Manusia, Tempat Dan Lingkungan

Published Mei 2, 2012 by purplenitadyah

KONSEP DASAR RUANG DAN TEMPAT

Planet bumi menurut sepengetahuan manusia adalah satu-satunya tempat yang memenuhi    syarat untuk hidup. Perikehidupan yang membutuhkan oksigen, air, dan tanah yang subur dapat dicari hanya ada di bumi. Sebagai suatu tempat, permukaan bumi adalah ruang yang sangat luas. Angkasa luas yang berada jauh di luar permukaan bumi disebut ruang angkasa, sedangkan permukaan bumi yang memenuhi kebutuhan hidup sering disebut sebagai ruang kehidupan.

Pada bahan belajar mandiri 1 ini akan dibahas tentang konsep dasar ruang dan tempat. Pokok bahasan ini sangat penting untuk dipelajari oleh Anda dalam mempelajari IPS, khususnya Ilmu Geografi. Materi pembelajaran IPS diantaranya adalah mengkaji fenomena kehidupan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Fenomena-fenomena sosial tersebut sangat erat kaitannya dengan ruang dan tempat dimana masyarakat tersebut berada.
Agar Anda memahami tentang keterhubungan tersebut, maka sebaiknya konsep-konsep yang membedakan ruang dan tempat harus Anda pahami terlebih dahulu.

Setelah mempelajari bahan belajar mandiri 1 ini, Anda diharapkan memiliki kompetensi sebagai berikut:

1.    Menjelaskan konsep ruang dan manfaatnya

2.    Menjelaskan konsep tempat dan cara memilihnya

3.    Membedakan konsep ruang dengan tempat dalam ilmu geografi

Selanjutnya perlu diperhatikan, bahwa jika Anda mampu menguasai atau memahami materi-materi ajar bahan belajar mandiri ini, maka Anda akan memahami salah satu konsep dasar dari ilmu geografi. Sebaliknya jika bahan belajar mandiri ini terlewatkan dan atau kurang begitu dipahami secara benar dan tuntas, dikhawatirkan pada bahan belajar mandiri berikutnya Anda akan mengalami kesulitan dalam melakukan analisis, penyimpulan konsep-konsep, dan pengembangan wawasan berikutnya, bahkan mungkin berakibat tidak utuh dan kurang tuntas dalam mempelajari materi kuliah ini.

Untuk mempelajari BBM ini, sebaiknya Anda perhatikan petunjuk berikut.

  1. Pahami BBM ini dengan seksama, baik isi maupun tujuannya, sehingga Anda dapat mencapai tujuan yang diharapkan sebagai hasil belajar.
  2. Setelah Anda merasa memahami, kemudian kerjakan latihan atau tugas yang terdapat dalam BBM ini sesuai dengan petunjuknya.
  3. Tuntaskan mempelajari Kegiatan Belajar 1 sehingga Anda benar-benar memahaminya, untuk kemudian dapat dilanjutkan dengan mempelajari Kegiatan Belajar 2, dan seterusnya hingga tuntas Kegiatan Belajar 3.
  4. Masyarakat dan lingkungan sekitar Anda merupakan sumber belajar yang nyata dan tepat dalam mempelajari modul ini. Tentunya pengetahuan Anda juga harus diperkaya dengan sumber belajar lain yang dapat diambil dari buku-buku pedoman, surat kabar dan majalah, media elektronik seperti radio televisi, dan internet, termasuk pengalaman teman.
  5. Diskusikan dengan teman atau tutor apabila Anda menemui kesulitan, karena melalui diskusi dan kerja kelompok dapat meringankan Anda untuk mengatasi dan menyelesaikan semua tugas dalam mempelajari modul ini.
  6. Setiap akhir kegiatan, jangan lupa untuk mengisi soal yang terdapat dalam BBM ini.

Agar dapat mengetahui sejauhmana keberhasilan Anda dalam mempelajari BBM ini, cocokkan jawaban hasil pengisian latihan dengan kunci jawaban yang tersedia.

 

Selamat belajar dan semoga sukses!

 

 

 

KEGIATAN BELAJAR 1:

Konsep ruang dan pemanfaatannya

Menurut istilah geografi umum, seluruh permukaan bumi adalah ruang (space) yang merupakan lapisan biosfer (lapisan hidup), tempat hidup tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia. Tinggi ruang permukaan bumi setinggi lapisan atmosfer, dan kedalaman permukaan bumi adalah sebatas tempat yang memungkinkan hewan dan tumbuhan hidup di dalamnya. Dengan kata lain, ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lainnnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya.

Pengertian ruang menjadi berbeda, tergantung dari sudut pandang ilmunya. Setidaknya ada empat konsep tentang ruang yang diajukan oleh bidang ilmu yang berbeda, yaitu menurut ilmu geografi, ekologi, perencanaan wilayah, dan planologi khususnya ruang tata kota.     

 

1. Ruang menurut geografi

Ruang dalam padangan geografi dapat dinamai berdasarkan topik, aktivitas manusia, dan regional. Atas dasar itu, kelak dalam ilmu geografi akan menggunakan pendekatan keruangan dalam berbagai studinya.

Dalam melakukan pendekatan terhadap gejala dan masalah, geografi akan menggunakan pendekatan topik utama, biasanya mencari apa yang menjadi pusat perhatian manusia. Misalnya di daerah tertentu topik yang menjadi perhatian utama adalah kelaparan. Maka kelaparan inilah yang menjadi sorotan utamanya. Artinya dapat dijuga dikatakan ruang di mana kelaparan berlangsung.

Kelaparan di daerah yang bersangkutan diungkapkan jenis-jenisnya, sebab-sebabnya, penyebarannya, intensitasnya, dan interelasinya dengan gejala yang lain dan dengan masalah secara keseluruhan. Pokoknya hal-hal yang berkenaan dengan topik kelaparan harus diungkapkan sedalam-dalamnya, sehingga diperoleh deskripsi ruang geografi mengenai kelaparan tersebut.

Diharapkan bahwa pengungkapan topik kelaparan tadi berkenaan dengan penyebarannya, interelasinya, deskripsi dan sebab-sebabnya, dapat mengungkapkan masalah geografi di daerah bersangkutan secara lebih luas. Hal yang sama dapat pula dilakukan terhadap topik-topik lainnya, seperti pengangguran, erosi, kenakalan remaja, kekurangan air, industn, dan lain-lain sebagainya.

Yang menjadi pegangan utama dalam melakukan pendekatan topik ini yaitu bahwa tidak boleh dilepaskan hubungannya dengan ruang yang menjadi wadah gejala atau topik yang kita dekati. Faktor-faktor geografi seperti manusianya dan keadaan fisisnya tidak boleh diabaikan. Berdasarkan landasan keruangan ini, kita akan dapat mengungkapkan karakteristik kelaparan di daerah/wilayah yang bersangkutan bila dibandingkan dengan gejala atau kelaparan di daerah/ wilayah yang lainnya.

Pada pendekatan keruangan lainnya, pendekatan utama diarahkan kepada aktivitas manusianya (human activities). Pertanyaan utama pada jenis pendekatan ini ialah bagaimana kegiatan manusia atau kegiatan penduduk di sesuatu daerah atau di sesuatu wilayah yang bersangkutan? Jadi, hal-hal yang berkenaan dengan aktivitas penduduk itu menjadi sorotan utama.

Pengungkapan aktivitas penduduk ini ditinjau dari penyebarannya, interelasinya, dan deskripsinya dengan gejala gejala lain yang berkenaan dengan aktivitas tadi. Ditinjau dan penyebarannya, kita akan dapat membedakan jenis aktivitas tadi sehubungan dengan matapencarian yang dilakukan penduduk. Apakah aktivitas itu berlangsung di daerah pegunungan, apakah di dataran rendah, apakah dekat dengan sungai, apakah jauh dan sungai, apakah di pantai, dan demikianlah seterusnya.

Dari penyebaran kegiatan penduduk tadi, kita akan dapat pula mengungkapkan interelasinya dengan keadaan kesuburan tanah, dengan keadaan hidrografi, dengan keadaan komunikasi-transportasi, dengan keadaan tinggi-rendah permukaan, dan dengan faktor-faktor geografi lainnya. Dengan demikian, kita akan dapat pula membuat suatu deskripsi tentang aktivitas penduduk tadi berdasarkan penyebarannya dalam ruang, dan berdasarkan interelasi keruangannya dengan gejala-gejala lain serta dengan masalah sebagai sistem keruangannya.

 

2. Ruang menurut ekologi

Ekologi khususnya ekologi manusia berkenaan dengan interelasi antara manusia dengan lingkungannya yang membentuk suatu sistem ekologi atau ekosistem. Prinsip dan konsep yang berlaku pada bidang ilmu ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan geografi dalam memandang aspek ruang. Menurut ekologi, ruang dipelajari, ditelaah dan dianalisis sebagai sesuatu gejala atau sesuatu masalah dengan menerapkan konsep dan prinsip ekologi.

Ruang menurut ekologi sebagai suatu bentuk ekosistem hasil hubungan dan penyesuaian antara penyebaran dan aktivitas manusia dengan lingkungannya pada area atau daerah tertentu. Jadi dalam hal ini, interelasi manusia dengan alam lingkungan di sekitarnya dikaji berdasarkan konsep dan prinsip ekologi, atau dengan perkataan lain dengan menggunakan pendekatan ekologi.

Sebagai sebuah ekosistem, suatu ruang dipandang atau diarahkan kepada hubungan antara manusia sebagai makhluk hidup dengan lingkungan alamnya. Pada pendekatan ekologi suatu daerah pemukiman ditinjau sebagai suatu bentuk ekosistem hasil interaksi penyebaran dan aktivitas manusia dengan lingkungan alamnya. Demikian pula jika kita mengkaji daerah pertanian, daerah perindustrian, daerah perkotaan dan lain-lain sebagainya.

Pendekatan ekologi pada studi geografi, bukan merupakan metode pendekatan satu-satunya. Pendekatan ekologi ini merupakan metode pendekatan pelengkap untuk melakukan pendekatan masalah yang tidak dapat didekati atau ditelaah oleh metode-metode lainnya.

 

3. Ruang menurut ilmu wilayah

Berdasarkan konsep pewilayahan, ruang permukaan bumi dibatasi oleh keadaan fisik, sosial, dan batas administrasi pemerintahan. Jika satu kesatuan alam permukaan bumi menunjukkan ciri-ciri yang relatif sama maka dinamakan sebagai ruang geografi (space). Ciri-ciri yang relatif sama tersebut misalnya seragam dalam hal keadaan fisik permukaannya, kebudayaan masyarakatnya mempunyai ciri yang khas, dan ruang tersebut menunjukkan suatu sistem kehidupan dalam keterikatan yang kentara. Ruang geografi yang memiliki ciri khas tertentu disebut wilayah (region).

Jadi apa bedanya antara ruang dan wilayah? Wilayah, sebagaimana yang telah dijelaskan, merupakan kesatuan alam yang seragam dan/atau kesatuan masyarakat dengan kebudayaan yang khas sehingga dapat dibedakan satu wilayah dengan wilayah yang lain. Penamaan wilayah yang bersangkutan tentunya bergantung pada satuan alam atau kesatuan budaya yang digunakan.

Dalam geografi, kesatuan wilayah dapat ditentukan berdasarkan pada sejumlah region. Contoh region (wilayah) yang dicirikan unsur fisik antara lain wilayah geologi (geological region), wilayah tubuh atau jenis tanah (soil region), wilayah vegetasi (vegetation region), dan lain-lain; sedangkan wilayah yang namanya didasarkan pada sosial-budaya manusia misalnya wilayah ekonomi, wilayah sejarah, wilayah perkotaan, wilayah perdesaan, dan lain-lain.

Suatu wilayah dapat ditentukan dalam ukuran yang luas tetapi dapat pula dalam ukuran yang lebih sempit tergantung dari kerincian dalam mengindentifikasi kesamaan atau keseragamannya. Contoh wilayah yang luas misalnya wilayah Asia Tenggara, Wilayah Eropa barat, Wilayah Amerika Latin, Wilayah Afrika Tengah, dan lain-lain. Wilayah yang disebutkan di atas masing-masing memiliki karakteristik yang khas. Relatif memiliki keseragaman budaya, keseragaman tingkat peradaban, dan lain-lain sehingga jika diperbandingkan antara wilayah yang satu dengan wilayah lainnya dapat dibedakan dengan jelas.

Dalam skala yang lebih kecil, ukuran wilayah dapat pula ditentukan. Di Pulau Jawa memiliki wilayah-wilayah yang dapat dibedakan baik secara fisik maupun sosial-budaya masyarakatnya. Secara fisik misalnya ada wilayah geologi Banten, wilayah geologi Zone Bandung, dan lain-lain. Secara sosial-budaya kita juga mengenal adanya wilayah Pantura (Pantai Utara Jawa), wilayah Kebudayaan Pasundan, Wilayah Kesultanan Yogyakarta, dan lain-lain. Pewilayahan macam itu disebut pewilayahan secara formal (formal region) karena mengidentifikasi wilayah dengan menunjukkan objek-objek yang ada pada wilayah tersebut. 

      Tidak semua wilayah dapat digambar pada peta tematik dengan tegas,  karena mengalami kesulitan dalam menarik garis yang sebenarnya. Contohnya wilayah Pantura, merupakan wilayah yang relatif sulit ditentukan karena batas wilayah Pantai Utara Jawa tidak seluruhnya memiliki ciri yang seragam atau homogen. Wilayah Pantura hanya didasarkan pada suatu daerah yang dilalui oleh jalan raya yang “kebetulan” menelusuri tepian pantai utara Pulau Jawa. Istilah wilayah Pantai Utara Jawa menjadi sangat terkenal pada saat lebaran (Hari Raya keagamaan) yang mudik memanfaatkan jalur jalan yang membentang dari Jakarta hingga Surabaya.

      Karena banyak orang yang mengalami kesulitan dalam penentuan batas wilayah, maka umumnya akan diidentifikasi pada fungsi tertentu yang kemudian dikenal dengan istilah kawasan. Kawasan industri artinya suatu wilayah yang difungsikan atau dimanfaatkan untuk pengembangan sejumlah industri. Kawasan perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kawasan perkampungan, pertanian, kehitanan, dan lain-lain.

Selain wilayah formal, ada pula yang disebut wilayah fungsional (functional region) atau wilayah nodus yaitu suatu bagian dari permukaan bumi, di mana beberapa keadaan alam yang berlawanan memungkinkan timbulnya bermacam-macam kegiatan, yang hasilnya berbeda dan saling mengisi dalam keperluan kehidupan manusia, karena itu sering pula disebut wilayah organik.

Contoh wilayah fungsional misalnya di suatu wilayah lereng pada sebuah gunung mulai dari lereng atas sampai dengan lereng kaki, disambung dengan daerah dataran rendah hingga akhiurnya ke tepi sebuah pantai. Penduduk di lereng atas hidup dari kehutanan, penduduk di lereng di bawahnya hidup dari perkebunan, penduduk di lereng bawah hidup dari pertanian, penduduk yang berada di dataran mungkin perkotaan dan hidup dari usaha pelayanan jasa, sedangkan penduduk yang berada di tepian laut hidup sebagai nelayan.

Di antara mereka saling membutuhkan dan mengisi kekurangan masing-masing. Untuk memenuhi kebutuhan hidunya nelayan akan “menyumbangkan” lauk pauk ikan laut sedangkan dari petani akan membantu beras untuk dimasak menjadi nasi. Kira-kira orang dari daerah pegunungan yang memiliki sayuran akan menyumbangkan apa?

Dalam wilayah fungsional, semua komponen dapat diperhitungkan peranan dan hubungan kegiatan antara komponen tersebut. Wilayah formal sebagaimana telah dijelaskan di atas dapat disebut “wilayah fungsional” asalkan komponen yang berada dalam wilayah tersebut diperhitungkan keterkaitan dan perannya masing-masing. Karena itu dalam wilayah fungsional, hal yang khas dari ciri wilayah bukan didasarkan atas keseragaman atau kesamaannya (sebagaimana pada wilayah formal) tetapi dalam wilayah fungsional; beberapa kegiatan yang berbeda menjadi komponen-komponen yang menciptakan suatu sistem kehidupan wilayah fungsional.

Kehidupan kota adalah wilayah fungsional karena kota tidak dapat “hidup” tanpa ada daerah hinterland-nya (wilayah belakang yang menyediakan hasil-hasil pertanian).  Menurut Jayadinata (1999), adanya wilayah formal dan fungsional dapat memudahkan bagi para perencana untuk melakukan pendekatan dalam mengembangan wilayah tersebut. Berdasarkan pembedaan wilayah tersebut, dalam perencanaan wilayah dibagi dua pendekatan yaitu:

1.    Pendekatan teritorial, untuk perencanaan suatu wilayah formal. Perencanaan wilayah macam ini memperhitungkan mobilisasi terpadu dari semua sumberdaya manusia dan sumberdaya alam dari suatu wilayah tertentu  yang dicirikan oleh perkembangan sejarahnya. Sejarah dijadikan salah satu faktor yang mengikat antar anggota masyarakat sehingga membentuk wilayah terirorial tertentu. Perencanaan wilayah teritorial atau formal diarahkan untuk peningkatan perkembangan untuk melayani aspirasi dan kebutuhan masyarakat yang berada di dalamnya. Perluasan wilayah dalam pengembangan wilayah formal akan dibatasi oleh batas wilayah lain yang berbatasan.

2.    Pendekatan fungsional, yaiu suatu perencanaan yang memperhitungkan lokasi berbagai kegiatan ekonomi dan pengaturan secara ruang dari sistem perkotaan mengenai berbagai pusat dan jaringan. Dalam perencanaan akan dikembangkan model-model perencanaan seperti model gravitasi, analisis masukan-keluaran, pusat pertumbuhan, dan lain-lain. Perluasan wilayah fungsional memperhitungkan dan mengambil manfaat dari keadaan wilayah lain yang berbatasan dalam interaksi dan memenuhi kebutuhan yang tidak dimiliki oleh masing-masing wilayah bersangkutan.

Akhirnya dari masing-masing pengertian tentang ruang ternyata memiliki fungsi yang berbeda-beda, walauapun pada akhirnya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk diklasifikasikan sesuai fungsinya sehingga dapat dilakukan pengaturan ruang agar lebih nyaman, berguna, dan dapat berkelanjutan.

 

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, silakan Anda mengerjakan latihan sebagai berikut:

1.    Ruang dapat didefinisikan bermacam-macam setidaknya dalam bahan belajar mandiri ini dibagi empat yaitu menurut geografi, ekologi, dan ilmu perencananaan wilayah. Coba jelaskan sesuai dengan pemahaman Anda dan tunjukkan dengan contohnya!

2.    Jelaskan bahwa suatu kawasan ruang merupakan suatu sistem yang terintegrasi antara unsur-unsur yang ada di dalamnya?

 

Petunjuk Jawaban Latihan

Dalam mengerjakan latihan, Anda dapat berdiskusi degan rekan-rekan sesama mahasiswa dan tutor. Jawaban atas pertanyaan hendaknya mengacu kepada uraian dan contoh Kegiatan Belajar, dan jawaban menggunakan bahasa Indonesia yang baku dan benar, dan dianjurkan untuk menggunakan sumber referensi lainnya

 

Rangkuman

  1. Ruang dalam padangan geografi dapat dinamai berdasarkan topik, aktivitas manusia, dan regional. Dalam melakukan pendekatan terhadap gejala dan masalah, geografi akan menggunakan pendekatan topik utama, biasanya mencari apa yang menjadi pusat perhatian manusia. Pada pendekatan keruangan lainnya, pendekatan utama diarahkan kepada aktivitas manusianya (human activities). Adapun ruang dalam pendekatan region berarti mendekati suatu gejala atau suatu masalah dan region atau wilayah tempat gejala atau masalah tadi tersebar. Tekanan utama pendekatannya bukan kepada topik atau aktivitas manusianya, melainkan kepada region yang merupakan ruang atau wadahnya..
  2. Ekologi khususnya ekologi manusia berkenaan dengan interelasi antara manusia dengan lingkungannya yang membentuk suatu sistem ekologi atau ekosistem. Prinsip dan konsep yang berlaku pada bidang ilmu ekologi sebenarnya tidak jauh berbeda dengan geografi dalam memandang aspek ruang.  Ruang menurut ekologi sebagai suatu bentuk ekosistem hasil hubungan dan penyesuaian antara penyebaran dan aktivitas manusia dengan lingkungannya pada area atau daerah tertentu. Jadi dalam hal ini, interelasi manusia dengan alam lingkungan di sekitarnya didekati atau dikaji berdasarkan konsep dan prinsip ekologi, atau dengan perkataan lain dengan menggunakan pendekatan ekologi. Dengan demikian, bukan berarti bahwa ekologi manusia itu sama dengan atau dapat menggeser kedudukan geografi.
  3. Berdasarkan konsep pewilayahan, ruang permukaan bumi dibatasi oleh keadaan fisik, sosial, dan batas administrasi pemerintahan. Jika satu kesatuan alam permukaan bumi menunjukkan ciri-ciri yang relatif sama maka dinamakan sebagai ruang geografi (space). Ciri-ciri yang relatif sama tersebut misalnya seragam dalam hal keadaan fisik permukaannya, kebudayaan masyarakatnya mempunyai ciri yang khas, dan ruang tersebut menunjukkan suatu sistem kehidupan dalam keterikatan yang kentara. Ruang geografi yang memiliki ciri khas tertentu disebut wilayah (region).
  4. Wilayah fungsional (functional region) atau wilayah nodus yaitu suatu bagian dari permukaan bumi, di mana beberapa keadaan alam yang berlawanan memungkinkan timbulnya bermacam-macam kegiatan, yang hasilnya berbeda dan saling mengisi dalam keperluan kehidupan manusia, karena itu sering pula disebut wilayah organik. Contoh wilayah fungsional misalnya di suatu wilayah lereng pada sebuah gunung mulai dari lereng atas sampai dengan lereng kaki, disambung dengan daerah dataran rendah hingga akhiurnya ke tepi sebuah pantai. Penduduk di lereng atas hidup dari kehutanan, penduduk di lereng di bawahnya hidup dari perkebunan, penduduk di lereng bawah hidup dari pertanian, penduduk yang berada di dataran mungkin perkotaan dan hidup dari usaha pelayanan jasa, sedangkan penduduk yang berada di tepian laut hidup sebagai nelayan.
  5. Ilmu planologi berkepentingan dalam memahami ruang sebagai suatu hal yang berisi sarana dan prasarana untuk mendukung kehidupan manusia. Kota sebuah bentang ruang budaya adalah ditimbulkan oleh unsur-unsur alamiah dan non alami  dengan gejala-gejala pemusatan penduduk yang cukup besar dan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistis dibandingkan dengan daerah belakangnya.

 

 

Tes Formatif 1

Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar dari berbagai jawaban yang disediakan

  1. Suatu daerah terkena banjir. Dalam studi keruangan lebih baik dikaji menurut pendekatan:
  2. suatu desa umumnya memiliki pekerjaan petani dan dalam usaha pertanian memiliki sistem pemnbagian air seperti subak. Desa tersebut akan lebih rinci jika dikaji dengan pendekatan keruangan:
  3. Pertanian tidak dapat dilakukan didaerah iklim yang ektrim, terlalu panas dan tandus atau terlalu dingin dan ditutupi salju. Hal ini menandakan bahwa suatu ruang terikat dengan prinsip:
    1. penyebaran
    2. interelasi
    3. regional
    4. interaksi
  4. suatu wilayah dipermukaan bumi yang memiliki karakteristik tertentu yang khas dan daoat dibedakan dengan wilayah lainnya disebut:
    1. kawasan
    2. daerah
    3. region
    4. lokasi
  5. interelasi antara manusia dengan lingkungannya yang membentuk suatu ekosistem disebut:
  6. Orang yang menerapkan konsep ekologi manusia untuk menelaah manusia dengan lingkungan dalam hubungan jalinan hidup (web of life) pada tempat tinggal manusia yang meliputi neraca alam, persaingan, dominasi dan pertukaran; ekonomi — biologi, dan proses simbiosisnya.
    1. R.E. Park
    2. Charles Darwin
    3. Mandel
    4. Emil salim
  7. Bandung adalah suatu wilayah perkotaan. Pernyataan tersebut lebih tepat mengacu pada konsep:
    1. wilayah fungsional
    2. wilayah formal
    3. wilayah kajian
    4. wilayah kota
  8. Suatu kawasan tidak perlu memiliki kesamaan dalam bidang tertentu karena beberapa keadaan alam yang berlawanan memungkinkan timbulnya bermacam-macam kegiatan, yang hasilnya berbeda dan saling mengisi dalam keperluan kehidupan manusia, karena itu sering pula disebut wilayah organik. Pernyataan ini sesuai dengan prinsip:
    1. wilayah fungsional
    2. wilayah formal
    3. wilayah kajian
    4. wilayah kota
  9. Perencanaan wilayah macam ini memperhitungkan mobilisasi terpadu dari semua sumberdaya manusia dan sumberdaya alam dari suatu wilayah tertentu  yang dicirikan oleh perkembangan sejarahnya. Pernyataan tersebut sesuai dengan:
    1. pendekatan teritorial
    2. Pendekatan fungsional
    3. Pendekatan formal
    4. Pendekatan wilayah
  10. kota sebagai suatu wadah yang memiliki batasan administratif, merupakan lingkungan kehidupan perkotaan yang mempunyai ciri non agraris. Pengertian kota sebagaimana yang dijelaskan di atas adalah menurut:
  1. pendekatan ekologi
  2. pendekatan topik
  3. pendekatan aktivitas manusia
  4. pendekatan regional
  1. pendekatan ekologi
  2. pendekatan topik
  3. pendekatan aktivitas manusia
  4. pendekatan regional
  1. geografi
  2. biografi
  3. biogeografi
  4. ekologi
  1. definisi geografi kota
  2. definisi planologi
  3. Definisi wilayah fungsional
  4. Definisi Peraturan Menteri Dalam Negeri RI No. 4 tahun 1980

 

Umpan Balik

Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban Tes Formatif yang terdapat pada bagian akhir modul ini, dan hitunglah jawaban Anda yang benar. Kemudian gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda dalam materi Kegiatan Belajar 1 ini.

 

Rumus:

 

                                   Jumlah jawaban Anda yang benar

Tingkat penguasaan = ————————————– X 100%

                                                        10

 

 

 

Arti tingkat penguasaan yang anda capai:

90% – 100%         = baik sekali

80% – 89%            = baik

70% – 79%            = cukup

        –  69%            = kurang

 

Bila Anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat  meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2 dan artinya pula Anda LULUS. Tetapi bila tingkat penguasaan Anda kurang dari 80 %, Anda harus mempelajari kembali Kegiatan Belajar 2.1 kembali, terutama pada bagian yang belum Anda ketahui. Bersabarlah dan jangan terburu-buru untuk segera melangkah mempelajari materi berikutnya.

 

 

 

 

KEGIATAN BELAJAR 2:

Konsep tempat dan cara memilihnya

 

Bagi orang awam, konsep tempat jarang dibahas atau diperhatikan karena setiap saat orang telah terbiasa untuk memilih tempat. Ketika naik kendaraaan, katakanlah naik bus, maka pertama kali akan mencari tempat duduk yang menurutnya akan lebih nyaman. Kegiatan memilih tempat yan sedikit mendapat perhatian orang adalah ketika memilih tempat tinggal dan memilih tempat usaha. Ketika memilih dua tempat tersebut, mereka serius untuk memkirkannya agar tidak menyesal atau merugi di kemudian hari.

      Keberadaan permukiman penduduk sebenarnya tidak asal berdiri. Orang pertama yang mendirikan rumah (sebagai cikal bakal permukiman) pasti memiliki alasan tertentu untuk memilih tempat atau lokasi sehingga mendirikan rumah di sana. Kemudian alasan tersebut diikuti oleh oleh anak-menantunya, saudara-saudaranya, dan berdatanganlah orang lain untuk ikut berkumpul dalam perkampungan tersebut. Perintis permukiman di perdesaan atau perkampungan antara lain dalam memilih tempat setidaknya didasarkan pada:

1)    Kemudahan mendapat air, karena semua orang butuh air. Pola permukiman yang nampak sekali mendekati sumber mataair adalah di daerah gurun yaitu mengelilingi Oase.

2)    Terdapat tanah-tanah yang subur, misalnya di sekitar lahan-lahan pertanian subur, hal ini karean terkait dengan pemenuhan bahan pangan penduduknya.

3)    Dekat dengan lahan-lahan garapannya. Ada tiga pola permukiman yang dekat dengan lahan garapannya yaitu (a) bergerombol berdekatan dengan tanah pertanian (Nucleated Agricultural Village Community), (b) memanjang sungai dengan lahan pertanian di belakang permukiman (Line Village Commmunity), (c) Permukiman tersebar di daerah pertanian (Open Country or trade center community)

4)    Tidak ada faktor penghalang untuk mendirikan bangunan. Daerah yang tidak ada faktor penghalang untuk mendirikan bangunan merupakan pilihan utama bagi permukiman, misalnya daerah yang relatif datar.

5)    Mudah melakukan mobilitas termasuk ke tempat pekerjaannya.

6)    Memiliki beberapa fasilitas sosial seperti pendidikan, rumah sakit, dan sarana hiburan.

7)    Harga yang murah menjadi pertimbangan untuk memilih tempat tinggal. Bagi sebagian besar penduduk masih menggunakan ukuran harga sebagai pertimbangan utama untuk menentukan pilihan tempat tinggal, meskipun faktor lainnya kurang mendukung.

8)    Pengaruh dari berbagai macam aturan tata ruang di perkotaan. Permukiman di perkotaan banyak dipengaruhi oleh aturan tata ruang, artinya alasan orang bermukim pada suatu daerah bisa jadi akibat adanya aturan tata ruang. Di perkotaan tumbuh permukiman-pemukiman yang sengaja ditempatkan melalui kebijakan tata ruang kota. Karena itu persebaran permukiman di perkotaan sebenarnya banyak dipengaruhi aturan kebijakan.

Semua alasan itu secara keseluruhan akan mempengaruhi seseorang untuk memilih tempat. Karena semua orang berfikiran yang sama maka akan tampak pada peta sebagai suatu sebaran permukiman yang berpola. Pola permukiman penduduk misalnya akan mengikuti alur sungai, mengikuti alur jalan, dan memanjang garis pantai, ada pula yang memiliki pola memusat dan terpencar. Pola permukiman yang memusat terjadi akibat dari adanya pusat-pusat kegiatan penduduk untuk mencari nafkah. Misalnya adanya lokasi pertanian, perikanan, peternakan, pertambangan, kehutanan, industri, perkantoran, dan lain-lain.

Perkampungan yang memusat selain disebabkan oleh karena mendekati tempat pekerjaannya, tetapi juga oleh karena ada sumber alam yang menguntungkan misalnya:

1)    Dekat dengan tanah-tanah subur dan dapat mengikat tempat kediaman penduduk dalam satu kelompok.

2)    Daerah-daerah yang dijadikan tempat permukiman memiliki topografi atau relief yang sama misalnya di dataran rendah yang tidak terputus oleh sungai yang besar atau bukit yang tinggi.

3)    Mendekati sumber air yang sama dan mudah didapatkan.

4)    Daerah-daerah yang keamanannya rawan atau belum dapat dipastikan maka mereka akan bergerombol untuk saling membantu.

        Sedangkan perkampungan yang terpencar dapat terjadi akibat berbagai faktor yaitu:

1)    Di daerah-daerah banjir. Penduduk akan mencari tempat-tempat yang agak tinggi dan biasanya terpencar-pencar, sehingga pola permukiman yang disusun akan terpencar.

2)    Daerah-daerah dengan topografi yang kasar atau berbukit-bukit terjal, menyebabkan penduduk akan membuat rumah secara tersebar

3)    Permukaan air tanah yang dangkal atau mudah dibuat, sehingga penduduk akan mecari daerah-daerah sesuai kehendaknya. Berbeda dengan keadaan air tanah yang dalam, (karena membuat sumur banyak biayanya) maka mereka akan berkumpul (tidak menyebar).

 

1. Tempat sebagai suatu konsep yang terikat pada suatu lokasi dalam ruang

Dalam geografi, tempat yang diartikan sebagai suatu lokasi dalam ruang (permukaan bumi) akan diikatkan pada suatu titik koordinat berdasarkan titik lintang dan bujur dalam tata koordinat bumi. Misalnya, suatu tempat yang terletak di titik 7o14’ Bujur Timur dan 4o11’ Lintang Selatan. Dengan mengetahui titik ikat tersebut maka akan mudah mencarinya dalam peta. Indonesia juga mudah kita cari di permukaan bumi pada saat mengetahui tempatnya berdasarkan lokasi atau koordinat bumi.

Konsep tempat ada dua yaitu tempat yang mutlak dan tempat relatif. Tempat yang mutlak misalnya berdasarkan lokasi astronomis sebagaimana dijelaskan pada paragaf di atas. Sedangkan tempat relatif terkait dengan tempat lainnya di suatu ruang atau wilayah. Misalnya kota Jakarta dapat dikatakan sebelah timur, tetapi pada waktu yang lain dapat dikatakan di sebelah barat, tergantung dari mana kita menyebutnya. Pada saat kita berada di Propinsi Banten, maka Jakarta berada di sebelah timur tetapi manakala kita berada di Kota Subang maka Jakarta berada di sebelah barat.

 

2. Tempat sebagai suatu wilayah dapat membentuk suatu pola

Tempat sesuatu yang terpilih dan dipertimbangkan berdasarkan pemikiran rasional umumnya akan membentuk suatu pola. Jika tersebar dalam ruang, tempat-tempat tertentu dapat membuat suatu jaringan yang terpadu. Dalam mengkaji tempat, orang dapat menganalisisnya berdasarkan pola sebarannya, pola keterkaitannya, dan pola ketergantungannya.

Identifikasi persebaran objek geografi yang paling efektif adalah melalui peta. Kelebihan peta dalam menampilkan data atau informasi yang terkait dengan unsur geografis selain mengidentifikasi persebaran, juga pola dan hubungan objek geografi.

               

3. Pola dan hubungan antar tempat geografi

Pada peta kita dapat mengidentifikasi suatu pola tertentu. Pada sejumlah disiplin ilmu seperti planologi (perencanaan wilayah), hidrologi, dan biogeografi sangat berkepentingan mempelajari pola-pola tertentu pada peta. Dalam planologi dikenal pola pengembangan wilayah kota dan desa. Gambar 1.1 ditampilkan contoh pola persebaran permukiman di wilayah perdesaan.

Pola persebaran di atas terkait dengan objek geografi lain misalnya, pola permukiman yang memanjang sungai. Hal tersebut menandakan bahwa pola kehidupan masyarakat kampung tersebut sangat tergantung dengan aliran sungai, misalnya untuk memenuhi kebutuhan mencuci, kebutuhan sarana transportasi, mencari penghidupan (mencari ikan), dan lain-lain.

Hubungan antara objek geografi dapat pula digambarkan antara adanya tempat sesuatu membuktikan adanya sesuatu di tempat sekitarnya. Ketika ada delta di muara sungai, maka dapat dipastikan bahwa di daerah hulu sungai mengalami erosi lahan yang kuat. Melalui aliran sungai bahan hasil erosi di bawa menuju muara dan di endapkan di muara sungainya

Pola dan hubungan antara faktor kegiatan manusia dengan lingkungan fisik dapat dilihat pada gambar di bawah ini pada Buku interaksi desa-kota karangan R. Bintarto (1989) bahwa pola perluasan kota lebih cepat berkembang ke arah kota perdagangan dibandingkan dengan daerah laut atau pegunungan. Perbedaan pola perluasan tersebut tentunyan terkait bahwa aktifitas manusia cenderung mencari penghidupan ke daerah-daerah yang lebih ramai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                                    

                                                 

                            Pola memanjang jalan                                    Pola memanjang sungai

                                                                                                                                    

                                                 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                           Pola memanjang pantai                                                Pola radial

 

Gambar 1.1: Pola-pola permukiman

 

4. Menentukan Tempat untuk kegiatan Industri

Penerapan ilmu menentukan tempat atau lokasi, banyak dikaji oleh para perencana wilayah dalam kegiatan industri. Banyak teori lokasi yang digunakan untuk menentukan lokasi industri. Pengambilan keputusan untuk memilih lokasi merupakan kerangka kerja yang prospektif bagi pengembangan suatu kegiatan yang bersifat komersil, yaitu pemilihan lokasi-lokasi yang strategis, artinya lokasi itu memiliki atau memberikan pilihan-pilihan yang menguntungkan dari sejumlah akses yang ada. Semakin strategis suatu lokasi untuk kegiatan industri, berarti akan semakin besar peluang untuk meraih keuntungannya. Jadi, tujuan dari penentuan lokasi industri yaitu untuk memperbesar keuntungan dengan menekan biaya produksi dan meraih pasar yang besar dan luas.

Faktor-faktor yang mempengaruhi atau perlu diperhitungkan dalam menentukan lokasi industri dinamakan faktor lokasi, yaitu sebagai berikut:

•     Bahan mentah, merupakan kebutuhan pokok dalam kegiatan industri, sehingga harus selalu tersedia dalam jumlah besar demi kelancaran produksi.

•     Modal, peranannya sangat penting untuk kelancaran kegiatan produksi, baik dalam pengadaan bahan mentah, upah kerja dan biaya produksi lainnya.

•     Tenaga kerja, merupakan tulang punggung kelancaran proses produksi, baik jumlah maupun keahliannya.

•     Sumber energi, kegiatan industri memerlukan sumber energi, baik berupa energi listrik, BBM dan gas.

•     Transportasi dan komunikasi, lokasi industri harus dekat dengan prasarana dan sarana angkutan atau perhubungan dan komunikasi, seperti jalan raya, jalan kereta api dan pelabuhan untuk memudahkan pengangkutan hasil industri dan bahan mentah, serta telepon untuk memudahkan arus informasi.

•     Pemasaran, lokasi industri harus menjangkau konsumen sedekat mungkin agar hasil produksi mudah dipasarkan.

•     Teknologi, penggunaan teknologi yang kurang tepat guna dapat menghambat jalannya suatu kegiatan industri.

•     Peraturan, peraturan atau perundang-undangan sangat penting demi menjamin kepastian berusaha dan kelangsungan industri. seperti peraturan tata ruang, fungsi wilayah, UMR, perijinan, sistem perpajakan dan sebagainya,

•     Lingkungan, faktor lingkungan yang kurang kondusif selain menghambat kegiatan industri juga kurang menjamin keberadaannya. Misalnya keamanan, jarak ke lokasi pemukiman, polusi atau pencemaran, dan sebagainya.

•     Iklim dan sumber air, menentukan kegiatan industri, artinya keadaan iklim dan ketersediaan sumber air jangan sampai menghambat kegiatan produksi.

        Namun semua faktor industri tersebut tentunya tidak seluruhnya dapat diakomodasi secara keseluruah. Terkadang satu industri akan lebih dekat dengan lokasi bahan baku tetapi jauh dengan lokasi pemasaran, atau sebaliknya. Karena banyak faktor yang harus dipertimbangkan maka lahirlah teori-teori untuk membantu memecahkan masalah penentuan lokasi, yaitu harus didasarkan pada faktor-faktor produksi paling dominan dari suatu kegiatan industri.

Beberapa teori yang cukup terkenal dalam memilih lokasi antara lain teori lokasi industri dari Alfred Weber (least cost location). Isi teori Weber adalah bahwa lokasi industri-industri dipilih di tempat-tempat yang biayanya paling minimal (least cost location). Teori ini dapat diterapkan jika terpenuhi kriteria prakondisi sebagai berikut:

1)    memiliki wilayah yang seragam dalam hal topografi, iklim, dan penduduknya

2)    adanya sumberdaya atau bahan mentah yang cukup

3)    adanya upah buruh yang telah baku yaitu sama di mana-mana (seperti Upah Minimum Regional –UMR).

4)    biaya transportasi tergantung dari bobot bahan mentah yang diangkut dan jarak antara bahan mentah dan lokasi pabrik.

5)    terdapatnya kompetisi antar industri dalam pasar bebas. 

6)    manusia yang terlibat di dalamnya bebas menggunakan berfikir rasional.  Artinya sistem ekonomi yang diterapkan cenderung liberal dan tanpa ada batas-batas hukum. Yang membatasi mereka hanya kebebasan orang lain.

Weber dalam mengembangkan teorinya menggunakan segitiga bobot yang sudut-sudutnya menunjukkan perbandingan bobot material-material yang diangkut. Ahli teori lokasi ini menggunakan tiga faktor atau variabel penentu dalam analisa teorinya, yaitu titik material bahan baku, titik konsumen dan titik tenaga kerja. Ketiga faktor tersebut diukur dengan ekuivalensi ongkos transport. Perhatikan segitiga Weber seperti pada gambar 1.2.

 

 

 

M

M

M

R1

R1

R1

R2

R2

R2

P1

P2

P3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1.2: Segitiga Weber

 

Segitiga weber ini menunjukkan M (market atau pasar), R1 dan R2 merupakan lokasi bahan mentah yang bersumber dari lokasi satu dan dua. Adanya dua lokasi bahan baku (R1 dan R2) karena umumya setiap industri terdiri dari dua atau lebih sumber bahan baku.

P1 =     adalah tempat industri ditengah-tengah antara pasar dan dua sumber bahan mentah. Artinya, bobot yang harus diangkut dari bahan baku dan atau yang harus dikirim ke lokasi pasar hampir sama. Karena itu lokasi pabrik berada di tengah-tengah. 

P2  =    adalah tempat industri yang mendekati kedua sumber bahan mentah atau bahan baku. Artinya bobot total bahan baku yang perlu diangkut sangat besar dan lebih berat daripada bobot yang harus diangkut ke lokasi pasar.

P3  =    adalah tempat industri yang mendekati pasar. Bahan baku yang perlu diangkut lebih ringan daripada bobot yang perlu diangkut ke lokasi pasar.

 

Latihan

Untuk memperdalam materi, jawablah soal latihan di bawah ini:

  1. di suatu peta tergambar pola persebaran permukiman sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                Tentukan pola persebaran permukiman tersebut!

 

  1. Segitiga weber pada dasarnya menunjukkan tiga buah titik utama yaitu M (market atau pasar), R1 dan R2 merupakan lokasi bahan mentah yang bersumber dari lokasi satu dan dua. Adanya dua lokasi bahan baku (R1 dan R2) karena umumya setiap industri terdiri dari dua atau lebih sumber bahan baku. Jika lokasi industri lebih menguntungkan jika ditempatkan di dekat R2. Gambarlah segitiga webernya

Petunjuk jawaban latihan:

Untuk menjawab latihan di atas, Anda hanya membutuhkan waktu sedikit untuk membaca kembali uraian materi dengan pemahaman yang lebih baik dan sedikit perenungan agar dapat memberi contoh dari uraian yang Anda kemukakan. Termasuk soal latihan nomor dua, uraian Anda akan lebih mudah difahami jika dilengkapi dengan contoh.  

 

Rangkuman

  1. Konsep tempat ada dua yaitu tempat yang mutlak dan relatif. Tempat yang mutlak misalnya berdasarkan lokasi astronomis sebagaimana dijelaskan pada paragaf di atas. Sedangkan tempat relatif terkait dengan tempat lainnya di suatu ruang atau wilayah. Misalnya kota Jakarta dapat dikatakan sebelah timur, tetapi pada waktu yang lain dapat dikatakan di sebelah barat, tergantung dari mana kita menyebutnya. Pada saat kita berada di Propinsi Banten, maka Jakarta berada di sebelah timur tetapi manakala kita berada di Kota Subang maka Jakarta berada di sebelah barat.
  2. Tempat sesuatu yang terpilih dan dipertimbangkan berdasarkan pemikiran rasional umumnya akan membentuk suatu pola. Jika tersebar dalam ruang, tempat-tempat tertentu dapat membuat suatu jaringan yang terpadu. Dalam mengkaji tempat, orang dapat menganalisisnya berdasarkan pola sebarannya, pola keterkaitannya, dan pola ketergantungannya. Identifikasi persebaran objek geografi yang paling efektif adalah melalui peta. Kelebihan peta dalam menampilkan data atau informasi yang terkait dengan unsur geografis selain mengidentifikasi persebaran, juga pola dan hubungan objek geografi.
  3. Pada sejumlah disiplin ilmu seperti planologi (perencanaan wilayah), hidrologi, dan biogeografi sangat berkepentingan mempelajari pola-pola tertentu pada peta. Dalam planologi dikenal pola pengembangan wilayah kota dan desa.
  4. Para ahli industri melakukan pertimbangan-pertimbangan untuk memilih lokasi industri. Pengambilan keputusan untuk memilih lokasi merupakan kerangka kerja yang prospektif bagi pengembangan suatu kegiatan yang bersifat komersil, yaitu pemilihan lokasi-lokasi yang strategis, artinya lokasi itu memiliki atau memberikan pilihan-pilihan yang menguntungkan dari sejumlah akses yang ada. Semakin strategis suatu lokasi untuk kegiatan industri, berarti akan semakin besar peluang untuk meraih keuntungannya. Jadi, tujuan dari penentuan lokasi industri yaitu untuk memperbesar keuntungan dengan menekan biaya produksi dan meraih pasar yang besar dan luas.
  5. Dasar orientasi keputusan pemilihan lokasi tersebut utamanya ditekankan kepada biaya transportasi yang rendah. Beberapa teori yang cukup terkenal dalam memilih lokasi antara lain Teori Lokasi industri dari Alfred Weber (least cost location). Isi teori ini adalah bahwa lokasi industri-industri dipilih di tempat-tempat yang biayanya paling minimal (least cost location). Teori ini dapat diterapkan jika terpenuhi kriteria prakondisi sebagai berikut: (a) memiliki wilayah yang seragam dalam hal topografi, iklim, dan penduduknya, (b) Adanya sumberdaya atau bahan mentah yang cukup, (c) adanya upah buruh yang telah baku yaitu sama di mana-mana (seperti Upah Minimum Regional –UMR), (d) Biaya transportasi tergantung dari bobot bahan mentah yang diangkut dan jarak antara bahan mentah dan lokasi pabrik.
  6. Teori lokasi industri optimal dari Losch dalam buku Economics of Location terbitan tahun 1954  mendasarkan pada permintaan (demand) yang memililiki asumsi bahwa lokasi optimal dari suatu pabrik atau industri adalah di mana yang bersangkutan dapat menguasai wilayah pasaran yang terluas; dengan demikian dapat menghasilkan paling banyak pendapatan. Teori losch sebenarnya hanya memperkuat teori tempat yang sentral dari Walter Christaller yang dipublikasikan tahun 1933.
  7. Teori ini dalam membangun teorinya mengasumsikan bahwa permukaan lahan dianggap datar dan homogen dan selalu disuplai oleh pusat (industri) karena adanya permintaan secara merata. Teori ini mengatakan bahwa volume penjualan akan meningkat karena para industrialis akan menjual barangnya dengan harga yang lebih murah, sedangkan ke tempat yang jauh akan lebih mahal karena harus menutup ongkos ekstra dari tansportasi masing-masing.      

 

Tes Formatif 2

Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar dari berbagai jawaban yang disediakan

  1. Perintis permukiman di perdesaan atau perkampungan antara lain dalam memilih tempat setidaknya didasarkan pada, kecuali:
    1. Kemudahan mendapat air
    2. Mencari tanah-tanah yang subur
    3. Dekat dengan lahan-lahan garapannya.
    4. Ada faktor penghalang untuk mendirikan bangunan.
    5. Perkampungan yang memusat selain disebabkan oleh karena mendekati tempat pekerjaannya, tetapi juga oleh karena ada sumber alam yang menguntungkan misalnya:
      1. Daerah-daerah yang dijadikan tempat permukiman memiliki topografi atau relief yang sama misalnya di dataran rendah yang tidak terputus oleh sungai yang besar atau bukit yang tinggi.
      2. Daerah-daerah yang memiliki permukaan air tanah yang sangat dalam, sehingga untuk membuat sumur-sumur lainnya membutuhkan biaya yang besar. Karena itu permukiman akan mendekati suatu sumur bersama sebagai sumber kehidupan. Sumur menjadi pemusatan penduduk.
      3. daerah-daerah yang memiliki tempat hiburan karena orang-orang akan berkumpul di daerah tersebut
      4. Daerah-daerah yang keamanannya rawan atau belum dapat dipastikan maka mereka akan bergerombol untuk saling membantu.
      5. Perkampungan yang terpencar dapat terjadi akibat berbagai faktor yaitu:
        1. Permukaan air tanah yang dalam tetapi mudah dipompa
        2. Di daerah-daerah banjir.
        3. Daerah-daerah dengan topografi yang kasar atau berbukit-bukit terjal
        4. Permukaan air tanah yang dangkal atau mudah dibuat
        5. Pulau Bali berada di sebelah timur pulau Jawa. Letak pulau Bali tersebut berdasarkan letak:
        6. Nilai R dalam analisis data terdekat memiliki nilai 0,5. Artinya sebaran fenomena geografi tersebut adalah:
          1. pola tersebar tidak merata
          2. pola tersebar merata
          3. Pola bergerombol
          4. pola acak-acakan
          5. Pola persebaran sangat bermanfaat untuk untuk mengadakan evaluasi, kecuali:
            1. pola-pola permukiman,
            2. penyebaran sumber daya
            3. penyebaran endapan batu bara,
            4. persebaran penduduk
            5. Pola permukiman yang memanjang sungai menandakan bahwa kehidupan masyarakat kampung tersebut sangat tergantung pada:
              1. air sungai
              2. transportasi sungai
              3. Minum, Cuci, Kakus (MCK)
              4. mencari penghidupan (mencari ikan)
              5. Weber dalam mengembangkan teorinya menggunakan segitiga bobot yang sudut-sudutnya menunjukkan perbandingan bobot material-material yang diangkut.  Ahli teori lokasi ini menggunakan tiga faktor atau variabel penentu dalam analisa teorinya, yaitu titik material bahan baku, titik konsumen dan titik tenaga kerja. Terapannya adalah jika industri lebih menguntungkan pada pasar, maka lokasi yang cocok adalah ditunjukkan pada gambar:
  1. mutlak
  2. relatif
  3. akurat
  4. astronomis

 

M

R1

R2

P1

M

R1

R2

P3

 

A.                                                                    B.

 

 

 

 

 

 

 

 

M

R1

R2

P2

M

R1

R2

P3

 

      C.                                                                      D.

 

 

 

 

 

 

 

 

               

  1. Teori lokasi industri optimal menurut Losch didasarkan pada asumsi:
    1. Teori ini dalam membangun teorinya mengasumsikan bahwa permukaan lahan dianggap datar dan homogen dan selalu disuplai oleh pusat (industri) karena adanya permintaan secara merata.
    2. Teori ini mengatakan bahwa volume penjualan akan meningkat karena para industrialis akan menjual barangnya dengan harga yang lebih murah, sedangkan ke tempat yang jauh akan lebih mahal karena harus menutup ongkos ekstra dari tansportasi masing-masing.      
    3. bahwa lokasi optimal dari suatu pabrik atau industri adalah di mana yang bersangkutan dapat menguasai wilayah pasaran yang terluas; dengan demikian dapat menghasilkan paling banyak pendapatan.
    4. Jika suatu industri berada di tempat yang berjauhan maka lingkup daerah pemasarannya akan sejauh jarak dan biaya transportasi. Semakin jauh akan semakin mahal harganya dan sampai batas tertentu tidak lagi terjangkau oleh daya beli masyarakat. 
    5. Industri tahu sebaiknya ditempatkan lebih dekat kepada:
  1. Pasar
  2. Bahan baku
  3. Tenaga kerja
  4. transportasi

 

 

Umpan Balik

Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban Tes Formatif yang terdapat pada bagian akhir modul ini, dan hitunglah jawaban Anda yang benar. Kemudian gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda dalam materi Kegiatan Belajar 2 ini.

Rumus:

 

                                   Jumlah jawaban Anda yang benar

Tingkat penguasaan = ————————————– X 100%

                                                        10

 

Arti tingkat penguasaan yang anda capai:

90% – 100%         = baik sekali

80% – 89%            = baik

70% – 79%            = cukup

        –  69%            = kurang

 

Bila Anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat  meneruskan Kegiatan Belajar 3 dan Anda dinyatakan LULUS. Tetapi bila Anda memperoleh nilai kurang dari 80 %, dengan berat hati Anda harus mempelajari kembali Kegiatan Belajar 2. Namun demikian jangan berkecil hati, tidak ada hal yang sulit. Anda hanya membutuhkan waktu sedikit untuk mengingat tentang hal-hal yang belum dikuasai.

 

 

 

KEGIATAN BELAJAR 3:

Sistem Keruangan sebagai pendekatan dalam ilmu geografi

 

Tempat dan ruang dalam ilmu geografi merupakan objek studi yang utama. Pada gilirannya karena sistem keruangan merupakan yang terintegrasi dan mampu menyelesaikan masalah yang terjadi dalam ruang maka keruangan dianggap sebagai suatu pendekatan dalam ilmu geografi.

Menurut R. Bintarto, analisa keruangan mempelajari perbedaan lokasi mengenai sifat-sifat penting. Ahli geografi akan bertanya faktor-faktor apakah yang menguasai pola penyebaran dan bagaimanakah pola tersebut dapat diubah agar penyebarannya menjadi lebih efisien dan lebih wajar. Dengan kata lain dapat diutarakan bahwa dalam analisa keruangan yang harus memperhatikan penyebaran penggunaan ruang yang telah ada dan kedua, penyediaan ruang yang akan digunakan untuk berbagai kegunaan yang dirancangkan.

Dalam analisa keruangan ini dapat dikumpulkan data lokasi yang terdiri dari data titik (point data) dan data bidang (areal data). Yang digolongkan ke dalam data titik adalah data ketinggian tempat, data sampel batuan, data sampel tanah dan sebagainya. Yang digolongkan ke dalam data bidang misalnya luas hutan, luas daerah perkebunan, data luas pertanian padi, dan lain-lain. Meskipun demikian dari data titik dapat pula diperoleh data bidang. Data dan beberapa sampel tanah dapat dipetakan dan ditentukan batas-batasnya hingga diperoleh data bidang yaitu data tentang penyebaran jenis tanah tertentu.

Beberapa data titik dapat dijadikan data bidang seperti data sampel tanah dan bcberapa titik sampel dapat dijadikan data bidang, data curah hujan dari sejumlah stasiun hujan dapat pula dijadikan data bidang. Dalam hal pcrancangan pemukiman transmigrasi misalnya perlu diperhatikan antara lain adalah persyaratan minimum tingkat kesuburan tanah dan kemiringan daerah maksimum 8%. Kedua sifat penting ini diperoleh dan data bidang yang semula diperoleh dari data titik.

Dengan mengetahui penyebaran daerah persyaratan minimum tingkat kesuburan tanah dan daerah dengan kemiringan maksimuin 8% dapat dirancangkan untuk kepentingan pemukiman transmigrasi. Rancangan wilayah ini berarti akan mengubah pola wilayah itu secara keseluruhan untuk tujuan merancang pemukiman transmigrasi dengan maksud agar pola itu menjadi lebih efisien, yaitu dengan merancangkan daerah pemukiman, daerah tanah pertanian, daerah pusat pemerintahan, daerah kuburan, janing-jaring jalan, daerah yang harus tetap tertutup hutan, daerah cadangan dan lain sebagainya.

Dalam mempelajari ruang dan persebaran fenomena geografi, pemahaman kita yang paling penting adalah teori difusi. lstilah difusi telah banyak dibicarakan dalam fisika, biologi, sosiologi, ekologi dan sebagainya. Dalam istilah sehari-hari difusi berarti pemencaran, penyebaran, atau penjalaran, seperti penyebaran berita dan mulut ke mulut, penjalaran penyakit dan suatu daerah ke daerah lain, penyebaran kebudayaan dan suatu suku ke suku yang lain.

Sebagai contoh, pernah ada proses penyebaran penyakit El Tor tahun 1905, ternyata ditemukan pertama-tama dalam tubuh enam orang muslim di sebuah tempat karantina di luar kota Mekah (nama El br berasal dari nama tempat karantina). Dalam tahun 1930 penyakit kolera El Tor diketahui terdapat di Sulawesi sebagai endemi. Selama 30 tahun berikutnya tidak ada lagi berita tentang El Tor inimi, tetapi kemudian dalam tahun 1961 terjadi penyebaran El Tor di daerah-daerah di luar Sulawesi dengan cepat. Pada tahun 1964 penyakit mi telah sampai di India dan pada permulaan tahun 1970-an mengarah ke selatan, yaitu Afrika Tengah, ke barat yaitu ke Rusia dan Eropa. Perhatikan gambar berikut (Bintarto, 1987).

 

 

Gambar 1.3: Penyebaran penyakit ELTOR

 

Dalam geografi, difusi mempunyai dua arti yang berbeda. Pertama, difusi ekspansi (expansion diffusion) yaitu suatu proses di mana material atau informasi menjalar melaiui suatu populasi ke populasi lain dan dari suatu daerah ke daerah yang lain. Dalam proses ekspansi ini informasi atau material yang didifusikan tetap dan kadang-kadang menjadi lebih intensif di tempat asalnya tetap ada dan kadang-kadang lebih intensif.

Kedua, difusi penampungan (relocation diffusion). Jenis difusi ini merupakan proses yang sama dengan penyebaran keruangan di mana informasi atau material yang didifusikan meninggalkan daerah yang lama dan berpindah atau ditampung di daerah yang baru. Ini berarti bahwa anggota dari populasi pada waktu itu berpindah letaknya dari waktu wi hingga waktu w2. Perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat lain dengan meninggalkan tempat yang lama dan (ditampung oleh tempat yang baru oleh karena bencana gunung berapi dapat digolongkan ke dalam difusi penampungan (Bintarto, 1987)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1.4: Difusi ekspansi dan relokasi

 

Gambar di atas menunjukkan dua proses difusi yaitu proses ekspansi dan proses penampungan dan bagaimana kedua proses tersebut saling bergabung. Penjangkitan El Tor seperti telah dijelaskan di muka merupakan salah satu contoh dan gabungan antara proses ekspansi dan proses penampungan.

Difusi ekspansi masih dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu: 1. difusi menjalar (contagious diffusion) di mana proses menjalarnya terjadi dengan kontak yang langsung antar manusia atau antar daerah, misalnya menjalarnya penyakit melalui kontak antar manusia. Proses mi sangat tergantung kepada jarak oleh karena semakin dekat jarak antar manusia atau antar daerali berarti semakin mudah kontak terjadi. Oleh karena itu difusi menjalar mempunyai kecenderungan untuk menjalar secara sentrifugal dan daerah sumbernya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1.5: Gabungan antara difusi ekspansi dan difusi penampungan

 

Difunsi yang lain adalah difusi kaskade yaitu proses penjalaran atau penyebaran fenomena melalui beberapa tingkat atau hirarki. Proses ini adalah proses yang terjadi pada difusi pembaharuan (diffusion of innovations) misalnya proses pembaharuan yang dimulai dan kota besar hingga ke pelosok. Difusi kaskade selalu dimulai dari tingkat atas dan kemudian menjalar ke tingkat bawah, misalnya penjalaran atau penyebaran penggunaan komputer yang dimulai dari kota besar kemudian menjalar ke tepi kota dan akhirnya sampai ke desa. Apabila proses penjalaran tersebut dimulai dari tingkat bawah maka difusi tersebut dinamakan difusi hirarki (hierarchic diffusion).

Banyak ahli geografi tertarik pada studi difusi yang bersumber kepada karya ahli geografi Sweden Torsten Hagerstrand dan kawan-kawannya dari Universitas Lund. Karya Hägerstrand berjudul Spatial Diffusion as an Innovation Process, diterbitkan di tahun 1953 di Sweden. Karya ini membincangkan tentang penjalaran atau penyebaran beberapa movasi pertanian seperti cara pengawasan tuberculose yang terdapat pada sejenis sapi di suatu daerah di Sweden Tengah.

Pada analisa Hagerstrand tentang difusi keruangan terdapat enam unsur, yaitu:

  1. daerah (area) atau lingkungan di mana proses difusi terjadi.
  2. waktu (time), di mana difusi dapat terjadi terus-menerus atau dalam waktu yang terpisah-pisah. Hagerstrand menggolong-golongkan waktu dalam periode-peniode tertentu seperti hari atau tahun, di mana nol menunjukkan titik awal dan suatu difusi sedangkan wi, w2, w3 dan sebagainya menunjukkan periode yang berurutan.
  3. item yang di-difusi-kan. Item tersebut dapat berbentuk material seperti penduduk, pesawat televisi, pesawat radio, pupuk dan dapat pula berbentuk non-material seperti tingkahlaku, penyakit, pesan dan lain sebagainya. Item-item tersebut berbeda-beda dalam derajad untuk dapat dipindahkan, untuk dapat diteruskan atau untuk dapat diterima. Misalnya penyakit cacar air mudah dipindahkan atau mudah menular kepada orang lain. Sebaliknya teknik keluarga berencana sukar untuk diteruskan dan sukar juga untuk dapat diterima. Untuk melaksanakan proses difusi tentang item teknik keluarga berencana banyak memakan biaya antara lain biaya untuk penyuluhan. Selain dan itu sikap penduduk tentang gagasan mi merupakan salah satu hambatan
  4. tempat asal
  5. tempat tujuan
  6. jalur perpindahan yang dilalui oleh item yang didifusikan

 

 

Latihan

 

Untuk memperdalam hal-hal yang penting jawablah pertanyaan berikut:

  1. Akhir-akhir ini penyebaran flu burung telah mendunia. Menurut Anda apa kira-kira jenis difusi yang dilakukan oleh virus flu burung?
  2. Jelaskan manfaat mempelajari proses difusi kaitannya dengan aspek keruangan?
  3. Dahulu gencar sekali program transmigrasi digalakan oleh pemerintah. Kira-kira jenis difusi apa dilhat dari perpindahan penduduk dan perpindahan budayanya?

 

Petunjuk jawaban latihan:

Untuk menjawab soal latihan di atas, Anda dipersilakan untuk berdiskusi dengan teman sesama mahasiswa, jika kurang puas bertanyalah kepada tutor pada saat pertemuan tatap muka. Selain  itu, dalam menjawab pertanyaan, biasakan untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baku, baik dan benar. Untuk memperjelas uraian, dianjurkan dilengkapi dengan contoh.  

 

Rangkuman

  1. Menurut R. Bintarto, analisa keruangan mempelajari perbedaan lokasi mengenai sifat-sifat penting. Ahli geografi akan bertanya faktor-faktor apakah yang menguasai pola penyebaran dan bagaimanakah pola tersebut dapat diubah agar penyebarannya menjadi lebih efisien dan lebih wajar. Dengan kata lain dapat diutarakan bahwa dalam analisa keruangan yang harus memperhatikan penyebaran penggunaan ruang yang telah ada dan kedua, penyediaan ruang yang akan digunakan untuk berbagai kegunaan yang dirancangkan.
  2. Dalam mempelajari ruang dan persebaran fenomena geografi, pemahaman kita yang paling penting adalah teori difusi. lstilah difusi telah banyak dibicarakan dalam fisika, biologi, sosiologi, ekologi dan sebagainya. Dalam istilah sehari-hari difusi berarti pemencaran, penyebaran, atau penjalaran, seperti penyebaran berita dan mulut ke mulut, penjalaran penyakit dan suatu daerah ke daerah lain, penyebaran kebudayaan dan suatu suku ke suku yang lain.
  3. Dalam geografi, difusi mempunyai dua arti yang berbeda. Pertama, difusi ekspansi (expansion diffusion) yaitu suatu proses di mana material atau informasi menjalar melaiui suatu populasi ke populasi lain dan dari suatu daerah ke daerah yang lain. Kedua, difusi penampungan (relocation diffusion). Jenis difusi ini merupakan proses yang sama dengan penyebaran keruangan di mana informasi atau material yang didifusikan meninggalkan daerah yang lama dan berpindah atau ditampung di daerah yang baru.
  4. Difusi jenis yang lain adalah difusi kaskade yaitu proses penjalaran atau penyebaran fenomena melalui beberapa tingkat atau hirarki. Difusi kaskade selalu dimulai dari tingkat atas dan kemudian menjalar ke tingkat bawah. Apabila proses penjalaran tersebut dimulai dari tingkat bawah maka difusi tersebut dinamakan difusi hirarki (hierarchic diffusion).
  5. Pada analisa Hagerstrand tentang difusi keruangan terdapat enam unsur, yaitu: daerah (area) atau lingkungan di mana proses difusi terjadi, waktu (time), item yang di-difusi-kan, tempat asal, tempat tujuan, dan jalur perpindahan.

 

Tes Formatif 3

 

Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar dari berbagai jawaban yang disediakan

  1. Data curah hujan pada dasarnya merupakan data ….. dilihat dari aspek keruangan?
  2. Hutan disuatu daerah luasnya 1000 hektar. Data ini menunjukkan suatu basis data:
    1. data titik
    2. data wilayah
    3. data sekunder
    4. data primer
  3. Di bawah ini adalah contoh dari data titik, kecuali:
  4. Contoh perubahan data titik menjadi data wilayah yang paling tepat adalah:
  5. Istilah lain yang kurang cocok dengan konsep difusi adalah:
  6. Proses di mana material atau informasi menjalar melaiui suatu populasi ke populasi lain dan dari suatu daerah ke daerah yang lain:
  7. Dalan kasus bencana alam, warga penduduk secara bersama-sama pindah tempat. Menurut teori difusi, jenisnya termasuk pada:
  8. Persebaran komputer awalanya hanya di perkotaan, satu tahun berikutnya tersebar di kota-kota kecamatan, dan tahun berikutnya baru sampai ke desa-desa. Kasus ini termasuk dalam jenis difusi:
    1. relokasi
    2. penampungan
    3. ekaspansi
    4. kaskade
  9. Sutua saat tersebar kadar bahwa di desa A terjadi kasus pemerkosaan. Awalnya hanya ramai dibicarakan di tingkat desa. Kasusnya semakin ramai sampai semua penduduk di kecamatan tersebut mengetahunya. Ternyata dalam 1 minggu kasusnya menjadi isu nasional.
  10. Di bawah ini adalah bukan unsur difusi:
    1. waktu (time)
    2. item yang di-difusi-kan.
    3. tempat asal
    4. cara berpindah
  1. data titik
  2. data wilayah
  3. data sekunder
  4. data primer
  1. ketinggian tempat,
  2. data sampel batuan,
  3. data sampel tanah
  4. data daerah perkebunan
  1. hasil pengukuran luas hutan
  2. sampel jenis tanah yang di petakan
  3. luas Daerah Aliran Sungai
  4. Kasus gagal panen di daerah pertanian
  1. pemencaran,
  2. penyebaran,
  3. penjalaran
  4. perjalanan
  1. ekaspansi
  2. penampungan
  3. relokasi
  4. kaskade
  1. relokasi
  2. penampungan
  3. ekaspansi
  4. kaskade
  1. difusi pembaharuan
  2. difusi kaskade
  3. difusi hirarki
  4. difusi top down

 

Umpan Balik

Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban Tes Formatif yang terdapat pada bagian akhir modul ini, dan hitunglah jawaban Anda yang benar. Kemudian gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda dalam bahan belajar mandiri 1 ini.

 

Rumus:

 

                                   Jumlah jawaban Anda yang benar

Tingkat penguasaan = —————————————- X 100%

                                                        10

 

 

 

Arti tingkat penguasaan yang anda capai:

90% – 100%         = baik sekali

80% – 89%            = baik

70% – 79%            = cukup

        –  69%            = kurang

 

Berapakah nilai penguasaan Anda terhadap materi ini? Bila Anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat dinyakatan lulus LULUS dan diperslakan untuk melangkah ke modul berikutnya. Tetapi bila tingkat penguasaan Anda kurang dari 80 %, Anda harus mempelajari kembali Kegiatan Belajar 3 kembali, terutama pada bagian yang belum Anda ketahui. Rileks saja tetap tentu saja perlu kesungguhan agar Anda cepat berhasil. Penulis berharap terus agar Anda Sukses!

 

 

KUNCI JAWABAN

 

 

Tes formatif 1

  1. B
  2. C
  3. B
  4. C
  5. D
  6. A
  7. B
  8. A
  9. A
  10. D

 

Tes formatif 2

  1. D
  2. C
  3. A
  4. B
  5. C
  6. D
  7. B
  8. B
  9. C
  10. A

 

Tes formatif 3

  1. A
  2. A
  3. D
  4. B
  5. D
  6. A
  7. B
  8. D
  9. C
  10. D

 

GLOSARIUM

 

Analisis tetangga terdekat adalah metode yang dikembangkan oleh P.J. Clark dan F.C. Evans (Sumaatmadja, 1981). Dalam geografi dapat digunakan untuk mengadakan evaluasi pola-pola permukiman, penyebaran sumber daya alam seperti penyebaran endapan batu bara, bijih logam, batu kapur, jenis vegetasi, dan lain-lain. Hasil analisis tetangga terdekat kita dapat mengetahui perbedaan pola persebaran antara ruang yang satu dengan ruang lainnya.

core of city merupakan pusat dari kegiatan ekonomi, kegiatan politik, kegiatan pendidikan, kegiatan pemerintahan, kegiatan kebudayaan dan kegiatan-kegiatan lainnya. Oleh karena itu daerah seperti ini dinamakan Pusat Daerah Kegiatan (PDK) atau Central Business Districts (CBD). PDK berkembang dari waktu ke waktu sehingga meluas ke arah daerah di luarnya. Daerah ini disebut Selaput Inti Kota (SIK).

Difusi adalah penjalaran. Dalam geografi, difusi mempunyai dua arti yang berbeda. Pertama, difusi ekspansi (expansion diffusion) yaitu suatu proses di mana material atau informasi menjalar melaiui suatu populasi ke populasi lain dan dari suatu daerah ke daerah yang lain. Kedua, difusi penampungan (relocation diffusion). Jenis difusi ini merupakan proses yang sama dengan penyebaran keruangan di mana informasi atau material yang didifusikan meninggalkan daerah yang lama dan berpindah atau ditampung di daerah yang baru.

Kerapatan bruto bagi industri adalah ukuran yang meliputi bangunan gudang, tempat parkir, tempat bongkar muat, rel kereta api dan jalan di dalam kawasan pabrik, ruang terbuka (taman), ruang yang belum terpakai, dan sebagainya. Sedangkan kerapatan netto bagi industri adalah ukran yang hanya meliputi bangunan pabrik, gudang, tempat parkir dan tempat bongkar muat saja. Kedua ukuran ini digunakan untuk menganalisis penggunaan tanah yang sedang berlaku; untuk perencanaan, akan lebih mudah jika hanya digunakan kerapatan bruto yaitu untuk tanah yang kosong.

Pendekatan fungsional, yaiu suatu perencanaan yang memperhitungkan lokasi berbagai kegiatan ekonomi dan pengaturan secara ruang dari sistem perkotaan mengenai berbagai pusat dan jaringan. Dalam perencanaan akan dikembangkan model-model perencanaan seperti model gravitasi, analisis masukan-keluaran, pusat pertumbuhan, dan lain-lain. Perluasan wilayah fungsional memperhitungkan dan mengambil manfaat dari keadaan wilayah lain yang berbatasan dalam interaksi dan memenuhi kebutuhan yang tidak dimiliki oleh masing-masing wilayah bersangkutan.

Pendekatan teritorial merupakan perencanaan wilayah macam ini memperhitungkan mobilisasi terpadu dari semua sumberdaya manusia dan sumberdaya alam dari suatu wilayah tertentu  yang dicirikan oleh perkembangan sejarahnya. Sejarah dijadikan salah satu faktor yang mengikat antar anggota masyarakat sehingga membentuk wilayah terirorial tertentu. Perencanaan wilayah teritorial atau formal diarahkan untuk peningkatan perkembangan untuk melayani aspirasi dan kebutuhan masyarakat yang berada di dalamnya. Perluasan wilayah dalam pengembangan wilayah formal akan dibatasi oleh batas wilayah lain yang berbatasan.

Region, adalah wilayah yang memliki ciri-ciri yang relatif sama tersebut misalnya seragam dalam hal keadaan fisik permukaannya, kebudayaan masyarakatnya mempunyai ciri yang khas, dan ruang tersebut menunjukkan suatu sistem kehidupan dalam keterikatan yang kentara.

ruang (space) yang merupakan lapisan biosfer (lapisan hidup), tempat hidup tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia. Tinggi ruang permukaan bumi setinggi lapisan atmosfer, dan kedalaman permukaan bumi adalah sebatas tempat yang memungkinkan hewan dan tumbuhan hidup di dalamnya.

Segitiga  Weber adalah teori lokasi industri. Dalam mengembangkan teorinya menggunakan segitiga bobot yang sudut-sudutnya menunjukkan perbandingan bobot material-material yang diangkut.  Ahli teori lokasi ini menggunakan tiga faktor atau variabel penentu dalam analisa teorinya, yaitu titik material bahan baku, titik konsumen dan titik tenaga kerja. Ketiga faktor tersebut diukur dengan ekuivalensi ongkos transport. Segitiga weber ini menunjukkan M (market atau pasar), R1 dan R2 merupakan lokasi bahan mentah yang bersumber dari lokasi satu dan dua. Adanya dua lokasi bahan baku (R1 dan R2) karena umumya setiap industri terdiri dari dua atau lebih sumber bahan baku.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bintarto, R dan Hadisumarno, S. 1987. Metode Analisa Geografi. LP3ES. Jakarta.

Bintarto. 1989. Interaksi Desa-Kota dan Permasalahannya. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Daldjoeni. N. 1992. Geografi Baru. Alumni. Bandung

Marbun, M.A. 1982. Kamus Geografi. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Martopo, S. 1988. Pendidikan Geografi di dalam Konsorsium Sains dan Matematika. Lembar Ilmu Pengetahuan. IKIP Semarang.

Sumaatmadja, N. 1981. Studi Geografi Suatu Pendekatan dan Analisa Keruangan. Penerbit Alumni. Bandung.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: