laporan praktikum Bali

Published Mei 4, 2012 by purplenitadyah

  1. 1.      Mata Kuliah : STUDI MASYARAKAT INDONESIA

Identifikasi adat istiadat yang masih di lestarikan atau di sakralkan dan larangan-larangan yang tidak boleh dilakukan pada masyarakat Bali.

Masyarakat dan Pemerintah Daerah Bali telah menetapkan bahwa pariwisata yang dikembangkan di daerah Bali adalah Pariwisata Budaya, Pariwisata Budaya, sebagai berikut:
“Pariwisata Budaya adalah jenis kepariwisataan yang dalam perkembangan dan pengembangannya menggunakan kebudayaan daerah Bali yang dijiwai oleh agama Hindu yang merupakan bagian dari kebudayaan nasional sebagai potensi dasar yang paling dominan, yang di dalamnya tersirat satu cita-cita akan adanya hubungan timbal balik antara pariwisata dengan kebudayaan, sehingga keduanya meningkat secara serasi, selaras dan seimbang. Adat istiadat yang masih di jaga dan di lestarikan oleh masyarakat Bali adalah Desa adat, kesenian berupa tarian-tarian Bali yaitu tari kecak, tarin Barong, tari pendet, yang masih di lestarikan oleh masyarakat Bali sampai saat ini dan di jadikan sebagai objek pariwisata budaya.  kepercayaan agama yang sangat kental dengan aktivitas ritual menyembah dewa yang di lakukan setiap hari sebanyak 3 kali sehari selalu menyuguhkan sesaji untuk di persembahkan kepada para dewa yang di letakkan di setiap pojok rumah, penggunaan kain yang bercorak kotak hitam dan putih yang di ikatkan pada pohon-pohon besar,dan upacara kematian Ngaben, tradisi potong gigi.

Desa adat Bali mempunyai peranan yang strategis dalam pengembangan pariwisata budaya. semua orang memaklumi bahwa daya tarik Bali terhadap wisatawan, tidaklah semata karena keindahan alamnya, lebih dari pada itu adalah budayanya yang dijiwai oleh agama Hindu. Dengan memantapkan peranan, fungsi,dan wewenang Desa adat, maka sesungguhnya semua aspek budaya yang didukung oleh masyarakat Bali akan menjadi daya tarik kepariwisataan yang bila dipelihara dan dikembangkan dengan baik akan menjamin kalangsungan kehidupan pariwisata (sustainable tourism) di daerah ini. Dalam Desa adat berkembang seni budaya, kehidupan masyarakat yang sejahtra, pengamalan ajaran agama dalam prilaku dan aktivitas ritual agama yang senantiasa akan menarik wisatawan sepanjang masa. Di samping itu Desa adat berperanan pula dalam pengembangan kawasan wisata, mengawasi penyalah gunaan simbol-simbol keagamaan dan juga berperanan dalam mencegah pendatang liar yang masuk ke Bali, utamanya di wilayah palemahan Desa adat di Bali.

Ngaben adalah suatu upacara pembakaran mayat yang dilakukan umat Hindu di Bali, upacara ini dilakukan untuk menyucian roh leluhur orang sudah wafat menuju ketempat peristirahatan terakhir dengan cara melakukan pembakaran jenazah. Dalam diri manusia mempunyai beberapa unsur, dan semua ini digerakan oleh nyawa/roh yang diberikan Sang Pencipta. Saat manusia meninggal, yang ditinggalkan hanya jasad kasarnya saja, sedangkan roh masih ada dan terus kekal sampai akhir jaman. Di saat itu upacara Ngaben ini terjadi sebagai proses penyucian roh saat meninggalkan badan kasar. Kata Ngaben sendiri mempunyai pengertian bekal atau abu yang semua tujuannya mengarah tentang adanya pelepasan terakhir kehidupan manusia. Dalam ajaran Hindu Dewa Brahma mempunyai beberapa ujud selain sebagai Dewa Pencipta Dewa Brahma dipercaya juga mempunyai ujud sebagai Dewa Api. Jadi upacara Ngaben sendiri adalah proses penyucian roh dengan cara dibakar menggunakan api agar bisa dapat kembali ke sang pencipta, api penjelmaan dari Dewa Brahma bisa membakar semua kekotoran yang melekat pada jasad dan roh orang yang telah meningggal.

Kain  saput poleng (kain kotak hitam putih) di Bali, Kain bercorak kotak-kotak persegi dengan warna hitam-putih yang satu ini, sudah sangat akrab di mata masyarakat Bali dan orang yang sering berkunjung ke Bali termasuk turis mancanegara. Dengan mudah bisa ditemukan di setiap sudut tempat di Bali dan kawasan wisata lainnya di Indonesia di pura, di patung-patung, di bangunan-bangunan, bahkan dipakai sebagai busana dalam acara khusus. Bagi orang Bali, kain yang disebut “saput poleng” memiliki fungsi kusus. Memiliki nilai istimewa. Ada makna filosofis pada kain ini.Jika diartikan begitu saja, dalam bahasa Bali ‘saput’ artinya selimut, dan ‘poleng’ artinya belang. Tentu, selimut belang bisa dari daerah mana saja. Tetapi yang bercorak kotak-kotak hitam-putih [mirip papan catur] ini sudah pasti khas dari Bali. Bisa dikatakan: begitu melihat kain kotak-kotak hitam-putih persegi ini, orang langsung berpikir “Bali”.

Bali, hampir dalam setiap denyut kehidupannya diisi oleh kegiatan adat. Nah, dalam kontek adat di Bali, ‘saput’ juga bermakna busana, yang dalam bahasa Bali halusnya disebut ‘wastra’.  Sehingga ‘saput poleng’ diartikan sebagai ‘busana bercorak kotak persegi warna hitam-putih yang dipergunakan secara khusus’.

Dalam konteks yang lebih luas lagi, masyarakat Bali meyakini bahwa dalam setiap ruang kehidupan di keluarga, lingkungan, dan negara selalu ada perbedaan, dan itu adalah keniscayaan yang tidak seharusnya dihindari (apalagi dibenci), melainkan dihadapi dan disikapi dengan bijak. Menerima segala bentuk perbedaan (apapun itu) sebagai sesuatu yang wajar. Menganggap perbedaan sebagai sesuatu yang memperkaya, saling mengisi-dan-melengkapi, sehingga terbentuk kehidupan yang harmonis.

Tradisi potong gigi pada masyarakat Bali, Salah satu upacara keagamaan yang menjadi tradisi masyarakat Bali sampai saat ini, yaitu tradisi potong gigi (biasanya orang Bali menyebutnya dengan metatah atau mapandes atau masangih). Tradisi ini wajib dilakukan oleh seluruh masyarakat Hindu di Bali baik itu laki-laki maupun perempuan agar pada saat meninggal dunia, seseorang bisa bertemu dengan leluhurnya di surga. Dalam praktek sebenarnya, potong gigi bukan berarti gigi dipotong hingga habis, melainkan hanya merapikan atau mengikir enam gigi pada rahang atas, yaitu empat gigi seri dan dua taring kiri dan kanan yang dipercaya untuk menghilangkan enam sifat buruk yang melekat pada diri seseorang, yaitu kama (hawa nafsu), loba (tamak), krodha (amarah), mada (mabuk), moha (bingung), dan matsarya (iri hati atau dengki). Keenam sifat buruk tersebut biasanya disebut dengan sad ripu. Biasanya tradisi potong gigi ini digelar saat anak laki-laki ataupun perempuan sudah menginjak usia dewasa yang ditandai dengan datangnya menstruasi untuk perempuan dan membesarnya suara untuk laki-laki.

Dalam kepercayaan masyarakat Bali, upacara adat metatah bertujuan membunuh enam musuh dalam diri manusia yang dinggap kurang baik bahkan sering dianggap sebagai musuh dalam diri sendiri. Enam  musuh itu yang disebut dengan Sad Ripu. Meliputi:

  1. Kama (hawa nafsu yang tidak terkendalikan)
  2. Loba (ketamakan, ingin selalu mendapatkan yang lebih)
  3. Krodha (marah yang melampaui batas dan tidak terkendalikan)
  4. Mada (mabuk yang membawa kegelapan pikiran)
  5. Moha (kebingungan dan kurang mampu berkonsentrasi sehingga seseorang tidak dapat menyelesaikan tugas  dengan sempurna)
  6. Matsarya (iri hati atau dengki yang menyebabkan permusuhan)

Larangan-larangan yang ada pada masyarakat Bali.

  1. Larangan masuki PURA atau tempat-tempat suci lainnya.

Wanita datang bulan tergolong mengalami salah satu “Cuntaka” dari Catur Cuntaka. Cuntaka artinya kotor, dalam bahasa Bali “leteh”. Menurut tradisi yang tergolong Catur Cuntaka adalah :

  • Wanita sedang datang bulan.
  • Kematian yang masih dalam masa cuntaka. Masa cuntaka di tiap-tiap daerah berbeda-beda, sesuai dengan keputusan rapat adat.
  • Ibu yang melahirkan serta bayi yang masa cuntakanya belum berakhir (masa nifas).
  • Pengantin baru yang masih dalam masa cuntaka.

Mereka tersebut dilarang memasuki pura karena mencemari kesucian pura. Bila dilanggar hukumannya adalah hukuman spiritual dan bila diketahui oleh masyarakat, yang bersangkutan diwajibkan mengadakan upacara “pecaruan” (upacara penyucian) dan menghaturkan sesajen di pura tersebut.

  1. Selain bentuk upacara, ada beberapa mitos (larangan) makanan bagi wanita hamil, seperti tidak dibolehkan makan daging ayam karena ayam sering berkelahi dengan sesamanya. Hal ini mengandung makna bila si ibu suka makan daging ayam, maka akan mempengaruhi jiwa anak yang nantinya juga akan suka berkelahi. Dalam perkembangan selanjutnya bahkan dianjurkan agar si ibu tidak memakan daging dan semua makhluk yang bernyawa, tetapi hanya dibolehkan makan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
  2. Larangan lainnya yang perlu diindahkan antara lain tertuang dalam transkripsi Lontar Arda Semara, yaitu larangan-larangan/pantangan-pantangan bahwa orang hamil tidak boleh sering-sering tidur, tidak boleh menyembah mayat, tidak boleh diberi kata-kata kasar, tidak boleh didatangi atau mendatangi orang yang sedang melangsungkan pernikahan, tidak boleh berkumpul dengan laki-laki lain, tidak boleh mengucapkan kata-kata kasar (wakcapala), mencela orang cacat fisik, mencaci maki (wakparusya) atau melihat orang menyembelih binatang (ahimsa karma) apabila binatang dalam keadaan menggelepar-gelepar saat disembelih sebab semuanya itu akan mempengaruhi janin yang sedang dikandung. Selain itu ibu harus selalu bersih dalam penampilan dan menjaga kesehatan, rajin membaca hal-hal yang menyokong pengetahuan tentang kehamilan, tidak dibenarkan ribut/berkelahi dengan suami, banyak mendengar nasihat dari lagu-lagu yang mencerminkan tata susila dan pemujaan (kerohanian), tidak menonton film yang membuat tegang, dan sebagainya.
  3. orang yang hamil tidak boleh potong gigi (matatah/mesangih), si suami dilarang potong rambut sebagai tanda kecintaan dan kesetiaannya terhadap istri, tidak dibenarkan pula mencela orang cacat jasmanis dan mental, tidak mengeluarkan kata-kata yang dapat menyakitkan hati, dapat memenuhi perasaan istri, dilarang membangun rumah dan temakuh, suami harus hormat pada istri yang berarti pula hormat pada bayi yang sedang dikandung dan sebagainya.
  1. 2.      Mata Kuliah: KAJIAN MODAL SOSIAL

Identifikasi modal sosial seperti apa yang di miliki masyarakat Bali sehingga menjadi maju.

Beberapa upaya pengentasan kemiskinan terkadang terbatas pada penguatan modal finansial seperti bantuan keuangan ataupun modal manusia seperti penguatan pengetahuan maupun ketrampilan. Padahal modal sosial juga merupakan faktor penting dalam penguatan kemampuan masyarakat miskin dalam meningkatkan taraf  hidupnya.

Untuk Provinsi Bali sendiri, sektor informal mengambil peran lebih dari 50%. Jika gambaran tenaga kerja ini dianggap mencerminkan kehidupan ekonomi secara keseluruhan maka kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang tidak formal mengambil bagian yang cukup besar.

Yang paling berbahaya adalah apabila kehidupan masyarakat tersebut juga bukan menjadi bagian dari sesuatu yang formal. Konsekuensinya adalah segala aktivitas masyarakat atau individu tersebut menjadi tidak formal dan tidak mempunyai kesempatan untuk mengakses fasilitas-fasilitas yang sifatnya formal. Pada tataran praktis, contoh-contoh seperti tidak dilayaninya orang miskin oleh sebuah rumah sakit, tidak ada kesempatan mengenyam pendidikan sekolah merupakan fenomena yang terjadi akibat tidak formalnya orang atau individu tersebut. Upaya komperhensif bagi pengentasan kemiskinan di Bali khususnya dan di Indonesia pada umumnya diperkuat melalui peningkatan modal finansial, modal manusia yang dilandasi oleh modal sosial. Apabila upaya ini ternyata tetap tidak mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat miskin, harapannya adalah bahwa kegagalan tersebut bukan disebabkan oleh pengambilan kebijakan yang salah namun mudah-mudahan disebabkan oleh keengganan individu tersebut untuk lepas dari jerat kemiskinan.

Dalam upaya mengentaskan kemiskinan diprovinsi Bali, pemerintah setempat melibatkan masyarakat miskin dalam hal kepariwisataan, mereka di bekali dengan skill bahasa asing, sehingga pemerintah kepariwisataan di Bali hanya memperkrjakan masyarakat lokal saja. Dengan demikian masyarakat sendiri selain mendapatkan skill berbahasa, mereka juga mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kehidupan sehari. Pemerintah Bali juga membuat koperasi, yang dapat menampung kreativitas dari masyarakat itu sendiri, selain itu dengan kebudayaan Bali yang di ajarkan oleh nenek moyangnya secara turun temurun, masyarakat menjaga kelestarian kesenian Bali yaitu seperti kerajinan seni pahat patung, seni melukis, dan seni tari (tari pendet, tari kecak dan tari pendet), banyak para wisatawan asing yang dtang ke Bali karena keunikan kebudayaannya. Bali juga di kenal sebagai daerah yang agraris, yang dapat menopang kebutuhan pangan di setiap daerahnya. Adanya desa adat di Bali yang menunjang kehidupan masyarakat sekitarnya, yang dapat di jadikan salah satu objek tujuan wisata.

  1. 3.      Mata Kuliah : PATOLOGI SOSIAL

Masalah- masalah sosial yang terjadi pada masyarakat Bali

Di balik pesona pariwisata dan budaya, Pulau Bali menyimpan beragam masalah. Tak hanya soal keamanan, dalam bayang-bayang aksi teror, konflik sosial di Pulau Dewata juga jadi ancaman. Terutama konflik berbau adat.  di  masyarakat yang sampai melibatkan lembaga adat dan permasalahan sosial yang diakibatkan permasalahan penduduk pendatang. Semangat masyarakat untuk mengajegkan budaya Bali tampaknya masih perlu terus ditingkatkan. Ini akibatkan terjadinya pergeseran mental masyarakat sehingga memunculkan gesekan-gesekan antar-komponen masyarakat.  Bukti terjadinya pergeseran mental masyarakat terlihat dari adanya kasus bentrok antar-desa atau antar-banjar. Bentrok antar-masyarakat Bali menunjukkan ada kepentingan masyarakat yang tidak tercapai. Permasalahan adat ini mesti diselesaikan secara damai sehingga adat dan budaya Bali tidak makin tercoreng dengan kasus adat tersebut.

Tingginya kedatangan penduduk pendatang ke Bali sangat sensitif memunculkan permasalahan sosial. Bali yang bergelimang dolar akibat perkembangan pariwisata memancing datangnya penduduk pendatang dari luar Bali. Sebagai bagian NKRI, Bali tentunya tidak bisa menolak kedatangan penduduk pendatang.  akibat ketenaran pariwisata Bali banyak investor yang menanamkan modal pada sektor pariwisata Bali. Pariwisata Bali ibarat madu, investor yang menanamkan modalnya di Bali bisa diibaratkan sebagai tawon yang ingin mengambil madu tersebut.  Akibat desakan kepentingan pariwisata, banyak lahan yang dieksploitasi untuk kepentingan sarana pariwisata seperti akomodasi. Peningkatan investasi di sektor pariwisata tidak diimbangi dengan pelestarian budaya Bali.  Pembangunan pariwisata Bali mesti tetap didasarkan pada falsafah budaya Bali. Salah satu contoh pembangunan sarana pariwisata mesti tetap mengacu pada filsafat Asta Kosala – Kosali.

Banyak permaslahan social di masyrakat Bali, karena Bali merupakan salah satu tempat tujuan wisata bagi para turis asing yang datang. Sehingga tampak adanya masalah-masalh social yang ditimbulkan oleh para turis ini, yaitu banyaknya penyimpangan- penyimpangan social di masyarakat Bali akibat pengaruh budaya barat, meningkatnya angka seks bebas, peredaran narkotika dan sejenisnya, banyak di bangunnya tempat hiburan-hiburan malam seperti diskotik-diskotik yang menggelar pesta miras. Banyak  terjadi penyimpangan seks, seperti homo seksual, lesbian, mereka tidak malu melakukannya di tempat umum, seolah-olah sudah menjadi hal yang sangat biasa di lakukan pada tempat umum. Perbuatan seperti ini jelas melanggar adat istiadat dan kebudayaan  pada masyarakat Bali. Adat istiadat pada masyarakat Bali di kenal sangat taat dan patuh pada  aturan-aturan adat dan norma yang berlaku di masyrakat Bali, sehingga jika di langgar akan mendapatkan hukuman, di lihat dari pelanggaran yang mereka perbuat

 

  1. 4.      Mata Kuliah :   BELAJAR DAN PEMBELAJARAN IPS

Pembelajaran apa yang dapat di ambil dari mayarakat Bali.

Pembelajaran yang dapat di ambil dari kehidupan masyarakat Bali adalah bahwa masyarakat Bali sangat menjaga tradisi kebudayaannya dan selalu memegang adat istiadat yang di berikan nenek moyangnya secar turun temurun. Pada masyarakat Bali banyak terjadinya akulturasi budaya barat yang di bawaoleh wisatawan asing yang datang berkunjung. Walaupun turis asing banyak memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap adat istiadat masyarakat Bali, tetapi  masyarakat Bali masih erat memegang tradisinya. Masyarakat Bali juga mampu beradaptasi dengan para wisatawan asing dan mampu berkomunikasi dengan para turis menggunakan bahasa asing. Mengapa bisa begitu?? Sebab masyarakat di Bali mempunyai rasa daya saing yang tinggi, mereka mampu bangkit dari kebodohan, hampir semua masyarakatnya mampu menguasai 3 bahasa asing. Dan paelajaran lainnya yang dapat di terapkan dalam pembelajaran adalah bahwa masyarakat Bali itu sangat taat dan displin terhadap norma-norma dan peraturan yang ada, baik itu peraturan adat, maupun peraturan pemerintah.

keterampilan sosial pada masyarakat Bali sehingga menjadi maju karena masyarakat Bali sangat taat dan patuh terhadap adat istiadat dan norma-norma adat yang mengatur kehidupannya. Masyarakat Bali merupakan masyarakat yang terbuka terhadap kebudayaan luar, tetapi tidak menghilangkan budaya asal atau leluhurnya. Sehingga dengan keterbukaan itu masyarakat Bali mampu beradaptasi dengan  orang asing, seperti berkomunikasi dengan bahasa asing, mampu menjaga adat istiadat leluhurnya. Selalu bergotong royong dengan sesama warga masyarakat, mentaati semua peraturan dan norma yang berlaku di masyarakat tersebut. Menjaga dan melestarikan hutan dan lingkungan, dengan selalu menjaga kebersihan lingkungan sekitar, menjaga kerukunan antar umat yang berbeda agama.

Keterampilan sosial lainnya yang di miliki masyarakat Bali adalah keterampilan membenahi daerahnya menjadi daerah wisata yang banyak di kunjungi oleh para turis asing dan lokal. Seperti mempertahankan kebudayan leluhur dan di jadikan objek wisata, seperti adanya desa adat, Pura yang menjadi tempat ibadah masyarakat Hindu, yang di dalamnya banyak menimpan nilai religius dan aturan-taruan adat yang mengikat.

 

  1. 5.      Mata kuliah : kajian kemiskinan dan kriminalitas.

Apakah pembagian kasta diBali menjadi salah satu faktor kemiskinan dan apakah kaum Sudra di Bali selalu miskin?

Dengan permasalahan dan tantangan yang sangat berat, beberapa kebijakan dan strategi percepatan penanggulangan kemiskinan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Bali diarahkan pada (1) mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin; (2) meningkatkan kemampuan dan pendapatan masyarakat miskin; (3) mengembangkan dan menjamin keberlanjutan usaha mikro dan kecil; dan (4) mensinergikan kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan.

Mengacu pada penjelasan diatas, bahwa tingkat kemiskinan didaerah Bali sudah dapat di kurangi, melihat jika propinsi Bali merupakan daerah pariwisata yang banyak di kunjungi oleh turis-turis asing. Sehingga pemberdayaan masyarakat miskin dapat di lakukan dengan mengikutsertakan masyarakat dari kaum sudra  di libatkan dalam kegiatan pariwisata, dengan di bekali bimbingan bahasa-bahasa asing, dan meningkatkatkan skill pengetahuan tentang kebudayan dan pariwisata di Bali.

Istilah pengkastaan di Bali merupakan penggolongan status sosial masyarakat yang menganut agama Hindu, yang di berikan secara turun temurun dari generasi ke generasi selanjutnya. Pembagian kasta di Bali merupakan salah satu objek wisata terkenal bukan hanya di Indonesia tapi juga di dunia , masyarakat Bali sangat memegang teguh tradisi dan budaya yang mereka anut, Dewa Brahma , Wisnu dan Siwa adalah Dewa yang mereka puja (Tri Murti), masyarakat Hindu di Bali juga mengenal sistem kasta . yang mana kasta tersebut terdiri dari empat bagian yaitu :

Kasta Brahmana : Kasta ini terdiri dari golongan pendeta agung , ciri khas nama yang digunakan pada kasta ini adalah Ida Bagus ( laki-laki) atau Ida Ayu ( perempuan)
Kasta Kesatria : Kasta ini terdiri dari golongan Raja , ciri khas nama yang di gunakan pada kasta ini adalah Anak Agung(laki-laki) atau Anak Agung Ayu( Perempuan )
Kasta Weisya : Kasta ini terdiri dari golongan Pedagang , ciri khas nama yang digunakan dalam kasta ini adalah I Gusti ( laki-laki ) atau I Gusti Ayu ( Perempuan )
Kasta Sudra : Kasta yang terdiri dari rakyat biasa .Ciri khas nama yang di gunakan adalah I putu , I made , I Nyoman , I Ketut .masyarakat Bali asli bernama masyarakat Bali Aga .

Oleh karena itu pada zaman dulu kaum sudra di Bali banyak dianggap sebagai masyarakat yang tidak mempunyai skill apa-apa,dan hanya sebagai kaum yang rendah. Tetapi pada masa sekarang ini berbeda pemahamnnya, kaum sudra pada saat ini adalah kaum sudra dapat menjadi kaum yang sejajar dengan kasta-kasta tinggi lainnya. jika seorang kaum sudra ini mampu mempunyai skill dan kemampuan yang tinggi maka kaum sudra ini dapat mengubah kehidupannya menjadi lebih baik, seperti menjadi polisi,pegawai, pengusaha, doktor dll. Maka kaum sudra akan di anggap dan di hargai keberadaanya oleh kasta-kasta yang lainnya, dan dapat bekerja sama dengan kasta-kasta yang lainnya, atau membantu tugas-tugas kasta  yang lebih tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

  • sumber dari , I WAYAN SUTAMA (tour guide pada saat praktikum)
  • Pengamatan langsung terhadap kehidupan masyarakat Bali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: