Makalah Kesulitan Belajar

Published Mei 20, 2012 by purplenitadyah

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. a.      Latar belakang

Keberhasilan dalam melaksanakan suatu tugas merupakan dambaan setiap orang. Berhasil berarti terwujudnya harapan. Hal ini juga menyangkut segi efisiensi, rasa percaya diri, ataupun prestise. Lebih-lebih bila keberhasian tersebut terjadi pada tugas atau aktivitas yang berskala besar. Namun perlu disadari bahwa pada dasarnya setiap tugas atau aktivitas selalu berakhir pada dua kemungkinan : berhasil atau gagal.

Belajar merupakan tugas utama siswa, di samping tugas-tugas yang lain. Keberhasilan dalam belajar bukan hanya diharapkan oleh siswa yang bersangkutan, tetapi juga oleh orang tua, guru, dan juga masyarakat. Tentu saja yang diharapkan bukan hanya berhasil, tetapi berhasil secara optimal. Untuk itu diperlukan persyaratan yang memadai, yaitu persyaratan psikologis, biologis, material, dan lingkungan sosial yang kondusif.

Bila keberhasilan merupakan dambaan setiap orang, maka kegagalan juga dapat terjadi pada setiap orang. Beberapa wujud ketidak berhasilan siswa dalam belajar yaitu : memperoleh nilai jelek untuk sebagian atau seluruh mata pelajaran, tidak naik kelas, putus sekolah (dropout), dan tidak lulus ujian akhir.

Kegagalan dalam belajar sebagaimana contoh di atas berarti rugi waktu, tenaga, dan juga biaya. Dan tidak kalah penting adalah dampak kegagalam belajar pada rasa percaya diri. Kerugian tersebut bukan hanya dirasakan oleh yang bersangkutan tetapi juga oleh keluarga dan lembaga pendidikan. Oleh karena itu upaya mencegah atau setidak tidaknya meminimalkan, dan juga memecahkan kesulitan belajar melalui diagnosis kesulitan belajar siswa merupakan kegiatan yang perlu dilaksanakan.

 

  1. b.     Rumusan Masalah

Apa yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan belajar dalam mata pelajaran IPS?

  1. c.      Tujuan penelitian

Untuk mengetahui penyebab kesulitan belajar siswa dalam mata pelajaran IPS.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. A.    TEORI-TEORI BELAJAR

Dalam psikologi, teori belajar selalu dihubungkan dengan stimulus-respons dan teori-teori tingkah laku yang menjelaskan respons makhluk hidup dihubungkan dengan stimulus yang didapat dalam lingkungannya. Proses yang menunjukkan hubungan yang terus-menerus antara respons yang muncul serta rangsangan yang diberikan dinamakan  suatu prosess belajar (Tan, 1981:91)

  1. 1.      Teori Conditioning

Bentuk paling sederhana dalam belajar ialah conditioning. Karena conditioning sangat sederhana bentuknya dan sangat luas sifatnya, para ahli sering mengambilnya sebagai contoh  untuk menjelaskan dasar-dasar dari semua proses belajar. Meskipun demikian, kegunaan conditioning sebagai contoh bagi belajar, masih menjadi bahan perdebatan (Walker, 1967).

  1. 2.      Teori Psikologi Gestlat

Teori belajar menurut psikologi Gestlat sering kali disebut insigt full learning atau field teori. Ada pula istilah lain yang sebetulnya identik dengan teori ini, yaitu organismic, pattern, holistic, interegation, configuration, dan closure. Perintis teori Gestalt ini ialah Chr. Von Ehrenfels, dengan karyanya “Uber Gestaltqualitation“ (1890). Aliran ini menekankan pentingnya keseluruhan  yaitu  sesuatu yang melebihi jumlah unsure-unsurnya dan timbul lebih dulu dari pada bagian-bagiannya. Pengikut-pengikut aliran psikologi Gestalt mengemukakan konsepsi yang berlawanan dengan konsepsi aliran-aliran lain . Bagi yang mengikuti aliran Gestalt perkembangan itu adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi itu yang primer ialah keseluruhan , sedangkan bagian –bagiannya adalah sekunder; bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian dari pada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lain ; keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya.

 

  1. B.     PENGERTIAN DAN GEJALA-GEJALA KESULITAN BELAJAR

Ada beberapa pendapat mengenai pengertian kesulitan belajar. Blassic dan Jones, sebagaimana dikutip oleh Warkitri ddk. (1990 : 8.3), menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah terdapatnya suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang diperoleh. Mereka selanjutnya menyatakan bahwa individu yang mengalami kesulitan belajar adalah individu yang normal inteligensinya, tetapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan penting dalam proses belajar, baik persepsi, ingatan, perhatian, ataupun fungsi motoriknya.

Sementara itu Siti Mardiyanti dkk. (1994 : 4 – 5) menganggap kesulitan belajar sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan tersebut mungkin disadari atau tidak disadari oleh yang bersangkutan, mungkin bersifat psikologis, sosiologis, ataupun fisiologis dalam proses belajarnya.

Kesulitan atau masalah belajar dapat dikenal berdasarkan gejala yang dimanifestasikan dalam berbagai bentuk perilaku, baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Menurut Warkitri dkk. (1990 : 8.5 – 8.6), individu yang mengalami kesulitan belajar menunjukkan gejala sebagai berikut.

  1. Hasil belajar yang dicapai rendah dibawah rata-rata kelompoknya.
  2. Hasil belajar yang dicapai sekarang lebih rendah disbanding sebelumnya.
  3. Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.
  4. Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar.
  5. Menunjukkan sikap yang kurang wajar, misalnya masa bodoh dengan proses belajar dan pembelajaran, mendapat nilai kurang tidak menyesal, dst.
  6. Menunjukkan perilaku yang menyimpang dari norma, misalnya membolos, pulang sebelum waktunya, dst.
  7. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, misalnya mudah tersinggung, suka menyendiri, bertindak agresif, dst.
  1. C.    FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KESULITAN BELAJAR

Menurut Burton, sebagaimana dikutip oleh Abin S.M. (2002 : 325-326), faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar individu dapat berupa faktor internal, yaitu yang berasal dari dalam diri yang bersangkutan, dan faktor eksternal, adalah faktor yang berasal dari luar diri yang bersangkutan.

  1. 1.      Faktor Internal

Yang dimaksud dengan faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri mahasiswa. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor kejiwaan dan faktor kejasmanian.

  1. Faktor kejiwaan, antara lain :
    1. Minat terhadap mata kuliah kurang;
    2. Motif belajar rendah;
    3. Rasa percaya diri kurang;
    4. Disiplin pribadi rendah;
    5. Sering meremehkan persoalan;
    6. Sering mengalami konflik psikis;
    7. Integritas kepribadian lemah.
  2. Faktor kejasmanian, antara lain :
    1. Keadaan fisik lemah (mudah terserang penyakit);
    2. Adanya penyakit yang sulit atau tidak dapat disembuhkan;
    3. Adanya gangguan pada fungsi indera;
    4. Kelelahan secara fisik.

 

  1. 2.      Faktor Eksternal      

Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah faktor yang berada atau berasal dari luar mahasiswa. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua : faktor instrumental dan faktor lingkungan.

  1. Faktor Instrumental

Faktor-faktor instrumental yang dapat menyebabkan kesulitan belajar mahasiswa antara lain :

  1. Kemampuan profesional dan kepribadian dosen yang tidak memadai;
  2. Kurikulum yang terlalu berat bagi mahasiswa;
  3. Program belajar dan pembelajaran yang tidak tersusun dengan baik;
  4. Fasilitas belajar dan pembelajaran yang tidak sesuai dengan kebutuhan.

 

  1. Faktor lingkungan

Faktor lingkungan meliputi lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Penyebab kesulitan belajar yang berupa faktor lingkungan antara lain :

  1. Disintegrasi atau disharmonisasi keluarga;
  2. Lingkungan sosial kampus yang tidak kondusif;
  3. Teman-teman bergaul yang tidak baik;
  4. Lokasi kampus yang tidak atau kurang cocok untuk pendidikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

  1. A.    Variabel Penelitian

Variabel penelitian dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang akan menjadi objek atau penelitian, sering pula dinyatakan bahwa variabel penelitian itu sebagai faktor-faktor yang berperan dalam gejala yang akan diteliti. Variabel yang kami gunakan dalam penelitian ini meliputi kesulitan belajar.

 

  1. B.     Populasi

Populasi adalah seluruh unsur atau elemen yang menjadi anggota dalam suatu kesatuan yang akan diteliti. Adapun populasi yang kami ambil adalah seluruh siswa SMP Negeri 12 Bandung.

 

  1. C.    Sampel

Sampel adalah wakil dari populasi yang diteliti. sampel yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SMP Negeri 12 Bandung yaitu sebanyak 45 orang yang diambil secara acak.

 

  1. D.    Metode Penelitian

Di dalam melakukan penelitian mengenai “Diagnostik Kesulitan Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran IPS”  di SMP Negeri 12 Bandung, metode yang kami gunakan adalah deskriftif.

 

  1. E.     Instrumen Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data

Dikarenakan metode yang kami gunakan dalam melakukan penelitian adalah metode kuesioner atau metode angket dan telaah buku, maka otomatis instrumen atau alat pengukur data yang kami gunakan berupa kuesioner atau angket dan hasil dari telaah buku dengan pendekatan penelitian berupa pendekatan kualitatif berupa kata-kata atau kalimat.

 

 

 

  1. F.     Pelaksanaan Penelitian

Adapun kegiatan waktu penyebaran angket kami laksanakan pada :

Hari                   : Rabu

Tanggal             : 04 Mei 2011

Tempat              : SMP Negeri 12 Bandung

Jam                    : 10.00 WIb

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. A.                Pembahasan Secara Khusus

Berikut disajikan tabel-tabel dari pertanyaan yang diajukan pada siswa-siswi yang dijadikan sampel yaitu sebanyak 45 siswa-siswi SMP Negeri 12 Bandung dari sampel yang dilakukan secara acak, berikut hasil penelitian beserta pembahasannya.

 

a. Kelas

 

VII

VIII

IX

Jumlah

10

27

8

Persentase

22,2%

60%

17,8%

 

Pembahasan  :

Sebanyak 10 responden dengan persentase 22,2% menjawab kelas VII, 27 responden dengan persentase 60% menjawab kelas VIII, dan 8 responden dengan persentase 17,8% menjawab kelas IX.

 

b. Jenis Kelamin

 

Laki-Laki

Perempuan

Jumlah

15

30

Persentase

33,3%

66,7%

Pembahasan  :

Sebanyak 15 responden dengan persentase 33,3% menjawab berjenis kelamin laki-laki, dan 30 responden dengan persentase 66,7% menjawab berjenis kelamin perempuan.

 

 

 

 

c. Usia

 

12 Tahun

13 Tahun

14 Tahun

15 Tahun

Jumlah

6

15

21

3

Persentase

13,3%

33,3%

46,7%

6,7%

 

Pembahasan  :

Sebanyak 6 responden dengan persentase 13,3% menjawab berusia 12 tahun, 15 responden dengan persentase 33,3% menjawab berusia 13 tahun, 21 responden dengan persentase 46,7% menjawab berusia 14 tahun, dan 3 responden dengan presentase 6,7% menjawab berusia 15 tahun.

 

d. Merasa nyaman untuk belajar pada saat ini

 

Ya

Tidak

Biasa saja

Jumlah

25

-

20

Persentese

55,6%

-

44,4%

 

Pembahasan  :

Sebanyak 25 responden dengan persentase 55,6% menjawab merasa nyaman untuk belajar saat ini, 0 responden dengan persentase 0% menjawab tidak merasa nyaman untuk belajar pada saat ini, dan 20 responden dengan persentase 44,4% menjawab biasa saja untukbelajar pada saat ini.

 

e. Apakah pelajaran IPS sulit untuk dipahami 

 

Ya

Tidak

Biasa Saja

Jumlah

9

9

27

Persentase

20%

20%

60%

 

 

 

Pembahasan  :

Sebanyak 9 responden dengan persentase 20% menjawab pelajaran IPS sulit untuk dipahami, 9 responden dengan persentase 20% menjawab pelajaran IPS tidak sulit untuk dipahami, dan 27 responden dengan persentase 60% menjawab pelajaran IPS biasa saja untuk dipahami.

 

 

f. Penyebab kesulitan belajar dalam mata pelajaran IPS

 

Materi yang kurang menarik

Guru yang membosankan

Kurang minat terhadap mata pelajaran IPS

Sarana dan prasarana yang kurang lengkap

Alasan lain

Jumlah

7

21

6

3

8

Persentase

15,6%

46,7%

13,3%

6,7%

17,8%

Pembahasan  :

Sebanyak 7 responden dengan persentase 15,6% menjawab penyebab kesulitan belajar dalam mata pelajaran IPS adalah materi yang kurang menarik, 21 responden dengan persentase 46,7% penyebab kesulitan belajar dalam mata pelajaran IPS adalah guru yang membosankan, 6 responden dengan persentase 13,3% menjawab penyebab kesulitan belajar dalam mata pelajaran IPS adalah kurang minat terhadap pelajaran IPS, 3 responden dengan persentase 6,7% menjawab penyebab kesulitan belajar dalam mata pelajaran IPS adalah sarana dan prasarana yang kurang lengkap, dan 8 responden dengan persentase 17,8% menjawab penyabab kesulitan belajar dalam mata pelajaran IPS dengan alasan lain seperti :

-                      Biasa saja

-                      Anak-anaknya main terus jika guru sedang menerangkan

-                      Banyak materi

-                      Banyak hafalan

-                      Pelajarannya rumit

-                      Banyak yang harus dibaca.

 

g. Pernahkah mendapat nilai dibawah rata-rata dalam mata pelajaran IPS

 

Ya

Tidak

Jumlah

35

10

Persentase

77,8%

22,2%

 

 

Pembahasan  :

Sebanyak 35 responden dengan persentase 77,8% menjawab pernah mendapat nilai dibawah rata-rata dalam mata pelajaran IPS dan 10 responden dengan persentase 22,2% menjawab tidak pernah mendapat nilai dibawah rata-rata dalam mata pelajaran IPS.

 

h. Merasa menjadi seseorang yang asing di kelas anda sendiri

 

Ya

Tidak

Biasa saja

Jumlah

-

24

25

Persentase

-

53,3%

55,6%

 

Pembahasan :

Sebanyak 0 responden dengan persentase 0% menjawab merasa menjadi seseorang yang asing di kelas sendiri, 24 responden dengan persentase 53,3% menjawab tidak merasa menjadi seseorang yang asing di kelas sendiri dan 25 responden dengan persentase 55,6% menjawab biasa saja.

 

 

 

 

 

  1. Perasaan saat ini

 

Merasa bosan dengan rutinitas sekolah yang menoton

Tidak memiliki semangat untuk belajar dikelas.

Alasan lain

Jumlah

12

4

29

Persentase

26,7%

8,9%

64,4%

           

Pembahasan :

Sebanyak 12 responden dengan persentase 26,7% menjawab perasaan saat ini adalah merasa bosan dengan rutinitas sekolah yang menoton, 4 responden dengan persentase 8,9% menjawab perasaan saat ini adalah tidak memiliki semangat untuk belajar di kelas, dan 29 responden dengan persentase 64,4% menjawab alasan lain yaitu:

-                      Merasa senang belajar di sekolah.

-                      Lebih semangat lagi untuk belajar agar mendapat juara.

-                      Merasa nyaman

 

  1. Hasil Wawancara

Nama               : Regita D. A

Kelas               : VIII –F

Usia                 : 14 tahun

Menurut dia, guru yang baik itu adalah guru yang bisa diajak curhat, ngajarnya tenang, serta guru yang bisa mengerti sifat muridnya, karena rata-rata guru sekarang, selalu ingin dimengerti oleh muridnya, padahal itu salah.

Pendapat dia juga tentang mata pelajaran IPS itu mudah dipahami karena IPS berkaitan dengan lingkungan social dan pelajaran IPS itu mengasikkan. Saran dia agar pembelajaran IPS di dalam kelas agar lebih menarik dan mudah mengerti yaitu guru harus menerangkan dengan jelas.

 

Nama               : Adistya. O

Kelas               : IX-B

Usia                 : 14 tahun

Menurut dia guru yang baik dan bisa membuat merasa nyaman di kelas yaitu guru yang memberikan banyak tanya jawab kepada muridnya, serta harus ada kisi-kisi di setiap akhir pelajaran.

Pendapat dia tentang mata pelajaran IPS itu sulit untuk dipahami karena pelajaran IPS itu harus lebih banyak membacanya dan lebih banyak materinya. Dia juga berkata bahwa jarang sekali dia berkonsultasi dengan guru BK bahwa dia mengalami kesulitan belajar dalam mata pelajaran IPS, malah dia sering dipanggil guru BK karena sering bolos sekolah dan kesiangan masuk sekolah.

 Saran dia agar pembelajaran IPS  di dalam kelas agar lebih menarik dan mudah dimengerti yaitu guru harus ada kerjasama antara guru dan murid.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

  1. A.                Kesimpulan

Kesulitan belajar adalah terdapatnya suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang diperoleh. Factor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar, yaitu:

-          Faktor Internal

Yang dimaksud dengan faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor kejiwaan dan faktor kejasmanian.

-          Faktor eksternal

Berdasarkan observasi yang kami lakukan di SMP Negeri 12 Bandung, kebanyakan siswa mengalami kesulitan belajar dikarenakan guru yang membosankan sehingga mereka tidak tertarik terhadap mata pelajaran yang disampaikan.

Ada beberapa kasus kesulitan belajar yang terjadi di SMP Negeri 12 Bandung, yaitu :

  1. Kasus kesulitan belajar dengan latar belakang kurangnya pemahaman tentang pelajaran IPS itu sendiri karena kebanyakan responden menjawab bahwa pelajaran IPS itu biasa saja. Biasa saja di sini maksudnya, menganggap pelajaran IPS itu susah-susah gampang atau gampang-gampang susah untuk dipahami.
  2. Kasus kesulitan belajar yang berlatar belakang sikap negatif terhadap guru. Berdasarkan data yang terkumpul, guru yang membosankan menjadi salah satu faktor penyebab kesulitan belajar dalam mata pelajaran IPS.
  3. Kasus kesulitan belajar yang berlatar belakang responden pernah mendapatkan nilai di bawah rata-rata dalam mata pelajaran IPS.

 

  1. B.                 Saran (Remedial)
    1. Guru IPS harus secara ekstra dalam menjelaskan pelajaran IPS, agar siswa pun mampu memahami apa yang di bahas dalam mata pelajaran IPS.
    2. Sebaiknya seorang guru IPS harus lebih kreatif dalam menyampaikan materi, sehingga siswa tidak merasa bosan baik bosan terhadap guru ataupun dengan pelajarannya dan akhirnya pun siswa dapat menangkap apa yang disampaikan oleh guru tersebut.
    3. Guru IPS harus melakukan remedial sehingga siswa mempunyai kesempatan kembali dalam memperbaiki nilainya tersebut.
    4. Sebaiknya guru BK tidak hanya melayani dan memperhatikan siswa yang “nakal”. Tetapi juga, harus memperhatikan siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abin, S.M. (2002) Psikologi Pendidikan : Perangkat Sistem Pengajaran Modul. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Siti Mardiyati et al. (1994) Layanan Bimbingan Belajar. Surakarta : Penerbit UNS.

Warkitri, H. et al. (1990) Penilaian Pencapaian Hasil Belajar. Jakarta : Karunika.

http://ebekunt.wordpress.com/2009/04/12/diagnosis-kesulitan-belajar/

http://belajarpsikologi.com/pengertian-kesulitan-belajar/

http://www.rancahbetah.info/2010/11/pengertian-jenis-dan-model-diagnosis.html

http://cybercounselingstain.bigforumpro.com/f25-diagnosis-kesulitan-belajar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: