Kajian kemiskinan dan Kriminalitas

Published Mei 5, 2012 by purplenitadyah

  Kajian Kemiskinan dan Kriminalitas (UTS)

  • Pengertian Kemiskinan menurut para ahli :

Pengertian kemiskinan disampaikan oleh beberapa ahli atau lembaga, diantaranya:

<!–more read–>

  1. BAPPENAS (1993) mendefisnisikan kemiskinan sebagai situasi serba kekurangan yang terjadi bukan karena kehendak oleh si miskin, melainkan karena keadaan yang tidak dapat dihindari dengan kekuatan yang ada padanya.
  2. Levitan (1980) mengemukakan kemiskinan adalah kekurangan barang-barang dan pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan untuk mencapai suatu standar hidup yang layak.
  3. Faturchman dan Marcelinus Molo (1994) mendefenisikan bahwa kemiskinan adalah ketidakmampuan individu dan atau rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
  4. Menurut Ellis (1994) kemiskinan merupakan gejala multidimensional yang dapat ditelaah dari dimensi ekonomi, sosial politik.
  5. Menurut Suparlan (1993) kemiskinan didefinisikan sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.
  6. Reitsma dan Kleinpenning (1994) mendefisnisikan kemiskinan sebagai ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya, baik yang bersifat material maupun non material.
  7. Friedman (1979) mengemukakan kemiskinan adalah ketidaksamaan kesempatan untuk memformulasikan basis kekuasaan sosial, yang meliptui : asset (tanah, perumahan, peralatan, kesehatan), sumber keuangan (pendapatan dan kredit yang memadai), organisiasi sosial politik yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai kepentingan bersama, jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang atau jasa, pengetahuan dan keterampilan yang memadai, dan informasi yang berguna.

Referensi : http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2177548-konsep-dan-definisi-kemiskinan/

  • Analisis definisi yang sesuai dengan gambaran tentang kemiskinan di Indonesia adalah :

Definisi menurut, Friedman (1979) mengemukakan kemiskinan adalah ketidaksamaan kesempatan untuk memformulasikan basis kekuasaan sosial, yang melip           uti : asset (tanah, perumahan, peralatan, kesehatan), sumber keuangan (pendapatan dan kredit yang memadai), organisiasi sosial politik yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai kepentingan bersama, jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang atau jasa, pengetahuan dan keterampilan yang memadai, dan informasi yang berguna.

  • Bukti-bukti yang terlihat dalam masyarakat adalah:
  1. Sulit bagi rakyat miskin untuk mendapat pengobatan gratis ke puskesmas atau rumah sakit, mereka di bebankan untuk membayar administrasi terlebih dahulu untuk mendapatkan pelayann pengobatan.
  2. Pembagian  BLT (bantuan langsung tunai) yang tidak merata dan tepat sasaran, membuat rakyat miskin semakin terpuruk.
  3. Pemberian jaminan modal usaha yang di janjikan oleh pemerintah yang tak pasti. Masyarakat desa yang berada dikota, di pulangkan kedesa dn di janjikan akan diberikan modal untuk membuka usaha didesa, tetapi pemerintah hanya memberikan janji saja. Sehingga masyarakat desa kembali lagi ke kota.
  4. Banyaknya pengangguran, karena kurangnya penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat miskin yang berpendidikan rendah.
  5. Kurangnya perluasan kesempatan pendidikan untuk warga kurang mampu.penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi orang dewasa, dan pemberian bantuan kepada kaum miskin usia lanjut.

 

  1. a. Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang di sebabkan oleh faktor-faktor buatan manusia seperti kebijakan ekonomi yang tidak adil, distribusi aset produksi yang tidak merata, korupsi dan kolusi dan tatanan ekonomi dunia yang cenderung menguntungkan kelompok masyarakat tertentu.

Faktor-faktor penyebab kemiskinan struktural adalah (a) Ketidakmampuan mengelola sumber daya alam secara maksimal; (b) Kebijakan ekonomi yang tidak berkomitmen terhadap penanggulangan kemiskinan dan semata-mata mengejar pertumbuhan ekonomi (trickle down effect)  tidak bekerja.

(c) rendahnya kualitas pendidikan dan terbatasnya akses terhadap layanan publikserta minimnya modal ubtuk membangun usaha.

ü            Solusinya : pemerintah harus benar-benar memperhatikan nasib masyarakat miskin, dengan cara membuat program kerja yang tepat sasaran. Meningkatan produktivitas pertanian di pedesaan sehingga masyarakat desa mampu keluar dari jeratan kemiskinan dengan tetap bekerja di sektor pertanian pedesaan. Meningkatan produktivitas non-pertanian, baik di daerah perkotaan maupun di daerah pedesaan yang  (dikotakan) dengan cepat. Dalam hal ini, transisi melalui usaha non-tani pedesaan merupakan batu pijakan penting untuk bergerak keluar dari kemiskinan, baik melalui upaya menghubungkan usaha pedesaan dengan proses pertumbuhan perkotaan, atau lebih penting lagi, dengan memasukkan usaha-usaha di daerah pedesaan pinggir kota ke dalam daerah perkotaan. Pertanian pedesaan Non-pertanian pedesaan Pertanian perkotaan Non-pertanian perkotaan Miskin Non-miskin keluar dari kemiskinan. Lagi pula, banyak di antara daerah (pedesaan) tersebut berubah menjadi daerah perkotaan pada akhir jangka waktu tersebut, yang menunjukkan peranan saling melengkapi antara urbanisasi dan peningkatan produktivitas.

b. Kemiskinan kultural adalah kemiskinan yang bersumber dari dalam diri manusia itu sendiri, bukan kesalahan alam atau kebijakan pejabat pemerintah.

Faktor-faktor penyebab kemiskinan kultural adalah Kebudayaan kemiskinan (kemiskinan kultural) dalam komunitas pedesaan sebenarnya lebih disebabkan sikap apatis dan “frustasi” terhadap kemiskinan struktural itu sendiri. Semangat niaga dan lepas dari belenggu kemiskinan sebenarnya dimiliki oleh komunitas petani maupun nelayan. Perilaku boros, judi dan mabuk-mabukkan adalah gejala yang menimpa individu petani pedesaan sesungguhnya tidak dapat digeneralisir. Berbagai individu maupun kelompok petani pedesaan telah terjadi mobilitas sosial vertikal (kenaikan status) misalnya buruh tani menjadi pemilik, nelayan menjadi juragan, menggambarkan kondisi sosiologis masyarakat pedesaan yang tidak sepenuhnya hidup dengan budaya miskin.

ü           Solusinya : Masyarakat miskin jangan hanya berpangku tangan dan terbelenggu dalam dunia kemiskinan, harus mempunyai motivasi diri untuk bangkit dari keterpurakan, dengan cara memberdayakan kemampuan yang di milikinya,yaitu dengan mendirikan gerakan PKK, membuat kerajinan-kerajinan tangan dengan memanfaatkan limbah rumah tangga.

  1. Tema : Langkah strategis melawan kemiskinan

Teknologi Informasi dan Komunikasi,Strategi Peduli Kemiskinan”

A. Kemiskinan di Indonesia dan Upaya Mengurangi Kemiskinan

Pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan rencana jangka panjang (Tahun 2004–2015) untuk mengatasi kemiskinan, yang akan dipresentasikan dalam Kertas Kerja SPKN. Sesuai dengan kebijakan pemerintah, Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK) telah merumuskan dua cara pendekatan utama menuju pengurangan kemiskinan, yaitu:

  • Menambah pendapatan masyarakat miskin dengan cara meningkatkan produktivitas dan kemampuan manajerialnya serta membantu mereka memperoleh peluang dan perlindungan sosial yang lebih baik agar dapat mencapai status sosial, ekonomi, dan politik yang lebih baik; dan
  • Mengurangi pembiayaan kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakat miskin seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur agar dapat menunjang kegiatankegiatan sosial dan ekonomi.

B. TIK dalam Pembangunan

Di Indonesia, pemanfaatan potensi TIK untuk membantu upaya pemerintah mengurangi kemiskinan masih sangat langka. Sekaranglah waktu yang tepat untuk menggairahkan kembali perlawanan terhadap kemiskinan di Indonesia dengan memberdayakan peran TIK dalam pembangunan nasional, bergandengan dengan langkah-langkah lain yang telah diambil untuk mengurangi kemiskinan. Strategi TIK mempertemukan tiga pokok yang mendesak dalam pembangunan di Indonesia yang akan bersinergi secara padu ke dalam kekuatan yang andal untuk meningkatkan kehidupan kaum miskin di Indonesia. Pertama, strategi TIK akan memantapkan komitmen nasional untuk merangkul dan memanfaatkan TIK di bawah naungan Kerangka Nasional Teknologi Informasi (National Information Technology Framework). Kedua, strategi TIK akan meningkatkan upaya mengurangi kemiskinan secara nasional sebagaimana tercantum dalam SPKN. Ketiga, implementasi strategi yang memanfaatkan pendekatan desentralisasi akan mendorong proses pengalihan peran dan tanggung jawab pemerintah pusat ke tingkat daerah.

C. Mengapa TIK?

TIK terbukti berhasil membantu secara efektif upaya-upaya mengurangi kemiskinan dinegara-negara yang sedang berkembang, seperti Peru, Cina, Kepulauan Solomon,Zimbabwe, dan India. Pengalaman-pengalaman dan pelajaran yang diperoleh dari usaha serupa di tempat lain menunjukkan bahwa TIK paling efektif bila digunakan sebagai alat untuk pembangunan,menunjang strategi-strategi pembangunan yang telah dilaksanakan atau akan disusun,Teknologi Informasi dan Komunikasi daripada jika TIK diharapkan sebagai buah atau hasil pembangunan itu sendiri. Oleh karena itu, strategi TIK menawarkan jurus-jurus tambahan untuk melengkapi teknologi yang diterapkan, agar dapat lebih menjamin keefektifannya dalam melawan kemiskinan.

Hasil optimum TIK akan diperoleh jika teknologi tersebut ditanamkan dalam strategi pembangunan yang terjabarkan secara jitu. Jika tidak demikian, TIK hanya akan merupakan pemecahan yang bermasalah, dan dampaknya pasti kurang. Hubungan antara TIK dan Pembangunan dapat dilihat pada Gambar 11.

Untuk mendorong pengembangan strategi TIK di Indonesia maka sejumlah pengamatan yang terkait dan pelajaran yang dapat ditarik dari pengalaman-pengalaman di tempat lain yang menerapkan potensi TIK patut dipertimbangkan:

Jika berdiri sendiri, TIK tidak dapat berperan optimal

Jika tidak ada strategi pembangunan yang jitu, maka TIK tidak dapat diharapkan memberikan hasil optimal. Baik penyebab kemiskinan, maupun kebutuhan kaum miskin serta kaum yang terpinggirkan harus dibidik tepat, terutama yang berkaitan dengan wanita dan anak-anak. Tiap wacana yang menggunakan TIK dalam upaya mengurangi kemiskinan mensyaratkan bahwa para penganjurnya mendefinisikan unsur-unsur penunjang yang esensial untuk mencapai hasil yang diinginkan.

  • TIK paling tepat dimanfaatkan untuk menyempurnakan proses yang sudah

berjalan cukup baik

TIK tidak dapat memperbaiki pembangunan yang gagal, tetapi TIK dapat membuat pembangunan yang berhasil menjadi lebih baik. Teknologi hanyalah satu komponen dalam pembangunan. Ada sejumlah komponen lain yang harus berfungsi efektif agar teknologi dapat memberikan sumbangannya. Komponen mana yang telah berjalan dengan baik dalam pembangunan, akan berperan lebih efektif lagi jika menggunakan TIK. Jika digunakan secara salah, TIK hanya akan menambah beban biaya yang tidak perlu dan akan menimbulkan kekecewaan di kalangan pemakai dan penganjurnya jika hasil yang diharapkan tak tampak, sehingga menghambat usaha-usaha selanjutnya untuk memanfaatkan TIK.

  • Pengguna TIK biasanya orang-orang yang sudah akrab dengan TIK

Pada saat TIK diperkenalkan maka orang yang mampu dan dapat menggunakannya akan segera memakainya. Kelompok pertama yang merangkul teknologi biasanya orang-orang yang terpelajar, yang mampu, dan yang menyadari kegunaannya. Kenyataan itu dapat berdampak positif, tetapi berisiko menyisihkan yang tidak terpelajar, yang tidak mampu, dan yang tidak menyadari kegunaannya. Oleh karena itu, intervensi TIK harus dibarengi mekanisme peduli kemiskinan, yang membidik terutama orang-orang yang kurang beruntung, agar dapat berbagi dengan mereka kelebihan-kelebihan yang dapat diberikan TIK.

  • Penerapan efektif TIK melibatkan baik infrastruktur teknologi maupun

infrastruktur informasi

Mengerahkan sumber-sumber informasi menjadi infrastruktur yang terpadu

memerlukan metode dan keterampilan yang sangat berbeda dengan yang diperlukan untuk membangun infrastruktur teknologi. TIK dapat menjadi alat yang efektif untuk melawan kemiskinan, tetapi penyebaran teknologi seyogyanya tidak menjadi tujuan akhirnya. Perubahan-perubahan radikal dalam peran organisasi dan tanggung jawab akan terjadi; untuk itu perlu ditegakkan mekanisme yang dapat mengubah mekanisme pengelolaan yang kurang efektif. Langkah tersebut biasanya memerlukan intervensi langsung dari pihak pemerintah.

  • Di perdesaan negara berkembang (yaitu tempat tinggal mayoritas

penduduknya), instalasi dan perawatan infrastruktur teknologi relatif

mudah dibandingkan dengan pengadaan infrastruktur informasi

 

Infrastruktur Indonesia miskin dan terkebelakang. Penanggulangannya secara

kreatif sangat diperlukan, agar dapat mewujudkan keterhubungan (connectivity) komunitas perdesaan. Banyak komunitas kepulauan masih belum terhubung melalui fasilitas telepon kabel, apalagi dengan Internet. Solusinya dapat merupakan tantangan yang sangat teknis, sehingga perlu dikerahkan teknisi-teknisi andal yang ada. Akan tetapi, betapa pun kreatif dan efisiennya teknologi, implementasinya akan selalu dinilai dari hasil penerapannya. Sekalipun demikian, tantangan teknologi jangan sampai mengalihkan perhatian dari tujuan pokoknya, yaitu membangun infrastruktur informasi.

  • Dengan TIK, kita pantas berharap; bahkan yang tidak terduga pun dapat

muncul sebagai hasil

Implementasi TIK membawa dinamika tersendiri dan proyek-proyek harus

mengakui bahwa penerapan teknologi akan mengubah dinamika permasalahan. Misalnya, dapat saja diperoleh hasil yang tidak pernah diharapkan, tetapi ternyata justru lebih baik daripada yang diharapkan. Itu terjadi saat masyarakat menerapkan teknologi sesuai kebutuhannya sendiri, yang mungkin tidak direncanakan oleh penganjurnya. Hal seperti itu justru baik, menandakan keberhasilan intervensi dalam menanggapi kebutuhan sosial.

D. STRATEGI TIK UNTUK MENGURANGI KEMISKINAN DI INDONESIA

Stragegi TIK untuk mengurangi kemiskinan di Indonesia menempatkan kalangan miskin di teras persoalan. Sasaran-sasaran langsung dari strategi itu adalah meningkatkan pendapatan mereka dan mengurangi biaya yang harus dikeluarkan untuk mengakses layanan masyarakat. Untuk itu, mereka cukup mengakses TIK yang diimplementasi untuk menyediakan layanan tersebut. Implementasi yang sesuai di sini berarti bahwa layanan tersebut akan:

  • bersifat interaktif
  • berorientasi pada pemakai
  •  sesuai dengan kebutuhan (demand driven)
  •  menggunakan bahasa yang sesuai
  •  responsif terhadap kebutuhan yang selalu berubah
  •  disampaikan melalui akses yang terpasang
  •  bersumber pada rencana pengembangan berbasis komunitas

Layanan yang digunakan akan mengedepankan keempat tonggak pengurangan kemiskinan di Indonesia, yaitu: (1) menciptakan peluang kerja; (2) memberdayakan masyarakat; (3) mengembangkan kemampuan; dan (4) menciptakan perlindungan sosial. Layanan-layanan seperti itu akan dikembangkan melalui kemitraan tiga arah antara organisasi-organisasi pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat umum. Pemerintah dipandang sebagai penyedia utama informasi, terutama untuk layanan masyarakat di bidang kesehatan, pendidikan, penunjangan pertanian, dan pengembangan usaha-mikro. Akan tetapi, bentuk informasi yang berasal dari pemerintah seringkali tidak dapat dimengerti masyarakat luas dan memerlukan pemrosesan ekstensif. Pilihannya adalah lembaga-lembaga pemerintah akan melakukannya sendiri, atau bermitra dengan instansi lain, sektor swasta, atau LSM untuk melaksanakannya. Mekanisme penyampaian akan muncul dari pengaturan kemitraan yang melibatkan organisasi masyarakat dan sektor swasta. Instalasi umum TIK dalam bentuk telecentre yang kepemilikannya berada di tangan masyarakat setempat menjadi faktor penentu dalam menjamin keberlanjutannya. Oleh karena itu, bentuk-bentuk lokal kepemilikan akan sangat dianjurkan agar diberdayakan. Lagi pula, karena keberterimaan (acceptance) masyarakat juga merupakan kriteria keberlanjutan, maka kemitraan setempat dengan lembaga organisasi masyarakatnya akan sangat dianjurkan, dan akan dapat memobilisasi kalangan miskin untuk menyuarakan rencana pengembangannya sendiri, yang berlandas pada akses yang lebih baik ke informasi yang melimpah.

Referensi :

  1. Pohon masalah yang kelompok saya bahas mengenai temanya tentang “Kemiskinan karena Hedonisme”.

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang terjerat ke dalam gaya hedonisme yang sebagaimana akan dibahas dalam penjelasan dibawah ini.

Akar masalah dari kemiskinan karena hedonisme adalah:

  1. Faktor ekstern, di sebabkan karena arus indutrialisasi dan globalisasi, nilai yang dulu di anggap tabu kini sudah menjadi hal yang biasa saja, media komunikasi yang banyak menyajikan tayangan-tayangan dan iklan yang menunjukkan sikap hedonis, kebutuhan seseorang untuk berkomunitas tetapi salah memilih komunitas ehingg terjebak pada kehidupan yang hedonis.
    1. Faktor intern, disebabkan karena lemahnya keyakinan agama dan keimanan seseorang.

Penyebab dari masalah kemiskinan karena hedonisme yaitu :

  1. Biasanya kecenderungan kepada hedonisme berpangkal pada kepribadian seseorang. Misalnya, kesombongan dan egoisme
    adalah penyebab kecenderungan seseorang kepada kehidupan
    mewah. Orang sombong akan selalu membanggakan kekayaan dan
    kedudukan yang dimilikinya untuk menunjukkan keunggulannya
    atas orang lain. Persaingan tidak sehat untuk menunjukkan kemewahan terkadang menimbulkan perasaan dengki dan iri. Mereka
    mengira bahwa cara menunjukkan kelebihan atas orang lain
    adalah dengan cara bersaing seperti ini. Orang yang
    hedonis memandang rendah kepada orang lain. Pandangan ini
    sudah barang tentu akan menyebabkan timbul jurang yang  dalam antara mereka dengan orang lain. Dalam mengumpul harta dan barang-barang mewah mereka akan dikuasai oleh sifat ketamakan, dan orang seperti ini tidak akan bersedia memberikan harta mereka kepada orang lain.
  2. Penyebab lain penyakit hedonisme ialah, kepribadian tidak sempurna yang dimiliki oleh seseorang. Dari pandangan psikologi, orang yang cenderung kepada kemewahan berusaha menutupi kelemahan dirinya yang kurang dari segi ilmu dan spiritual. Pada sebagian kasus, kita menyaksikan orang-orang kaya yang tidak tahu bagaimana membelanjakan hartanya. Karena itu, mereka membeli dan mengumpulkan barang-barang mewah dan pakaian-pakaian yang mahal. Faktor penting lainnya adalah, pandangan materialis dan cinta dunia. Hal inilah yang pernah disinggung oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadisnya. Beliau bersabda, Menyintai dunia adalah penyebab dari segala penyimpangan dan kesalahan. Orang yang tidak beriman kepada alam akhirat dan tidak memperdulikan nilai-nilai moral seperti kesederhanaan, kedermawanan dan persahabatan, tidak akan memikirkan nasib orang lain. Mereka tenggelam dalam kemewahan hidup.
  3. Ada pula faktor luar yang menjadi penyebab kecenderungan
    kepada kemewahan, antara lain adalah budaya masyarakat dan
    lingkungan sekitar. Dalam sebuah masyarakat yang memiliki
    budaya hidup mewah, kecenderungan kepada kemewahan akan menguasai seluruh anggota masyarakat. Dalam hal ini, kemewahan para pejabat dan tokoh masyarakat akan memberikan pengaruh yang sangat besar pada gaya kehidupan ini. Di era kontemporer ini iklan yang terdapat di berbagai sarana media ikut membantu menciptakan budaya hedonisme. Media-media ini dalam banyak kasus mengiklankan produk-produk yang sebenarnya tidak diperlukan. Iklan-iklan ini pula meninggalkan berbagai dampak psikologis terhadap para para penganut paham hedonisme. Allah swt mengaruniakan nikmat yang tidak terhingga untuk digunakan oleh manusia dalam kehidupan, dan Allah memerintahkan manusia untuk mengunakannya nikmat dan karunia ini secara benar dan adil serta tidak melanggar hak orang lain. Seperti mana yang telah disampaikan oleh Imam Ali as: Saya tidak pernah melihat harta yang ditimbun tanpa ada kezaliman terhadap hak orang lain. Dengan demikian, hedonisme berarti keluar dari aturan agama dan menyimpangkan karunia Allah dan hak orang lain.

Akibat orang yang hedonis adalah:

Banyak akibat buruk yang ditimbulkan oleh hedonisme. Pertama, lenyapnya kekayaan, meningkatnya jurang antar miskin dan kaya berkembangnya kemiskinan, kebangkrutan dan hutang di tengah masyarakat kecil. Ibnu Khaldun sejarawan dan sosiolog muslim dalam hal ini berkata: Sejauh mana sebuah masyarakat tenggelam dalam hedonisme, sejauh itulah mereka akan mendekati batas kehancuran. Proses kehancuran akan terjadi karena hedonisme secara perlahan akan menyebabkan kemiskinan masyarakat dan negara. Sejauh mana hedonisme mewabah, sejauh itu pulalah kemiskinan akan menyebar di tengah masyarakat.
Di pihak lain, membuang-buang harta untuk membeli barang-barang mahal yang hanya dimaksudkan untuk berbangga-bangga, perlahan-lahan akan menyeret sebuah negara kepada pihak asing. Hal inilah yang terjadi saat ini dunia. Banyak negara dunia yang bergantung kepada Barat yang setiap waktu memasarkan produk-produk baru untuk dikonsumsi.
Meskipun pekerjaan, usaha dan jerih payah untuk mencari
harta, dapat mengantarkan seseorang dan masyarakatnya kepada kemajuan

dan hal ini didukung oleh agama Islam, namun jangan sampai hal itu menjerumuskan kita ke lembah hedonisme dan kemewahan.

 

Masalah-masalah yang akan di bahas adalah tentang :

  1. Individualisme

Orang yang sudah terkena penyakit hedonisme cenderung tidak memerlukan bantuan orang lain. Mereka merasa sudah mampu hidup sendiri, tetapi kenyataannya tidak begitu. Manusia merupakan mahluk sosial.

  1. Matrealistis

Merupakan bagian dari hedonisme, yang dimana mereka merasa tidak puas dengan apa yang sudah di milikinya. Dan selalu iri jika melihat orang lain.

  1. Pemalas

Malas merupakan akibat yang di timbulkan dari hedonisme, karena mereka selalu menyia-nyiakan waktu. Manusia yang tidk menghargai waktu.

  1. Pergaulan bebas

pengikut paham hedonisme dapat terjebak dalam pergaulan bebas yang dimana mereka selalu selalu berada dalam dunia malam. Seperti clubbing, pesta narkoba, dan seks bebas.

  1. Konsumtif

Hedonisme cendurung konsumtif ,karena menghabiskan uang untuk membeli barang-barang  hanya untuk kesenangan semata tanpa didasari kebutuhan.

  1. Mentalitas instan

Kurangnya kesadaran dalam mempergunakan waktu, komunitas, dan pergaulan.

  1. Boros

Menghambur-hamburkan uang untuk membeli bernbagai barang yang tidak penting, hanya untuk sekedar pamer merk/ barang mahal.

  1. Kriminalitas

Dalam paham hedonisme seseorang dapat berbuat kriminal/ melanggar hukum, karena orang yang menganut paham ini cenderung akan berbuat apa saja sekalipun melanggar hukum, hanya untuk memenuhi kesenangannya sendiri, tanpa pernah memikirkan akibatnya.

  1. Egois

Hedonisme cenderung mengrah kepada sifat mementingkan diri semdiri. Tanpa memperdulikan orang lain. Yang terpenting kesengannya tercapai.

  1. Tidak bertanggung jawab

Menjadi individu yang tidak bertanggung jawab terutama kepada dirinya sendiri, seperti menyia-nyiakan waktu, dan mementingkan kesenangannya saja.

  1. Berfoya-foya

Dalam menggunakan uang, untuk membeli sesuatu barang yang tidak penting.

  1. Korupsi

Memperkaya diri sendiri, tetapi menggunakan cara yang melanggar hukum, yaitu memeras orang lain untuk memenuhi kebutuhnnya sendiri.

  1. Tidak disiplin

Tidak menghargai waktu, dimana jika ada janji dengan orang lain cenderung mengabaikannya, dan lebih mementingkan waktu untuk dirinya sendiri.

  1. Merasa sok kaya

Meyembunyikan jati dirinya, sebenarnya dia miskin tetapi karena gengsi mengaku orang kaya.

  1. Merasa sok gaul

Supaya dianggap ada oleh suatu kelompok tertentu, hanya untuk mencari perhatian orang lain.

  1. Ingin terlihat fashionable

Mengikuti gaya orang lain, karena ingin diperhatikan orang lain.

  1. Narsis yang berlebihan

Karena ingin mencari perhatian orang sehingga menjadi narsis.

  1. Lebih mementingkan gaya daripada otak

Tidak cerdas dalam bergaul, hanya memamerkan gaya di bandingkan otak.

  1. Plagiat

Plagiat disini cenderung meniru gaya-gaya berpakaian, gaya berdandan atau fashion orang lain. Sehingga tidak kreatif.

  1. Rasis

Sikap membedakan ras,dan merasa bahwa ras sendiri lebih tinggi dari ras lain.

  1. Kreatifitas rendah

Tidak mempunyai kreatifitas berfikir kedepan.

  1. Tidak berfikir jauh kedepan

Hanya mementingkan hal-hal yang bersifat masa lalu.

Solusi dari akar permasalahan mengenai kemiskinan karena Hedonisme adalah sebagai berikut:

  1. Bersikap terbuka terhadap orang lain. Peka dengan keadaaan sekitarnya terutama mengenai persamalahan yang berhubungan dengan orang lain.
  2. Berhemat, membuat anggran pengeluaran untuk membeli kebutuhan yang memang di perlukan, tidak menghambur-hamburkan uang untuk membeli barang yang sekiranya tidak diperlukan.
  3. Memotivasi  diri tinggi, belajar menghargai waktu dan tidak menyia-nyiakan waktu.
  4. Taat beribadah, mempertebal  keimanan dengan cara rajin beribadah, pandai bergaul dan memilih teman.
  5. Selektif dalam memilih brgaul.
  6. Menabung dan menagarial keungan sesuai dengan kebutuhan.
  7. Mentaati hukum-hukum negara dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
  8. Lebih menghargai orang lain, mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri.
  9. Berani dalam mengambil resiko. Tidak membeda-bedakan masalah-masalah yang di hadapi.
  10. Mentaati hukum agama dan negara disertai dengan mempertebal keimanan.
  11. Lebih mendahulukan kebutuhan yang lebih penting. Dan tidak didasarkan atas kesenangan semata.
  12. Lebih tertib dn mentaati aturan-aturan yang berlaku.
  13.  Bersikap lebih rendah hati, dan dermawan dengan menyisihkan sebagian harta.
  14. Mampu memahami tentang arti dari modern, jangan terlalu memaksakan diri mengikuti trend yang sedang marak.
  15. Menyeleksi kebutuhan, jangan terlalu berambisi untuk menjadi orang yang lebih fashionable, supaya ingin di perhatikan oleh orang lain.
  16. Menyadari ada orang yang lebih baik dari kita. Jangan merasa diri lebih sempurna.
  17. Menjadi manusia yang lebih produktif.
  18. Menghargai karya orang lain dengan tidak meniru atau menjiplak tanpa seijin orangnya.
  19. Mampu mengahargai perbedaan.
    1. Terus berinovasi, menciptakan hal-hal yang baru.
    2. Memikirkan resiko yang akan terjadi sebelumnya, dengan melakukan penuh pertimbangan.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: