagai lambang status sosial seseorang.

 

  1. G.    SISTEM PENGETAHUAN

 

1. Sistem Pengetahuan Tentang Gejala-Gejala Alam

Kebutuhan orang Dayak memperoleh padi ladang yang banyak telah melahirkan sistem pengetahuan yang dapat memahami sifat-sifat gejala alam yang berpengaruh terhadap perladangan. Menurut Mudiyono (1995) pengetahuan tentang gejala alam yang berkaitan dengan perladangan pada orang Dayak di Kalimantan adalah pengetahuan tentang bintang tujuh. Apabila bintang tujuh telah timbul maka pada malam hari udara akan menjadi teramat dingin sampai pagi hari adalah suatu pertanda bahwa orang sudah sampai pada waktunya mulai membuka ladang. Jika bintang tujuh di Timur, sedangkan bintang satu lebih rendah dari bintang tujuh menandakan bahwa orang sudah boleh mulai menanam padi. Apabila di langit tampak garis seperti tempbok dan awan menyerupai sisik ikan maka orang mengetahui bahwa musim kemarau telah tiba. Sebaliknya jika langit tampak merah pada pagi hari dan awan menggumpal seperti gunung adalah pratanda bahwa hari atau musim penghujan segera tiba. Gejala datangnya musim hujan dapat pula diketahui apabila akar-akar kayu yang tumbuh dipinggir sungai bertunas dan pohon buah-buah banyak yang berbunga.

Ketika tanda-tanda alam telah memberitahu bahwa musim kemarau segera akan tiba maka orang mulai bersiap diri untuk berladang. Parang dan beliung sebagai alat berladang mulai di asah supaya tidak menemui hambatan pada saatnya membuka ladang. Pekerjaan berladang harus memperhatikan benar-benar perputaran waktu dan memahami sifat-sifatnya. Ketidak sesuaian antara kondisi alam dengan tahapan berladang akan mengakibatkan kegagalan panen dan bila hal ini terjadi adalah merupakan malapetaka bagi penduduk.

Sistem pengetahuan mereka juga mengajarkan bahwa apabila akan membuat bahan-bahan rumah, hendaknya tidak menebang pohon kayu dan bambu pada waktu bulan di langit sedang membesar karena pelanggaran yang dilakukan

berarti kayu dan bambu akan cepat dimakan bubuk. Oleh karena itu waktu yang tepat untuk meramu bahan-bahan bangunan kayu dan bambu adalah ketika bulan di langit sedang surut.

  1. 2.      Pengetahuan Tentang Lingkungan Fisik

Lingkungan fisik orang Dayak adalah hutan. Orang Dayak mengenal persis jenis-jenis hutan yang paling baik untuk dijadikan ladang. Untuk memastikan kesuburan tanah, biasanya terlebih mereka meneliti keadaan pepohonan yang tumbuh dan tanah di bagian permukaan. Jika terdapat pohon-pohon kayu besar dan tinggi menandakan tanah tersebut sudah lama tidak di ladangi dan karena itu humusnya sangat subur. Untuk memastikan kesuburan tanah di amatinya dengan cara memasuki ujung parang ke dalam tanah kira-kira 10 cm. Ketika parang dicabut kembali maka tanah yang melekat pada ke dua belah sisi parang dapat menunjukkan tentang kesuburan tanah. Jika banyak tanah yang melekat pada ke dua sisi parang dan gembur kehitam-hitaman berarti tanah setempat adalah subur. Sebaliknya jika kondisi tanah setempat kurus maka yang melekat ke dua sisi parang adalah tanah berpasir.

Lingkungan fisik lain yang dikenal sebagai tempat berladang adalah tanah yang terletak pada lembah di antara bukit-bukit. Jenis tanah ini khusus orang Dayak di Kalimantan Barat di sebut jenis tanah payak labak atau payak. Keadaan tanah paya selalu berair dan becek. Ladang di tanah paya biasanya bersifat monokultur dapat ditanam padi selama 3 tahun berturut-turut. Sesudah tahun ke tiga tanah paya ditinggalkan selama 2-4 tahun untuk kemudian ditanam lagi.

  1. 3.              Pengetahuan Tentang Jenis-Jenis Tanaman

Pengetahuan tentang flora diperoleh secara turun temurun. Beraneka ragam jenis tanaman dan tumbuh-tumbuhan dikenal sebagai flora untuk dimakan, dijadikan obat dan untuk berburu dan menuba ikan. Jenis tanaman untuk dikonsumsi sendiri kecuali padi dikenal juga tanaman jenis cabai

(Capsicum annuum L), mentimun (Cucumis sativus L), jagung (Zea mays L), singkong (Manihot utilissima L), bambu muda atau rebung (Bambusa spinosa). Tanaman jenis palawija dan sayur-sayuran ditanam secara tumpang sari pada lahan ladang. Pohon buah-buahan yang paling banyak adalah durian yang tidak dibudidayakan secara baik sehingga lebih berkesan sebagai pohon buah-buahan yang tumbuh liar pada tanah-tanah bekas ladang.

Orang Dayak juga mengenal jenis-jenis tumbuh-tumbuhan pembuat warna pada anyaman tikar atau barang-barang kerajinan. Warna merah dapat diperoleh dari kulit buah joronang untuk memberi warna merah pada rotan dan sebagainya. Kulit kayu porete dapat memberikan warna hitam dan kulit kayu ngkubogng dapat dimanfaatkan sebagai lem pada kayu. Jenis-jenis tumbuhan secara liar di hutan-hutan Kalimantan. Orang Dayak di Kalimantan khusus di Kalbar juga mengenal getah kayu yang disebut ipuh yang mengandung racun dan amat berbahaya karena dapat mematikan. Getah kayu ipuh dipakai untuk memolesi ujung tombak atau ujung anak sumpit. Binatang buruan seperti rusa, babi hutan yang terkena ujung tombak yang sudah diberi getah kayu ipuh, walaupun hanya terluka sedikit maka dalam waktu sebentar binatang tersebut akan mati. Kulit dan daging di sekitar luka harus dibuang sebelum dimasak dan tidak boleh dimakan.

Sebagai masyarakat yang akrab dengan lingkungan hutan, orang Dayak juga memiliki pengetahuan dalam membedakan dengan baik jenis-jenis kayu yang sangat baik mutunya untuk ramuan bahan-bahan bangunan. Seperti kayu besi atau kayu belian (ensidroxylon zwageri), meranti merah (shorea leprosula).

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Letak geografis

Propinsi daerah tingkat I Kalimantan Timur mempunyai luas wilayah kurang lebih 211.440 Km2 yang terletak di daerah khatulistiwa antara 11344’ bujur timur dan 11900’ bujur barat dan 4241-225 lintang utara. Sebelah selatan berbatasan dengan negara Sabah / Malaysia. Sebelah timur membentang daerah rendah sepanjang kurang lebih 500 mil menyusuri pantai Laut Sulawesi dan Selat Makasar, yang merupakan perbatasan di sebelah timur, sedangkan sebelah barat membentang dinding pegunungan Iban dan pegunungan Muller. Sebelah timur berbatasan dengan Laut Sulawesi dan Selat Makassar yang merupakan alur perhubungan transaksi untuk perdagangan Lintas Nasional dan Internasional.

SISTEM RELIGI DAN KEPECAYAAN

Sejak awal kehidupannya, orang Dayak telah memiliki keyakinan yang asli milik mereka, yaitu Kaharingan atau Agama Helo/helu/. Keyakinan tersebut, menjadi dasar adat istiadat dan budaya mereka. Agama Helo/helu/ atau Kaharingan hingga saat ini masih dianut oleh sebagian besar orang Dayak, walau pada kenyataannya, tidak sedikit orang Dayak yang telah menganut agama Islam, Kristen, Katholik. Demikian pula tidak semua penduduk pedalaman Kalimantan adalah orang Dayak, karena telah berbaur dengan penduduk dari berbagai suku akibat perkawinan dan berbagai sebab lain. Walaupun demikian, tradisi lama dalam hidup keseharian mereka masih melekat erat tidak hanya dalam bahasa, gerak-gerik, symbol, ritus, serta gaya hidup, namun juga dalam sistem nilai pengartian dan pandangan mereka dalam memaknai kehidupan.

BAHASA

Bahasa suku Dayak menggunakan bahasa Indonesia , bahasa Maanyan , dan bahasa Ngaju sebagai bahasa yang digunakan dalam kesehariannya.

KESENIAN

Orang Dayak walaupun dalam kehidupan yang agak sederhana, ternyata sangat gemar akan kesenian. Menurut Riwut (1958) kesenian yang di miliki oleh orang Dayak di Kalimantan berupa seni: (1) tari; (2) suara; (3) ukir; dan (4) seni lukis.

SISTEM ORGANISASI KEMASYARAKATAN

Sistem kekerabatan

Sistem kekarabatan pada orang Dayak pada adalah bersifat bilateral atau parental. Anak laki-laki maupun perempuan mendapat perlakuan yang sama, begitu juga dalam pembagian warisan pada dasarnya juga tidak ada perbedaan, artinya tidak selamanya anak-laki mendapat lebih banyak dari anak perempuan, kecuali yang tetap tinggal dan memelihara orang tua hingga meninggal, maka mendapat bagian yang lebih bahkan kadang seluruhnya. Demikian juga tempat tinggal setelah menikah pada orang Dayak lebih bersifat bebas memilih dan tidak terikat. Sistem perkawinan pada dasarnya menganut sistem perkawinan eleotherogami dan tidak mengenal larangan atau keharusan sebagaimana pada sistem endogami atau eksogami, kecuali karena hubungan darah terdekat baik dalam keturunan garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketujuh.

MATA PENCAHARIAN

Mata pencaharian orang Dayak selalu ada hubungannya dengan hutan, misalnya berburu, berladang, berkebun mereka pergi ke hutan. Mata pencaharian yang berorientasi pada hutan tersebut telah berlangsung selama berabad-abad, dan ternyata berpengaruh terhadap kultur orang Dayak. Misalnya rumah panjang yang masih asli seluruhnya dibuat dari kayu yang diambil dari hutan, demikian juga halnya dengan sampan-sampan kecil yang dibuat dengan teknologi sederhana yaitu dengan cara mengeruk batang pohon, peralatan kerja seperti kapak, beliung, parang, bakul, tikar, mandau, perisai dan sumpit semuanya (paling tidak sebagian) bahan-bahannya berasal dari hutan.

KESENIAN

Kesenian seperti seni tari, seni suara, seni ukir, seni lukis orang Dayak merupakan salah satu aspek dari kebudayaan Dayak yang memiliki bentuk dan ciri-ciri khas pada tiap-tiap sub suku Dayak. Walaupun demikian, pada hampir semua sub suku Dayak memiliki ciri-ciri dasar yang sama atau mirip, hal ini menandakan bahwa terdapat hubungan kekarabatan pada masa lampau.

Hutan bagi masyarakat Dayak merupakan “dunia” atau kehidupan mereka. Kedudukan dan peranan hutan semacam ini telah mendorong petani Dayak memanfaatkan hutan di sekitar mereka dan sekaligus menumbuhkan komitmen untuk menjaga kelestariannya demi keberadaan dan kelanjutan hidup hutan itu sendiri, kehidupan mereka sebagai individu dan kelompok, dan juga demi hubungan baik mereka dengan alam dan Tuhan mereka. Untuk melaksanakan tugas dan komitmen tersebut, masyarakat Dayak dibekali dengan mekanisme alamiah dan nilai budaya yang mendukung, pemanfaatan hutan demi kelanjutan hidup mereka dan pelestarian alam.

SISTEM TEKNOLOGI DAN PERLENGKAPAN HIDUP

Banyak dari alat-alat perlengkapan hidup yang di niliki oleh suku dayak yang mempunyai fungsi dn kegunaan lebih dari satu, malah multi fungsi, misalnya parang dalam segala bentuk dan jenisnya, berfungsi bukan saja sebagai alat rumah tangga, tetapi juga sebagai alat pertanian, alat perburuan, alat perlengkapan persenjataan  dan lain-lain.

Alat-alat produksi

Alat-alat pertanian

Alat-alat perikanan

Makanan khas suku Dayak

Menu khas Dayak yang terkenal yaitu umbut rotan dan daun singkong bersantan. Anda mungkin belum pernah mencoba makanan yang terbuat dari rotan. Anda tidak perlu  memiliki gigi yang kuat untuk mengunyah sesuatu yang biasanya digunakan untuk untuk membuat furniture. Rotan yang masih sangat muda dan lunak serta lapisan luarnya dibuang. Lalu bagian dalam rotan yang masih muda itu dimasak bersama sayuran lain. Rasanya agak kenyal dan pahit, dan sebaiknya dimakan dengan ikan.

Rumah adat suku Dayak

a. Rumah Panjang.

Rumah panjang yang merupakan rangkaian tempat tinggal yang bersambung telah dikenal semua suku Dayak, terkecuali suku Dayak Punan yang hidup mengembara, pada mulanya berdiam dalam kebersamaan hidup secara komunal di rumah panjang, yang lazim disebut Laou, Lamin, Betang, dan Lewu Hante. Persepsi suku Dayak tentang rumah panjang tercakup dalam minimal empat aspek penting dari rumah panjang itu sendiri yaitu aspek penghunian, aspek hukum dan peradilan, aspek ekonomi, dan aspek perlindungan dan keamanan.

b. Senjata Khas

Senjata khas yang di miliki suku Dayak di Kalimantan yang tidak di miliki oleh suku lainnya adalah mandau dan sumpit. Senjata khas yang disebut mandau terbuat dari lempengan besi yang ditempa berbetuk pipih panjang seperti parang berujung runcing menyerupai paruh burung yang bagian atasnya berlekuk datar.

b.Anyam-anyaman
Kerajinan tradisional dari orang Dayak berupa anyam-anyaman yang terbuat dari bahan baku rotan, terdapat di semua suku Dayak dengan pelbagai versi. Hal yang tampak khas terdapat dalam dua bentuk yaitu anyam tikar dengan aneka macam motif hias dan sejenis keranjang bertali yang lazim disebut anjat, kiang, berangka dan sebagainya.

c. Tembikar

Tembikar konon katanya berasal dari Cina, seperti bejana, tempayan, belanga, piring dan mangkok sejak ribuan tahun lalu merupakan bagian dari tradisi kehidupan suku Dayak di Kalimantan. Bahkan sebagian besar dari barang tersebut, terutama tempayan dan guci tidak hanya memiliki nilai ekonomis, melainkan juga memiliki nilai sosio religius yang difungsikan sebagai mahar (mas kawin) dan sarana pelbagai upacara adat, juga untuk menyimpan tulang-tulang leluhur serta sebagai lambang status sosial seseorang.

SISTEM PENGETAHUAN

a.Sistem Pengetahuan Tentang Gejala-Gejala Alam

Kebutuhan orang Dayak memperoleh padi ladang yang banyak telah melahirkan sistem pengetahuan yang dapat memahami sifat-sifat gejala alam yang berpengaruh terhadap perladangan.

b. Pengetahuan Tentang Lingkungan Fisik

Lingkungan fisik orang Dayak adalah hutan. Orang Dayak mengenal persis jenis-jenis hutan yang paling baik untuk dijadikan ladang. Untuk memastikan kesuburan tanah, biasanya terlebih mereka meneliti keadaan pepohonan yang tumbuh dan tanah di bagian permukaan. Jika terdapat pohon-pohon kayu besar dan tinggi menandakan tanah tersebut sudah lama tidak di ladangi dan karena itu humusnya sangat subur.

c.Pengetahuan Tentang Jenis-Jenis Tanaman

Pengetahuan tentang flora diperoleh secara turun temurun. Beraneka ragam jenis tanaman dan tumbuh-tumbuhan dikenal sebagai flora untuk dimakan, dijadikan obat dan untuk berburu dan menuba ikan.

 

DAFTAR PUSTAKA

  • http://arkandien.blogspot.com/2010/06/kebudayaan-dayak-dulu-dan-sekarang.html
  • Almutahar, Hasan. 1995. Respon Petani Dayak Kandayan Terhadap Teknologi Pertanian, Bandung: Tesis Magister, Program Pascasarjana UNPAD.
  • Alqadrie, Syarif. I. 1987. Cultural Differences and Social Life Among Three Ethnic Groups in West Kalimantan Case, Tesis M.Sc, Lexington, Kentucky: College of Agriculture, Agricultural and Rural Sociologi, University of Kentucky.
  • Garna, Judistira K. 1996. Ilmu-Ilmu Sosial, Dasar-Konsep-Posisi, Bandung: Program Pascasarjana Unpad.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: